Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 64. Godaan Suami


__ADS_3

Keras kepalanya seseorang terkadang bukan karena egois. Melainkan banyaknya pengalaman yang membuatnya enggan untuk menjadi lemah pendirian.


Seperti yang terjadi pada Putri saat ini, dulu ia begitu acuh dengan siapa pun pria yang dekat dengan sang Mamah. Namun karena pahitnya pengalaman yang ia dapatkan. Dimana Ruth terpaksa jauh darinya demi memilih Sendi yang menjanjikan kehidupan penuh cinta hingga kini membuat sosok bocah polos seperti Putri tidak ingin lagi menjadi orang yang lemah.


Bagaimana pun, ia harus bisa tumbuh dewasa dan menjaga sang Mamah. Terutama dari Sendi, pria yang ia rasa tidak cocok untuk sang Mamah.


"Putri, lihat mulutnya bau ayam goreng loh." Mbok Nan masih berusaha membujuknya dengan segala cara.


Putri menggeleng keras. "Mbok kali ini bialin Putli bobo di cini yah? Mbok ambilin Putli selimut aja." pintahnya dengan mencium-cium tangannya yang barusan ia gerakkan untuk mengusap pipinya.


Sedangkan dari arah dapur, Dava yang baru saja mengambilkan segelas air untuk sang istri mengernyitkan keningnya. Sepasang mata miliknya melirik ke setiap sudut rumah yang sudah sepi.


"Seperti ada orang berdebat? Siapa yah?" tanyanya terus melangkah mengikuti sumber suara yang ia dengar.


Di lihatnya dua wanita berbeda generasi itu tengah bertahan dengan pendirian mereka masing-masing. Sungguh lucu, hingga Dava sendiri menggelengkan kepala melihat betapa cerdasnya Putri di usianya yang hampir menginjak enam tahun.


"Ehem...ada apa sih ini peri kecilnya Paman?" Putri menatap pria tampan yang kini sudah berlutut mensejajarkan wajah mereka.

__ADS_1


Butiran nasi masih ada yang melengket di pipi cuby anak kecil itu. "Putli mau jaga Om Sendi, Pama. Tapi sama Mbok Nan nggak boleh." Putri mengadu dengan ekspresi sedih.


Dava meraih kedua pundak Putri. "Hei...dengar. Putri tidak perlu menjaga Om Sendi. Om Sendi akan baik-baik saja kok." Dava merasa Putri ternyata begitu perhatian dengan sang Paman.


Namun, belum sempat Dava melanjutkan ucapannya, Putri sudah menggelengkan kepala kuat. "Putli nggak peduli sama Om Sendi, Paman. Putli cuman nggak mau nanti Paman di ganggu pas lagi sayang-sayang Mamah di kamal." terangnya membuat mata Dava membulat sempurna mendengarnya.


Dava yang kehilangan akal akhinya memilih cara lain, karena di usia seperti Putri sangat sulit untuk di ajak berbicara yang absurd. Dava mengendus-endus wajah mungil itu.


"Hem...Putri bau ayam. Nanti malam pasti tikus-tikus di gudang pada datang nih yah Mbok?' Mbok Nan mengangguk cepat mendengarnya.


"Putri mau di gigitin tikus yang kelaparan gara-gara bau ayam?" tanya Dava dan di sambut gelengan kepala oleh Putri dengan cepat.


Putri tersenyum sumringah setelah menekan-nekan otot tangan sang Paman dengan jari telunjuk mungil miliknya.


"Paman yakin bisa lawan Om Sendi?" tanyanya dengan penuh harap.


"Tentu saja. Bahkan Paman bisa membuat Om Sendi ompong kalo di bolehin sama Mamah." tutur Dava dengan meremehkan kakak ipar alias mantan kekasih sang istrinya.

__ADS_1


"Ompong? hahahaha Om Sendi ompong." Putri tertawa membayangkan wajah tampan yang selalu tegas padanya berubah menjadi wajah yang lucu.


"Sekarang Putri bersih-bersih terus tidur yah." Dava mengusap lembut rambut Putri dengan sayang.


"Oke Paman. Kalo ada apa-apa kasih tahu Putri yah? Biar Putri bantuin Paman pokoknya." Dava langsung menggantungkan tangannya di depan Putri dengan jempol yang sudah ia perlihatkan seakan menyanggupi permintaan Putri.


Setelah drama singkat tersebut, akhirnya Dava membawakan segelas air untuk sang istri ke dalam kamar.


Ceklek!


Pintu terbuka, namun di saat yang bersamaan lenguhan lembuh terdengar samar-samar di telinganya.


"Heeeeem..." Ruth menggeliat di atas kasur dengan kedua mata yang sudah terpejam.


Glek! Dava tak sadar meneguk kasar salivahnya yang terasa begitu keras seperti bongkahan batu.


Paha putih mulus tanpa bulu halus dan bentuk yang begitu jenjang menambah kesan yang sangat seksi di mata Dava. Sungguh menggoda iman siapa pun yang melihatnya.

__ADS_1


Langkahnya yang sempat terhenti perlahan bergerak maju usai memastikan pintu tertutup dengan sempurna. Satu gelas air yang ia pegang tanpa sadar sudah ia teguk sendiri sampai habis tanpa tersisa.


Piyama berbahan satin berwarna soft benar-benar menggoda iman sosok Dava Sandronata.


__ADS_2