Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 56. Sendi Kambuh


__ADS_3

Tampilan wanita dengan sepatu berhak standar tak membuat Sendi bergeming dari tatapan laptonya. Tangan besar itu terus dengan lancar menari-nari lincah di atas keyboard laptop kerjanya.


Langkah demi langkah kini mengantarkan wanita itu berdiri tepat di punggung Sendi. Ia tampak bersedekap.


"Sendi," panggilnya seraya melepas heandset yang menempel di teling Sendi sedari tadi.


Sontak Sendi menoleh ke belakang. "Dina!" ucapnya sudah bersuara meninggi.


"Apa begini caramu, Sen? Ayah macam apa kamu? tega membiarkan istrimu membawa perut buncitnya kemana-mana seorang diri? hah!" Dina sudah begitu emosi melihat sang suami yang sama sekali tidak menganggapnya ada selama ini. Terlebih pada sang anak yang ada di dalam rahimnya.


Sendi menatap benci pada perut yang masih tidak begitu terlihat. Matanya memerah melihat kehadiran wanita yang sangat ia benci saat ini.


Dina pun yang sedari tadi marah-marah mendadak ciut melihat aura gelap dari sang suami. Padahal harapannya saat berbicara lantang ingin membuat Sendi tersadar siapa dirinya.


Sendi tetaplah Sendi yang seperti biasa, tidak akan ada wanita mana pun yang membuatnya berubah terkecuali Ruth. Namun, berbeda kali ini. Ruth sekali pun tidak akan ia dengarkan. Semua sudah berbeda jalannya. Ia tidak bisa lagi luluh dengan perkataan wanita itu.


"Sendi, mau apa kamu?" Dina gelagapan melihat Sendi yang menatapnya tajam, bergerak melangkah hingga keduanya saling berhadapan. Dina terus melangkah mundur menjauhi tubuh sang suami, namun Sendi semakin maju mendekatinya.


"Apa katamu? Ayah?" Sendi berucap begitu menekan setiap kata-katanya. Bahkan seluruh giginya terdengar saling bergemerutuk menahan emosi.

__ADS_1


"Hah! Ayah? Katakan! Apa benar aku ayah dari anak itu?"


"Hiks...hiks...hiks." Dina menangis memejamkan matanya. Sakit rasanya kala Sendi mencengkeram kuat rahang miliknya.


"Sendi," tutur Dina menangis sembari mengerucutkan bibirnya karena tertekan cengkaraman kuat sang suami.


Plak! Plak!


"Awh...hiks hiks hiks." Dua tamparan jelas menggema di ruangan apartemen sosok Sendi saat itu. Dina menangis hingga tersungkur saat mendapatkan tamparan kedua kalinya.


Matanya ketakutan melihat Sendi kembali mendekatinya dan membungkuk. Dina masih menengadah menatap sang suami sembari memegangi pipinya.


"Aku tanya sekali lagi! Siapa ayah dari anak itu, Dina?!" pekiknya menggetarkan wajahnya yang menahan layangan tangan itu karena begitu kesalnya.


Dina menggeleng cepat sembari menangis ketakutan. "Sendi, kamu. Kamu adalah ayahnya. Apa mak-sudmu?" tuturnya tetap berusaha menyangkal.


"Cih! Kau pikir aku pria bodoh? Pergi dari sini atau ku keluarkan paksa janin itu sekarang juga!"


Dina susah payah meneguk salivahnya yang terasa keras seperti batu. Ia bergegas keluar dengan langkah tertatih-tatih.

__ADS_1


Sendi benar-benar tidak akan terperdaya dengan kehamilannya saat ini. Di luar apartemen, Dina menyenderkan tubuhnya pada dinding tembok. Lorong yang sepi itu memberinya kesempatan untuk melampiaskan tangisannya.


Brak!!


Dina sampai terkejut mendengar pintu yang di hempaskan begitu kasar. Tentu itu adalah apartement yang baru saja ia masuki. Sendi menutupnya dengan kaki jenjangnya.


"Cih. Aku tidak sebodoh itu, Dina. Kalian benar-benar telah memperdayaku selama ini. Bahkan tubuhku kalian jadikan robot." Sendi tersenyum menyeringai.


Ia merebahkan tubuhnya yang penuh dengan aura panas saat itu. Sejenak matanya menatap langit-langit kamar tersebut. Keningnya seketika mengerut.


"Aku bukan anak dari Ayah?" lirihnya menyadari suatu hal.


Yah tentu saja, kemarahan Sendi yang membabi buta barusan pada sang istri lantaran ia sadar jika selama ini dirinya tengah di manfaatkan oleh keluarga Deni Salim Perdana. Bahkan ia mendengar dengan jelas dan melihat segala bukti tentang dirinya yang nikahkan dengan Dina lantaran wanita itu adalah anak kandung yang sesungguhnya keluarga tersebut. Bukan dirinya.


"Aku bukan anaknya? Dina anak mereka?" Sendi terus menimbang-nimbang ingatannya saat di persidangan.


"Kak Berson. Aku adikmu. Bagaimana bisa kau tidak mempercayaiku?"


"Kak, aku Shandy Cyntia, Kak. Kita adik kakak."

__ADS_1


Ucapan demi ucapan wanita yang menjadi pemilik hatinya kembali terngiang di benaknya. "Arghhh Sakit! Sendi merasakan sakit kembali di kepalanya saat berusaha mengingat apa yang muncul di pikirannya.


__ADS_2