Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 129. Ingatan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Malam yang mulai ramai dengan indahnya pemandangan lampu kerlap kerlip di sepanjang jalan menemani perjalanan sosok Dava menuju kantor D Group.


Tentu saja ia akan menepati perkataannya dengan sang adik yang ingin bertemu di kantor, yaitu Sendi. Tatapan dinginnya berubah menjadi sendu kala ingatannya kembali pada lingkup keluarga.


Bagaimana mungkin kehidupan yang terasa seperti benang kusut selama ini ternyata berakhir dengan sebuah ikatan kekeluargaan. Tiga manusia yang menjalin cinta segitiga ternyata lahir dari rahim yang sama. Sungguh gila Tuhan memberikan takdir pada mereka.


Dava tampak menggelengkan kepalanya, matanya beberapa kali ia pejamkan sekilas menahan sebuah rasa panas di dalam matanya.


"Sampai kapan aku melakukan dosa begini, Tuhan? Dia adikku. Adik kandungku, tapi aku tak bisa menghilangkan perasaan ini padanya." Dava berucap sendiri di dalam mobil tanpa ada yang bisa mendengarnya.


Satu-satunya wanita yang pernah ia cintai adalah Ruth. Satu pun tidak ada wanita yang pernah mendapati hati pria tampan ini. Sekalipun sang Ibu. Ia tak pernah merasakan bagaimana hatinya pada wanita yang bernama Ibu.


Bahkan sampai saat ini pun ingatannya tentang masa lalu itu masih belum terlintas di kepalanya.


Satu kalimat yang membuatnya selalu sakit hati. 'Cepat atau lambat semua akan terbongkar dan mau tak mau ia harus tetap menghadapinya dengan hati yang hancur.'


Sekelebat senyuman di wajah sang istri terlintas begitu saja.


"Dav, aku mencintaimu suamiku."


"Dav, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku apa pun yang terjadi." Ruth tampak menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya.


"Dav, aku sangat merindukanmu..." pelukan hangat yang hanya sebagai memori itu terasa begitu menghangatkan tubuhnya yang dingin di dalam mobil sendirian kini.


Dava tak bisa menahan dada yang terasa begitu sesak kini. Ia meneteskan air mata tanpa bisa di tahannya lagi.


"Sakit, Tuhan. Sakit sekali dada ini." Ia terus meneteskan air mata dan membiarkan tangannya memukul-mukul dadanya yang sesak.


Hal yang paling menyakitkan adalah ketika merasakan sakit yang tak bisa di gapai dengan tangan. Hati yang hancur tentu saja sangat sulit untuk di raba. Rasa sesak bahkan seakan mematikan seluruh organ tubuh.

__ADS_1


Citttt!!


Decitan rem mobil terdengar melengking kala Dava menghentikan mobilnya dengan mendadak saat mobil berada di kawasan yang sunyi akan lalu lalang kendaraan.


Ia menundukkan kepalanya pada setir mobil dan menggenggam erat benda melingkar itu.


Andai dengan banyaknya kesibukan, ia bisa melupakan semuanya mungkin Dava akan lakukan. Semua yang terjadi padanya sungguh sangat menyesakkan dada. Ingin melupakan hal yang selalu bersamanya setiap saat, sungguh sangat mustahil.


Bahagia saat bersamanya, sedih ketika sendiri. Itulah yang membuatnya semakin sulit jauh dari duri yang menusuk dadanya.


Suasana di dalam mobil yang dingin tidak terasa sama sekali olehnya. Ia bahkan merasakan hawa tubuh yang sangat panas.


Dava terus menangis, hanya kata sakit yang bisa ia ucapkan tanpa tahu untuk mengatakan hal apa lagi. Semua sakit yang ia rasakan tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Beberapa saat setelah ia tak bisa mengendalikan rasa sedihnya, akhirnya Dava melihat jam di pergelangan tangannya.


Jarak yang tidak jauh membuat Dava sampai dengan cepat. Mematikan  mesin mobil, turun dan bergegas menuju tempat yang terlintas dalam benaknya.


"Selamat malam, Pak Dava." sapa beberapa pria dengan kompak.


"Malam," jawabnya datar.


Tanpa mau memperlihatkan wajahnya yang sembab, ia segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dilihatnya wajah ayu yang mulai terlihat semakin segar. Perlahan langkah kaki mengantar tubuhnya mendekat ke sebuah ranjang rawat yang menjadi tempat dimana sang bunda berada kini.


 Kelopak mata yang tampak gelap itu tak menyadari akan kehadiran sang anak.


Air mata yang sedari tadi sudah di usapnya kini kembali berjatuhan lagi, ia menangis dalam diamnya sembari mencium punggung tangan sang bunda. Wanita yang menjadi satu-satunya tujuan utamanya mengadu segala keluh kesah.

__ADS_1


"Bunda, apa yang harus Dava lakukan kali ini? Dava benar-benar berada di jalan buntu, Bunda. Dava sungguh tidak kuat dengan semua ini...Dava sayang kalian. Dava sayang juga Ruth sebagai istri Dava, Bunda."  Ia hanya bisa bergumam dalam hati tanpa berani bersuara.


Dava takut jika ia akan membangunkan bundanya. Heningnya di dalam ruangannya seakan sangat mendukung suasanya hati yang begitu hening.


"Tring Tring Tring!" Suara dering ponsel yang berhasil membuat ia tersentak kaget.


Dava melirik benda pipih yang ada di genggamannya, keningnya yang mengernyit mendadak sadar akan janjinya.


"Astaga aku bahkan lupa janjiku dengan Sendi..." lirihnya segera bangkit dari duduknya dan menuju pintu untuk keluar


"Halo," Dava berjalan pelan usai menutup pintu dan memastikan air matanya sudah tidak bercecer lagi di wajah tampannya.


"Bagaimana? Apa sudah dekat kantor?" tanya Sendi di seberang sana terdengar bersuara lelah.


"Em...okey. Ini sebentar lagi sampai sudah sangat dekat kok." Ia mematikan sambungan telepon dengan cepat.


Dava pun bergegas menuju mobilnya dan segera melajukan kendaraan beroda empat itu. Ia tampak terburu-buru hingga lupa dengan aksi melownya barusan.


Ceklek. Suara pintu pun terdengar tertutup.


Sendi yang tampak menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya segera bangkit kala melihat kehadiran Dava.


"Dav, bagaimana keadaan Ruth?" tanyanya dengan wajah cemas. Karena memang Dava sama sekali tak berniat memberitahu keberadaan mereka di rumah sakit mana pada Sendi.


"Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Dia istriku, ada aku SUAMINYA yang akan menjaganya." Dava berjalan menuju kursi di depan adiknya tanpa mengikuti Sendi yang masih berdiri di depannya tadi.


Sendi berdiri terdiam kala Dava melewati dirinya untuk duduk lalu membalasnya dengan tegas. "Dan jangan lupakan, dia adalah adikmu juga. Cepat atau lambat kalian harus segera cerai."


Sendi memperlihatkan senyuman tipisnya saat menoleh ke arah punggungnya di mana posisi Dava berada saat ini.

__ADS_1


__ADS_2