Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 134. Misi Putri


__ADS_3

Suasana riuh begitu memenuhi lingkungan sekolah milik si bocah berperut buncit itu. Banyaknya teman sekelas yang ingin mengajaknya makan bersama, namun Putri tetaplah anak yang keras kepala dengan pendiriannya. Ia tidak akan mau makan jika bukan bersama Sendi.


Ini adalah hari pertama Sendi melayaninya sebagai paman, tentu saja sifat jahil Putri langsung berkembang biak.


"Lihat. Awas saja Om Sendi nanti. Putli lapolin sama Ayah biar di tonjok tuh matanya yang suka nakal sama Mamah." gerutunya terus menunduk memperhatikan langkak kakinya yang lemas itu.


Ia berjalan tanpa tujuan saat ini. Langkah kedua, ketiga, dan keempat terus mengantarnya hingga tiba di depan kantor para guru yang mengajar di sekolah itu.


"Baik, aku akan segera ke kantor setelah Putri pulang sekolah. Iya, sebentar lagi akan pulang." Sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Di sini, Putri menengadah kala mendengar suara pria yang tak asing di telinganya. Ia menatap punggung pria yang tengah bertelponan dengan seseorang. Bibir kecilnya menyungging tanda satu misi akan segera di mulai.


"Itu dia Om Sendi. Hem...selamat anda akan mendapatkan permintaan si bocah cantik ini." Dengan percaya diri yang penuh Putri mengatakannya sembari melangkah mendekat pada Sendi. Namun, sayang belum sempat kaki kecil itu menggapai tempat Sendi berada, ia menoleh ke arah lain saat mendengar suara wanita asing.


"Sen!" panggilnya.


Mata jeli Putri menelisik penuh penasaran. Siapa gerangan wanita itu memanggil pamannya dengan panggilan begitu akrab.


"Itu...siapa yah? kok Putli kayak pelnah lihat sih?" ia terus menduga-duga tanpa menemukan ingatannya kembali.


"Dina, akhirnya kau datang juga. Tolong, ini sudah jam istirahat Putri. Anak itu harus di temani makan dan di suapi sekaligus di ajak bercerita. Aku tidak bisa melakukan itu. Ayo bantu aku sebagai jembatan kami..." Sendi menarik cepat tangan sang istri dan berbalik menuju arah dimana Putri kini berdiri tercengang.


"Eh, Putri..." sapa Sendi dengan wajah datarnya seperti biasa. Tidak ada ekspresi penuh kasih sayang seperti Dava yang membuatnya selalu meleleh.


"Oh, ini Putri...hai, aku tante Dina." Dina melambaikan tangannya dan tersenyum usai mendapatkan senggolan di lengannya dari sang suami.


"Putli maunya Om Sendi aja, bukan tante. Om Sendi, come on!" jari telunjuknya terbalik dan bergerak meminta Sendi untuk mendekat padanya.

__ADS_1


"Putri, biarin Tante Dina ikut juga yah? Om Sendi tidak pandai menyuapimu dan bercerita saat makan." tolak Sendi yang enggan melakukan apa yang tidak biasa di lakukannya.


"Putli laporin sama Ayah nih yah?" Kekesalan terlihat di wajah gendut Putri saat melihat gertakannya pada sang paman tidak membuahkan hasil.


Tentu saja Sendi tak bergerak. Jika hanya dengan Dava ia sama sekali tentunya tidak memiliki rasa takut sedikit pun.


"Cih...okey kalau begitu. Putli telepon Mamah aja deh. Om Sendi nggak mau jagain Putli." Satu kelemahan Sendi refleks terbuka begitu saja.


"Iya. Okey. Ayo Om Sendi temani Putri makan. Ayo cepat nanti keburu habis waktu istirahatnya, Putri." Sendi bergegas mendekat pada bocah kecil itu dan tanpa sadar meninggalkan sosok Dina yang terdiam di tempatnya.


Di lihatnya Sendi yang sudah melangkah semakin jauh sembari menggendong Putri menuju kantin. Matanya yang teduh tampak berkaca-kaca. Walau ikhlas di bibir, namun hatinya masih terasa merespon sakit yang di torehkan dengan masalah kecil barusan.


"Ternyata begitu berarti dia bagimu sampai detik ini, Sendi. Ku pikir setelah perjuangan awal rumah tangga kita ini, dia tidak lagi ada artinya di dalam hidupmu..." Tertunduk mengusap sejenak air mata yang jatuh dari kedua matanya.


Di sini, sosok Sendi belajar menjadi ayah pada anak yang berusia sudah cukup besar. "Ini, ayo buka mulutmu..." pintahnya pada Putri yang menunduk cemberut.


"Apaan kata Mbok Nan anak ini sangat pintar? kenapa nakal sekali nyatanya? makan saja sangat cerewet minta ini itu. Setahun pun aku tidak akan bisa dekat dengan anak seperti ini." gerutu Sendi dalam hatinya melihat begitu banyaknya tingkah yang Putri tunjukkan padanya beberapa jam ini.


"Kan Putri sudah bilang, Om. Putri mau makan sambil dengalin celita." ujar Putri membulatkan matanya dengan menggelembungkan kembali kedua pipinya.


Sendi benar-benar sedang menjalani ujian kesabaran hati sepertinya. Ia berusaha sabar meski dadanya begitu panas ingin marah.


"Huuuh." di helanya napasnya pelan dan tersenyum.


"Okey...Om Sendi akan bercerita dongeng. Tapi Putri harus makan." Dengan sigap, ia melihat anggukan di kepala bocah itu.


"Dahulu kala, ada sebuah kerajaan besar. Di dalam kerajaan itu ada dua pangeran yang sama-sama tampan. Mereka juga sama-sama memiliki kekuasaan di kerajaannya."

__ADS_1


"Keduanya raja tampan itu sangat akrab. Mereka begitu saling menyayangi satu sama lain..."


"Kakak bernama Raul dan sang adik bernama Lois. Keduanya begitu saling melindungi, namun sayang...kasih sayang kakak beradik itu hancur ketika hadirnya perempuan cantik yang berstatus sebagai keponakan mereka dari kerajaan lain."


Sendi terus bercerita dengan wajah yang begitu di buat seserius mungkin. Sementara Putri tampak mengunyah makanan yang sebenarnya tidak ingin ia makan dengan alih ingin mengerjai sang paman. Nyatanya niatnya gagal total, Sendi sukses membuatnya terbawa suasana.


"Begitu berarti kah namanya di hatimu, Sen? Hingga kau dengan kekeh tetap melakukan apa yang seharusnya tidak kau lakukan? termasuk mencuri hati bocah itu..." Dina menatap dari arah yang tidak begitu dekat. Ia bersembuti di balik tembok sembari mencermati kedua sosok di depannya.


"Gadis itu begitu berhati lembut selembut kapas. Wajahnya bersinar secerah mentari pagi, kulitnya bening sebening air di pegunungan. Bahkan suaranya begitu merdu seperti alunan biola. Hingga kebaikannya menjadi satu permasalahan yang menjadikan kakak beradik di kerajaan itu berebut ingin menikah dengannya..."


"Dan ternyata, sekeras apa pun kakak beradik itu berkelahi, ternyata sampai akhirnya pun mereka berdua tidak ada yang bisa memiliki gadis lembut itu."


Dengan wajah tak sabar, Putri pun langsung melontarkan pertanyaannya. "Memangnya kenapa Om?" tanyanya antusias.


Sendi menjawab dengan mantap. "Mereka saudara, dan itu tidak boleh untuk menikah." jawabnya memandang hampa ke depan sana.


"Jadi kalau saudara itu tidak bisa menikah, Om?" sahut Putri lagi.


"Tentu saja, mereka adalah keluarga. Dan keluarga bukanlah di berikan untuk di nikahi."


"Sama sepertiku dengan Mamahmu, Putri. Kami tidak akan bisa menikah sampai kapan pun." batin Sendi berucap tanpa berani mengatakan pada anak kecil itu.


Akhirnya kini mereka pun bergegas menuju kelas dimana Putri akan melanjutkan bermain setelah jam istirahat selesai. Bermain yang di tujukan untuk menambah wawasan tentunya.


"Jaga Putri yah? Aku harus ke kantor segera. Nanti antarkan dia pulang tanpa kurang apa pun." Sendi meninggalkan Dina dengan pesan untuk menemani Putri hingga mengantarkannya ke rumah nanti.


Tentu saja Dina tidak bisa menolak perintah suaminya. Kali ini ia hanya bisa menjadi istri yang baik dan penurut pada suaminya. Itulah yang ia jalankan saat ini. Urusan hati, Dina yakin suatu saat Sendi akan melihat ke arahnya meski membutuhkan waktu yang cukup lama atau pun seumur hidup Dina.

__ADS_1


"Baik, hati-hati Sen." balas Dina dengan suara lembutnya. Ia tersenyum saat Sendi menatapnya dan kemudian melangkah pergi dari sekolah itu dan melajukan mobilnya ke jalanan besar.


__ADS_2