Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 178. Flashback Dava


__ADS_3

Di depan ruangan operasi, kini sosok pria yang semula tampak antusias datang ke rumah sakit berubah menjadi sangat frustasi. Saat ini sang istri masih belum sadarkan diri, entah apa yang harus ia katakan pada wanita yang paling di cintai tentang buah hati mereka yang sudah tiada.


Perlahan tubuh tegapnya merosot mengikuti arah dinding rumah sakit. Ia terduduk sedih.


"Apa yang harus saya katakan pada istri saya, Bi? Anak kami telah tiada...selama ini kami menjaganya dengan begitu baik dan penuh perhatian, mengapa Tuhan justru mengambilnya dari kami?" ia bertanya seolah tak bisa berpikir apa pun lagi pada saat ini.


Harapan yang paling ia tunggu-tunggu selama ini sirna seketika.


"Tuan, Nyonya pasti akan sanggup mendengarnya. Beliau wanita yang kuat. Percayalah..." Bi Nan pun menjawab dengan suara yang melemah. Ia takut dengan ucapannya sendiri jika sampai membuat sang majikan mengalami hal-hal yang tidak mereka inginkan.


"Tidak, Bi. Saya takut istri saya sampai kehilangan kesadarannya mendengar hal itu..." sahut Wilson yang memijat keningnya.


Setelah keadaan kembali hening beberapa saat, tiba-tiba saja Wilson kembali mengangkat kepalanya dan berkata, "Orang itu..." ia berlari sesegera mungkin kembali ke tempat awalnya dia mengantarkan seseorang.


Bi Nan yang terdiam melihat kepergian sang majikan tak berani bertanya sedikit pun. Rasa bersalah dalam dirinya masih terasa begitu jelas. Ia sudah lalai dalam menjalankan kewajibannya menjaga sang majikan dan calon buah hati mereka.

__ADS_1


"Dokter, dimana pasien yang mau melahirkan tadi?" tanyanya dengan wajah tak bersahabat sama sekali.


"Oh yang Bapak tolong tadi yah? Baru saja pasien usai melahirkan Bapak. Beliau masih di dalam ruangan menunggu pihak penanggung jawab untuk membawa jenazah pasien." Mata Wilson membulat seketika kala mendengar meninggal.


"A-apa? Maksudnya siapa yang meninggal, Dok?" ia begitu syok mendengar kata meninggal di hari yang sama dengan orang yang berbeda.


"Ibu dari bayi yang meninggal, Bapak. Dan untungnya anda kembali, karena kami menunggu kedatangan anda seperti yang di katakan almarhumah barusan agar mengamanahkan bayinya pada anda."


Wilson terdiam mematung beberapa saat, untuk sejenak ia berusaha menyadarkan diri. Semuanya terjadi seperti mimpi buruk yang tak pernah ia inginkan sama sekali.


Dengan berat hati, ia pun melangkah menuju ruang bayi yang akan ia angkat sebagai anaknya. Wilson menatap nanar bayi yang terlihat dari jarak kejauhan itu. Ada setetes air mata yang jatuh di pipinya.


"Jika ini memang yang terbaik, aku ikhlas, Ya Allah. Engkau mengirimkan malaikat kecil di saat malaikat keci kami kau ambil. Aku akan menjaganya dengan baik layaknya anakku sendiri. Aku tidak akan memberitahukan pada siapa pun juga jika anak ini adalah pengganti anak kandungku darimu..." Akhirnya ia pun memilih untuk tinggal sebentar lagi dan menunggu suster untuk memberikan bayi itu padanya.


Sepersekian menit. Kembalinya Wilson ke hadapan pembantunya tentu saja membuat dirinya sangat terkejut.

__ADS_1


"T-Tuan? I-itu...s-s-siapa?" tunjuknya dengan wajah begitu syok saat melihat sosok bayi yang sudah bergerak ke kiri dan kekanan mencari sumber asinya.


Dengan tegar Wilson menjawab. "Dia anakku, anakku bersama Tarisya, Bi." jawabnya dengan mantap.


"Mulai detik ini, Ayah akan tetap menganggapmu sebagai anak Ayah, Nak. Apa pun yang terjadi, kau adalah anak kandung kami." begitulah janji seorang Wilson pada dirinya sendiri tanpa Bi Nan pun tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Semua ia lakukan bukan tanpa perjanjian dengan sang dokter. Bahkan pihak rumah sakit pun meski berat hati namun ia tetap mau melakukannya semua demi kebaikan dan tentunya dengan pertanggung jawaban seorang ayah juga.


Bibir Bi Nan terbuka membentuk huruf o karena tercengang. Dalam hati ia bertanya pada dirinya sendiri. "Hah? Apa saya tidak salah melihat yah? Bukankah Dokter barusan berkata jika anak mereka tidak bisa di selamatkan? Ya Allah apa yang terjadi sebenarnya? Tapi apa ini memang benar anak Tuan dan Nyonya? Aduh...mengapa jadi seperti ini sih? Yang mana sebenarnya yang benar? Meninggal atau masih hidup?" meski penuh dengan pertanyaan akhirnya Bi Nan tak berani bertanya sedikit pun.


Dan sampai saat ini, hanya Tuan Wilson lah yang tahu apa yang terjadi sebenarnya pada sang buah hati.


"Bi, tolong jaga anak saya dulu. Saya harus segera mengurus administrasi Tarisya. Tolong beritahu saya jika tiba-tiba Tarisya sudah sadarkan diri yah?"


"Baik, Tuan." dengan pasrahnya Bi Nan hanya menjawab dengan patuh sembari menyambut tubuh bayi mungil di tangan kekar sang Tuan.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2