Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 133. Rumah untuk Ayah dan Bunda


__ADS_3

Usai berhasil keluar dari kerumunan para pengejar berita, kini akhirnya Dava bisa bernapas lega di dalam mobil bersama kedua orangtuanya.


Tarisya yang sudah tampak jauh lebih sehat dari sebelumnya memperhatikan seluruh orang yang berada di luar mobil tengah mengetuk-ngetuk pintu mobil.


"Nak, kenapa kau tidak membiarkan mereka meliput kita? Setidaknya bisa di jadikan pelajaran bagi orang-orang jahat di luaran sana agar bertaubat." tuturnya dengan lemah lembut.


Dava melirik ke spion di depannya. Wajah ayu sang bunda terlhat jelas kala itu. "Bunda, ini lebih baik kita rahasiakan saja. Saya tidak ingin keluarga kita kembali menjadi perbincangan banyak orang dan terancam keselamatan kita lagi. Sampai saat ini kita tidak tahu apakah di luaran sana sudah benar-benar habis musuh Ayah?" terangnya sembari menyalakan mesin mobil dan melaju pergi dari tempat menyedihkan itu.


Tarisya yang mendengar penjelasan dari sang anak akhirnya menganggukkan kepalanya paham. Kini mereka pun menikmati perjalanan dengan keheningan. Di sebelah Tarisya ada sosok sang suami yang sama sekali tidak bersuara. Ia tampak menatap tubuh anaknya dari arah belakang.


"Anakku...kalian sudah besar-besar dan dewasa. Maafkan Ayah yang tidak bisa berada di sisi kalian sekian tahun ini. Maafkan Ayah yang tidak bisa menjadi ayah sepenuhnya untuk kalian." Ia menatap Dava dengan tatapan sedihnya.


Semua hanya karena sebuah harta, kebahagiaan satu keluarga hancur berantakan.


Melihat raut kesedihan sang suami, Tarisya pun segera menggenggam tangan sang saumi yang begitu lemah itu. Tubuhnya benar-benar jauh lebih buruk dari sang istri.


"Anak kita tumbuh dengan baik, Ayah. Ayah tidak perlu khawatir dan cemas yah? Sekarang tenangkan pikiran agar Ayah segera sembuh dan berbahagia bersama anak-anak kita." Ia tersenyum dan bertutur kata lembut pada sang suami.


Sementara Dava yang duduk di depan hanya terdiam mendengar penuturan kedua orangtuanya di belakangnya.


"Bagaimana hancurnya kalian jika mengetahui pernikahan kami, Bunda, Ayah?" Apakah kalian bisa menerima kenyataan itu?" Dava terus bertanya dalam hatinya.

__ADS_1


Kali ini ia sangat bingung mengatasi semua masalah ini sendirian. Beberapa saat berlalu, kini sampailah mereka di sebuah rumah yang begitu indah dan menyejukkan mata. Rumah minimalis namun terlihat begitu asri dengan segala macam bunga dan pepohonan di taman yang tidak begitu luas.


Senyuman di wajah Tarisya menghilang seketika. Ia tak paham rumah siapa yang mereka tuju kali ini. "Jeff, mengapa kita kemari? Ini rumah siapa? Apakah kalian sudah menjual rumah kita dulu?" rentetan pertanyaan pun ia lontarkan tanpa bisa sabar menunggu penjelasan sang anak.


Andai itu benar, ia sangat tidak keberatan. Kepergian kedua orangtua tentu akan membuat anak-anaknya kesusahan bertahan hidup. Dan menjual segala peninggalan tentu cara terbaik yang bisa mereka lakukan pada saat itu.


"Rumah kita..." Dava pun gugup ingin beralasan apa pada bundanya kali ini.


Kebohongan lain tertutup dengan kebohongan lainnya lagi. Tentu saja ia sangat lelah seperti ini, harus berbohong dengan setiap pertanyaan yang bundanya lontarkan padanya.


"Em itu Bunda, rumah kita saat ini sedang dalam pengawasan kepolisian. Jadi alangkah baiknya jika Ayah di rawat jalan di rumah ini bersama Bunda. Jeff akan menjenguk kalian setiap harinya. Dan satu lagi, jangan khawatir, Jeff akan terus memantau cctv yang sudah tersambung dengan ponsel ini, Bunda. Kalian akan aman." Ia menunjukkan ponsel miliknya pada sang bunda yang berada di belakangnya.


"Bunda dan Ayah sangat merasa sedih, Jeff. Kalian bahkan tumbuh dengan baik tanpa adanya kami sebagai orangtua kalian."


"Sudahlah, Bunda. Semuanya sudah selesai dengan baik. Sekarang waktunya kita menatap kehidupan bersama untuk ke depannya."


Mereka sampai di dalam rumah dengan wajah yang sangat canggung. Sekalipun mereka adalah keluarga, namun Tarisya merasa gugup jika ingin berdekatan dengan sang anak. Ada jarak yang memmbuat mereka tidak bisa sedekat anak dan orangtua.


"Ini kamar Ayah dan Bunda. Kalian bisa segera istirahat saat ini. Jeff harus segera ke kantor karena ada meeting hari ini yang Jeff tunda tadi pagi." terangnya kala melihat jam di tangannya.


Tarisya tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah, Nak. Segeralah kembali lagi bersama adik-adikmu. Bunda ingin segera berkumpul dengan mereka." mohonnya dengan wajah sendu.

__ADS_1


Dava terdiam saat mendengar kata 'bersama adik-adikmu.' Bagaimana mungkin ia membawa Ruth ikut bersamanya ke rumah ini? Tidak mungkin Dava membiarkan semua perjuangannya harus berantakan. Setidaknya delapan bulan lagi, yah delapan bulan. Dava membutuhkan waktu selama delapan bulan untuk melidungi sang istri dan juga calon bayinya dari tekanan masalah keluarga.


"Em, maafkan Shandy, Bunda. Ia belum bisa berkumpul bersama kita dalam waktu dekat. Perusahaan kita saat ini sedang mengutusnya ke luar negeri selama kurang lebih delapan bulan."


Batapa terkejutnya Tarisya saat mendengar alasan sang anak kali ini. "Apa? Delapaln  bulan? Jeff, kau tidak sedang bercanda pada Bunda, kan Nak?" Ia tidak percaya jika pertemuannya dengan sang anak harus tertunda selama itu.


"Tidak, Bunda. Itu benar. Perusahaan kita sedang membutuhkan banyak investor dari luar negeri. Itu sebabnya Shandy yang begitu ahli dalam bidang pemasaran. Sehingga kami memutuskan dialah yang akan pergi. Sedangakan Jeff dan Berson yang akan menghandle klien di Indonesia."


Ada gurat kekecewaan di mata sang Bunda, namun Dava tak bisa memperdulikan hal itu. Ia harus kuat dan tega demi nyawa sang anak dan kesehatan sang istri.


"Yasudah, Jeff. Pergilah ke kantor. Terimakasih telah menjaga adik-adikmu, Nak. Bunda bangga padamu. Hati-hati di jalan." Tarisya mengusap kepala tinggi sang anak yang hampir tak bisa ia jangkau.


Dava tersenyum dan membalas memegang tangan sang bunda. Ia mencium punggung tangan itu lalu berlalu pergi setelahnya.


"Om Sendi kemana cih? Inikan jam istilahatnya Putli. Huh dasal katanya mau pedekate sama Putli tapi ninggain telus. Ayah memang nggak ada duanya." Putri menggerutu kesal saat melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 10.00.


Jam istirahatnya sudah di mulai, bahkan perut buncitnya sudah terasa begitu lapar ingin segera di isi. Hari ini adalah hari perdana Sendi menemaninya di sekolah. Karena hari-hari biasanya Mbok Nan lah yang selalu setia bersamanya.


Bocah mungil itu tampak bersedekap di depan pintu kelasnya. Matanya melirik kesana kemari mencari sosok pria yang sangat menyebalkan baginya.


"Aduh...pelut Putli lapel banget ini...gimana kalau Putli pingsan gala-gala kelapalan?" wajahnya tampak berkeringat menahan rasa perih di perutnya.

__ADS_1


__ADS_2