
Suasana langit sore yang begitu indah tak mampu mencuri perhatian dua sosok pria yang memilih mendiskusikan masalah rumit ini di depan dermaga yang terdapat di tengah kota tersebut. Mobil offroad hitam yang tadi melaju di jalanan, terparkir dengan sempurna menghadap ombak pantai yang berkejar-kejaran.
Dava berdiri dengan bersandar pada mobilnya, ia tak perduli dengan rambut yang berterbangan kesana kemari mengikuti arah angin.
"Dav, ini kasus yang harus tetap di usut sampai tuntas." ucap Rafael memecah keheningan setelah membiarkan beberapa waktu Dava untuk memikirkan semuanya.
"Tidak. Tidak, Raf. Aku tidak relah berpisah dengan istriku. Aku sangat mencintainya. Bagaimana bisa aku berpisah dengannya di saat anak kami sedang tumbuh di dalam rahimnya?" Dava membulatkan matanya mendengar ucapan Rafael sebagai polisi yang menangani kasus keluarganya.
"Dav, bagaimana pun...hubungan kalian tidak boleh berlanjut. Kalian sedarah." ucap Rafael lagi bersikeras untuk tetap bersikap profesional.
Tentu mendengar hal itu, Dava menggelengkan kepalanya cepat. Bagaimana mungkin ia akan seperti Sendi nasibnya.
__ADS_1
"Ruth sangat lemah kandungannya, dan saat ini masih di rawat di rumah sakit. Aku tidak mungkin menuruti permintaan mu, Raf. Aku tidak mau terjadi apa pun pada anak dan istriku." Semakin bericara, Dava semakin tak kuasa menahan tangisannya.
Ia tidak mungkin bisa menahan kesedihan mengingat betapa bahagianya ia bisa mencintai dan di cintai oleh Ruth selama ini.
Waktu yang sangat singkat membuatnya tidak akan bisa menerima hal itu semua.
"Tutup kasusnya!" ucap Dava dengan seenaknya tanpa bertanya lebih dulu pada sosok polisi yang bersamanya saat ini.
Sontak mendengar hal itu, Rafael ingin tertawa. Namun sekuat tenaga ia menahannya, bagaimana mungkin Dava seenak jidat begitu memerintah dirinya untuk menutup kasus.
"Terlebih apa, Raf?" Dava langsung melepaskan kedua tangannya yang bersidekap di depan dada sedari tadi. Matanya membulat tidak siap mendengar keterangan selanjutnya yang sudah Rafael lakukan.
__ADS_1
"Laporan tentangmu juga sudah aku masukkan kemarin. Maafkan aku, Dav." Dava terduduk lemas, ia meneteskan air matanya berkali-kali mendengar apa yang Rafael lakukan.
Siap atau tidak, ia harus siap kehilangan sang istri dari pelukannya. Sakit, sunggu sangat sakit. Bayangan senyuman indah yang terlukis di wajah sang istri membuatnya tak bisa berhenti menolak kenyataan.
"Kenapa Tuhan? Kenapa?! Kenapa ini terjadi pada kami?" Dava berteriak sangat keras.
Rafael bisa melihat hati yang benar-benr patah kali ini.
Mengapa cinta harus hadir, jika akan terasa begitu menyakitkan? Andai setiap insan bisa memilih pada siapa ia akan jatuh cinta. Mungkin tidak akan banyak air mata yang gugur di dalam bumi ini.
Dava terduduk lemas hingga menjatuhkan kedua lututnya pada tanah. Ia menunduk meneteskan air mata. Apa yang terjadi pada sang istri nanti, sungguh sangat ia khawatirkan. Ruth tentu akan menangis histeris kala mengetahui hal ini.
__ADS_1
Pernikahan yang tidak berdasarkan dengan cinta, kini sudah menjadi saling ketergantungan dengan cinta. Dava sama dengan Ruth, sama-sama tidak ingin jauh hanya dalam beberapa saat saja.
"Ini semua sudah garis Tuhan, Dav. Yang harus kau lakukan saat ini adalah ke rumah sakit. Apa kau tidak merindukan kedua orangtuamu?" tutur Rafael mengingatkan tujuan utama Dava kembali saat ini dengan cepat adalah untuk menemui orang tuanya yang sudah sangat tua di rumah sakit.