Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 135. Pengalaman Berharga


__ADS_3

Hari yang


penuh dengan lika liku telah terlewati dengan rasa bercampur aduk. Perasaan


hancur yang Dava rasakan hari ini benar-benar membuatnya banyak kehilangan


energi untuk semangat lagi. Bahkan makan siang pun ia lewatkan dengan bekerja


di ruangan.


Meski


perjuangannya di kantor menghasilkan ending yang baik, namun tetap saja keadaan


hidupnya tidak bisa sebaik nasibnya kali ini.


Di dunia


bisnis ia mampu menaklukkan para investor, sementara dalam dunia kehidupan ia


kalah dengan takdir yang menggariskannya harus melepas sang istri.


Dava


terpejem menyandarkan kepalanya pada kursi kerjanya. Usai sudah semua urusan


pekerjaan. Ia pun menarik dasi di kerah bajunya. Wajahnya ia posisikan untuk


menengadah.


"Hah...bagaimana


bisa aku berpikiran untuk pergi darinya? Melihat setetes air matanya saja aku


tidak sanggup. Bagaimana mungkin aku membiarkan Ruth bersedih sepanjang hari


usai ku tinggalkan." Ia terus berucap sendiri pada dirinya sembari


menimbang-nimbang segala pemikiran yang mulai terlintas dalam benaknya.


Mungkin jauh


lebih baik jika Dava harus meninggalkan sang istri tanpa sebuah pesan apa pun,


itu akan lebih membuat semuanya tidak terasa menyakitkan bagi Ruth. Akan

__ADS_1


tetapi, apakah setenang itu di tinggalkan tanpa memberikan penjelasan? Segala


praduga Dava terus berjalan bergantian dalam pikirannya.


"Tidak.


Aku tidak akan bisa membiarkannya melewati ini semua sendiri. Siapa lagi jika


bukan aku yang bisa melindunginya?"


Rasa


denyutan yang membuatnya sangat kesakitan di bagian kepala membuat Dava memijit


kepalanya sendiri. Berpikir terlalu berat hingga ia lupa dengan kesehatannya.


Tampak


sepasang mata sedang memandang tanpa ekspresi dari sudut yang tak jauh.


Pembatas ruangan kerja yang transparant membuat Sendi bisa melihat kegelisahan


dalam diri Dava kali ini.


"Kasihan


Tuhan membuatku merasakan sakit itu lebih dulu dari pada kau. Bagaimana mungkin


kalian akan berpisah saat ini? Sedangkan aku saja yang jauh lebih dulu berpisah


darinya masih merasakan hal itu sampai saat ini." Sendi terlihat


menggelengkan kepalanya menatap iba pada sang kakak.


Merasa


risih, akhirnya Sendi memutuskan untuk segera mendekat pada sang kakak.


Setidaknya kali ini hatinya patah tidak sendirian.


Di ketuknya


pintu ruangan kerja Dava.


Tok Tok Tok

__ADS_1


"Dav,


boleh aku masuk?" tanya Sendi membuyarkan lamunan sang kakak seketika.


Ia menatap


ke arah pintu saat itu juga. "Huh..." hanya menghela napas usai


merasakan keterkejutannya.


"Ada apa?" sahut Dava dengan wajah tidak bersahabatnya.


Pikiran yang memenuhi kepala pria tampan itu kini semakin pusing kala melihat kehadiran pria yang sama sekali membuatnya ingin melampiaskan kemarahannya itu.


"Pulanglah. Hari ini sudah cukup semua kerja kerasmu. Bagaimana persidangan tadi?" Sendi berucap dengan wajah santainya.


Kali ini, mungkin sedikit demi sedikit hati pria itu mulai terbuka saat tak ada lagi saingan percintaannya. Ia benar-benar tak bisa cemburu seperti sebelum-sebelumnya. Cinta, yah tentu saja cinta itu masih utuh untuk seorang wanita yang bernama Ruth.


"Pulanglah kerumah. Ruth mengkhawatirkanmu setiap hari." Dava tak menuruti bahkan menjawab ucapan sang adik. Justru ia balik memerintah sang adik untuk pulang ke rumah mereka.


Keduanya benar-benar melupakan sikap cemburu itu, entah apa yang terjadi. Mungkin begitulah ikatan darah yang sebenarnya. Meski hati menolak untuk melepaskan, namun tempat yang tepat untuk saudara berbeda dengan posisi orang lain yang menjadi pemilik hati tentunya. Keduanya berada di sisi yang berbeda meski sama-sama memiliki cinta.


"Huh...maaf. Untuk saat ini aku belum bisa kembali ke rumah. Mungkin nanti setelah semuanya membaik." tutur Sendi menunduk sembari bersedekap dan menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ada di belakangnya.


Dava menatapnya sekali lagi dengan tatapan yang begitu mengintimidasi. "Apa perasaan itu bisa hilang?" pertanyaan Dava yang tertuju pada sosok pria di depannya membuat Sendi mengernyit dalam.


"Maskudmu...untuk Ruth?" ia bertanya untuk memastikan kembali jika pertanyaan itu tertuju padanya.


"Siapa lagi?"


Dava bertanya dengan penuh rasa penasaran. Ia penasaran apakah perasaan cinta yang begitu dalam bisa dengan mudah terlepaskan? Apakah ia akan mengalami hal itu juga dan tentu saja pertanyaan itu jauh lebih tertuju pada Ruth.


Ia sangat mengkhawatirkan sang istri. Ia takut jika setelah perpisahannya dengan sang istri, justru membuat Ruth akan tertekan.


"Aku takut dia tidak bisa melepaskanku. Aku takut dia terluka begitu dalam. Tapi..." ada gurat keraguan di hatinya saat mengatakan semua prasangkanya dalam hati.


"Apa aku sanggup jika Ruth mampu melupakanku?" Dava tampak kembali dalam lamunannya. Ia sangat mencemaskan semua yang terjadi pada hubungan mereka kedepannya.


"Perasaan itu tidak akan bisa hilang sampai kapan pun. Dialah orang yang tetap berada di sana. Kursi di hatiku tidak akan bisa terganti oleh siapa pun." Sendi menatap nanar ke depan sana.


Mungkin hanya cintanya yang begitu abadi, berbeda dengan wanita yang ia cintai. Ruth bahkan kini sudah begitu dalam mencintai pria yang saat ini adalah kakaknya.


Dava memperhatikan wajah Sendi yang seolah sedang ingin berbagi kesedihan padanya.


"Dia adalah wanita yang benar-benar aku cintai. Tapi saat takdir mengatakan itu adalah sedarah denganku, disitulah aku tidak lagi mampu berusaha apa pun. Mungkin semua orang mengatakan aku menyerah. Tidak. Aku tidak menyerah, namun aku sadar kali ini tidak ada yang bisa di perjuangkan apalagi menyerah. Hanya ada mencintai dalam batas wajar. Aku mencintainya dan aku tidak ingin menjalin apa-apa lagi dengannya. Harapanku terbentang pembatas yang begitu tinggi."

__ADS_1


Dava terdiam sejenak. Dalam hal ini ia tentu saja harus banyak belajar dari sang adik. Benar kata pepatah, pengalaman tentu jauh lebih berharga dari pada matangnya usia. Yang senior belum tentu lebih hebat dari junior. Dan junior belum tentu lebih polos dari senior.


Nyatanya Sendi mendapatkan pengalaman yang pahit jauh lebih dulu sebelum Dava mendapatkannya.


__ADS_2