
"Nona Ruth, tunggu!" teriak salah satu bodyguard yang sudah lebih dulu dari yang lainnya.
Ruth menghentikan langkahnya kala kedua kaki itu sudah hampir masuk ke dalam lif.
"Nona, tidakkah lebih sempurna jika kita melakukannya di saat pemiliknya tidak ada di tempat?" ucap pria itu dengan wajah seriusnya.
Meskipun mereka sangat kuat dalam bela diri, tetapi hak kepemilikan tetaplah menjadi kuasa sang pemilik perusahaan Nata Hensana tentunya.
Ruth memejamkan matanya sejenak. Lalu ia menangguk pelan.
"Iya kau benar. Bagaimana aku begitu terbawa emosi sampai tidak memikirkan ini semua?"
"Huuuh," Ruth menghela napasnya kasar dan berbalik badan membatalkan dirinya masuk ke dalam lift.
***
Malam harinya...
Terkadang harapan memang tak sesuai dengan kenyataan. Semua tujuan yang begitu besar sirna seketika.
"Haaah...kenapa semua datanya nggak ada yang mereka tinggalkan di file ini? Bagaimana kita bisa mendapatkan bukti?" Ruth marah di dalam ruangan tersebut.
Semua berkas cetak hingga dokumen yang masih dalam bentuk file mereka periksa, namun tidak ada satu pun yang berguna.
"Nona, tenanglah. Jangan biarkan kekecewaan menghancurkan harapan. Sesungguhnya, Tuhan menyukai hambanya yang berdoa dalam harapan, meski pernah di kecewakan." tutur pria yang lebih dekat jaraknya dengan Ruth.
Pria yang sejak siang tadi selalu menjadi teman berbagi Ruth.
"Kata-katamu...seperti berdakwah saja. Tidak sesuai dengan wajah seram itu." sahut Ruth terkekeh di sela-sela kemarahannya.
"Jangan lihat saya dari luarnya, Nona. Dalamnya saya lembut kok."
Ruth kembali terdiam dan mengabaikan lawan bicaranya. Jemari lentiknya terus bergerak memeriksa ulang isi di lemari pribadi Tuan Iwan.
Jangan tanyakan pihak keamanan, semua sudah tidak berdaya karena mendapat serangan dadakan dari pria-pria pilihan Dava.
Brakkk!!
Suara satu kumpulan berkas tebal terhambur seketika.
Wajah Ruth bahkan sudah memerah.
"Nona, ada apa?" semua berlari mendekat pada wanita tersebut.
"Surat pernyataan akuisisi perusahaan D Group oleh Densal Company"
__ADS_1
Lembar berikutnya, Ruth kembali membulatkan matanya. "Berson Nicolas? Sendi?" ucapnya bergetar kala melihat wajah tampan yang selama ini menjadi dambaan hatinya namun telah menjadi masa lalunya.
"Tidak. Ini tidak mungkin."
Semua pria yang menjadi pengawal Ruth saling melempar pandangan. Kemudian salah satu dari mereka bergerak melirik berkas yang menjadi arah tatapan Ruth saat ini.
"Jadi Kak Berson masih hidup?" Ruth ambruk di lantai. Ia meneteskan air matanya kala mengetahui satu kebenaran yang sangat tidak pernah ia duga-duga.
Bagaimana mungkin dirinya selama ini menghadapi banyaknya masalah seorang diri, tanpa ada yang bisa memeluknya. Dan sekarang takdir seakan begitu kejam mempermainkan dirinya setelah kepahitan yang berangsur-angsur ia dapatkan, kini sosok pria yang tak pernah lagi ia harapkan ada tiba-tiba menjadi sosok yang sangat ia ingin peluk dan melampiaskan tangisannya di pelukan itu.
Ingatlah bahwa terkadang tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, dapat menjadi hal terbaik untukmu. Dan belajarlah untuk menguatkan dirimu dalam melepaskan sesuatu, lalu bersabarlah menunggu apa yang pantas kamu dapatkan.
Saat ini Ruth baru mengerti apa yang menjadi kekecewaannya selama ini ternyata suatu hal yang begitu berharga di kemudian hari.
Meski dalam kekecewaan yang besar kala ia harus benar-benar mengubur dalam perasaan cinta itu, setidaknya ia mendapatkan cinta yang akan abadi selamanya dari seorang kakak.
Ruth segera bangkit di bantu dengan salah satu pria itu.
"Tolong biarkan aku pergi sendiri malam ini." Ruth berbicara lemah tanpa daya.
Matanya bahkan tidak beralih dari dokumen yang ia genggam barusan. Suatu kebenaran yang membuatnya benar-benar seperti mimpi.
Ruth melangkah keluar ruangan pribadi Tuan Iwan malam itu, sementara semua pria yang ikut bersamanya akhirnya juga ikut melupakan tujuan utama mereka datang ke perusahaan Nata Hensana.
Meski Ruth meminta mereka untuk tidak mengikutinya, tetapi tanggung jawab tetaplah tanggung jawab. Dava sudah menugaskan pada mereka. Apapun yang terjadi, Ruth adalah tanggung jawab penuhnya.
"Hazel, apa yang kau lakukan?" tanya Ronal.
"Kalian pikir kita akan lepas tangan begitu saja? Nona Ruth tanggung jawab kita. Kita bisa jaga dari kejauhan. Ayo cepat."
Kelima pria itu pun sudah bergegas mengikuti arah mobil Ruth yang melaju entah ke mana.
Di sini. Di dalam mobil. Wajah Ruth terlihat bahagia bercampur emosi. Ia bahagia kala mengetahui dirinya masih memiliki kakak. Namun apa ia bisa memaafkan kakaknya dan juga Tuan Deni.
"Bagaimana mungkin Kak, kau menyembunyikan ini semua? Apa kau tidak mau menjadi kakak ku? Bagaimana bisa selama ini semua kau sembunyikan dariku?" Isak tangis Ruth mengantar kepergiannya malam itu di mobil yang hanya berisikan dirinya seorang.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan pada kakaknya.
Hingga mobil melaju dengan tak beraturan, Ruth yang tidak bisa fokus menyetir refleks menggerakkan kakinya menginjak gas mobil dengan begitu kuat.
"Aaaaaaaa!!"
Mobil terdengar keras mengeluarkan suara kala menghantam trotoar dan berlanjut menghantam ornamen gajah yang terletak begitu besar di seberang jalan.
Suara teriakan hingga decitan ban mobil terdengar tak beraturan.
"Astaga, Nona Ruth!" Kelima pria itu tampak syok dan langsung bergegas berlari keluar mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil, Ruth berucap lirih.
"Kak...aku adik-mu." Manik mata cokelat itu terpejam seketika.
"Nona!"
"Nona, Ruth!"
Suara panggilan dan juga ketukan kaca mobil dari luar tak mampu menyadarkan Ruth yang sudah bercucuran darah di bagian pelipis hingga keningnya.
"Pecah pintunya!" teriak Diko dengan tak sabaran.
Pintu mobil terpecah. Mereka dengan sigap membuka pintu mobil.
"Cepat buka mobil, kita bawa Nona Ruth ke rumah sakit sekarang." Joni memerintah usai meraih tubuh lemas wanita itu.
Kelima pria itu begitu cemas. Sesekali mereka menepuk pipi wanita canti itu.
"Nona."
"Nona, Ruth bangunlah." ucap mereka bergantian.
Namun sayang, Ruth sama sekali tidak sadarkan diri malam itu hingga mobil pun tiba di rumah sakit.
"Bagaimana Dokter keadaan Nona kami? Apa sangat parah lukanya?" tanya Hazel begitu takut usai sang Dokter selesai memeriksa dan membersihkan luka di wajah Ruth.
Dokter itu menatap sang pasien yang terbaring lemah di brankar pasien.
"Pasien tidak begitu parah. Hanya luka-lukanya saja yang agak banyak. Namun kondisinya saat ini yang tidak sadarkan diri bukan karena luka saja sepertinya. Ada unsur tekanan pikiran sepertinya. Bahkan keadaan tubuh pasien sangat lemah saat kami periksa tadi. Sedangkan luka di bagian wajah tidak begitu berpengaruh dengan tubuh pasien." terang Dokter panjang lebar.
Kelima pria itu terdiam memandangi wajah Ruth. Sungguh malang nasib wanita cantik ini. Meski mereka baru saja mengetahui Ruth, tapi mereka sudah dapat melihat kondisi kehidupan Nona mudanya itu.
"Kak..."
"Kak Berson,"
Ruth berucap dengan lirih sembari kedua sudut matanya terus mengeluarkan air matanya.
Sungguh ia benar-benar tidak bisa terfikirkan jika semuanya akan jadi seperti ini.
Semua yang berjaga hanya diam, setidaknya malam ini biarlah Ruth beristirahat dengan baik.
Di sisi lain. Wajah seorang Iwan Sandronata begitu marah kala mendapatkan laporan dari kantor.
"Kurang aj*ar! Siapa yang berani mengacak-acak kantorku?" pekiknya di seberang telepon hingga membanting benda pipih itu di atas kasur miliknya.
__ADS_1
"Pih, ada apa? Mami kaget loh?" Sarah, sang istri yang terbangun mendengar umpatan sang suami begitu mengejutkan dirinya.
"Argh!!" Iwan bergegas meninggalkan kamarnya tanpa menghiraukan ucapan sang istri.