Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 110. Kedatangan Rafael Di Malam Hari


__ADS_3

Suasana hening di meja makan siang ini. Hanya dentingan sendok yang terdengar samar-samar menyentuh piring putih itu.


Hanya Sendi yang makan seorang diri, di temani Mbok Nan yang duduk di kursi lain hanya memandangnya. Sendi melirik dan menghentikan aksi makannya.


"Apa Ruth tidak makan, Mbok?" tanya Sendi yang akhirnya terucap juga setelah lama menanti kedatanga sang adik.


Mbok Nan pun menjawabnya. "Non Ruth sudah makan di kamarnya, Tuan. Tuan Dava tidak mengijinkan Non Ruth keluar kamar dulu saat ini." terangnya menatap Sendi yang bereskpresi begitu sulit di tebak.


Sendi mendadak tidak bernapsu makan. Ia meletakkan dua sendok di tangannya pada piring yang masih banyak sisa makanan. "Tuan. Tuan Sendi mau kemana?" tanya Mbok Nan saat melihat Sendi hendak memundurkan tubuhnya dari kursi duduknya.


"Saya harus segera kembali ke kantor, Mbok." jawabnya acuh dan berlalu begitu saja.


***


Seminggu telah terlewatkan dengan banyaknya kisah cinta di antara Dava dan juga Ruth yang semakin besar rasanya.


Berbeda dengan keadaan Sendi yang sangat terpuruk dan berusaha terus menyibukkan dirinya di kantor hingga tidak ingat untuk pulang ke rumah.


Subuh usai solat subuh, ia langsung meninggalkan rumah menuju kantor. Siang saat jam istirahat, ia memilih untuk makan di ruangan kerjanya saja. Begitu juga saat malam, ia memilih lembur bahkan terkadang tidak pulang ke rumah.


"Mbok, apa Kak Berson belum pulang?" tanya Ruth yang saat ini menjadi malam pertamanya untuk makan di meja makan setelah beberapa hari menjalani masa karantina dari sang suami.


Mbok Nan beralih menatap wajah Dava yang memejamkan mata beberapa saat. "Em...mungkin sebentar lagi, Non. Non Ruth makan saja biar segera istirahat yah. Urusan Tuan Sendi, percayakan pada Mbok saja."


Dava begitu lega melihat kerjasama Mbok Nan yang baik. Pasalnya selama Sendi jarang pulang, hanya mereka yang tahu tanpa Ruth bisa mendengarnya.


"Maafkan aku, Sayang. Ini akan jauh lebih baik untuk sementara waktu kalian memang tidak seharusnya bertemu. Demi kebaikan anak kita. Maafkan aku, Tuhan." Dava begitu kuat untuk tetap terlihat baik-baik saja.


"Aku tidak akan pernah menyalahkan takdirmu, Tuhan. Ku percaya kau maha baik. Engkau sangat baik selalu memberkati kehidupanku. Saat ini ku percaya, kau ingin aku lebih dekat denganmu." Seperti biasa, dalam keadaan apa pun, Dava tetaplah sosok yang sangat bijak.

__ADS_1


Ia sadar semua yang terjadi pada kehidupannya tentu akan selalu membawa kebaikan, sekalipun itu sangat menyakiti dirinya.


"Kak, ada apa?" Ruth bertanya seraya menggenggam tangan Dava yang berada di atas meja makan. Wajahnya yang melamun sedari tadi membuat Ruth tertarik untuk bertanya.


"Iya, Ayah kok banyak melamun sih Putli liat. Semalam juga gitu loh Mamah. Ayah baling peluk Mamah telus matanya kelual ail. Putli kan bingung." celetuk si bocah mungil itu yang baru saja muncul di belakang Ruth.


Wajah baru bangun tidurnya sungguh menggemaskan kali ini. "Adduh...Putri pake muncul segala lagi." batin Mbok Nan mengumpat gemas.


"Keluarin ari mata?" Ruth menatap wajah mungil sang anak lalu beralih menatap Dava.


"Ti-tidak, Sayang. Aku hanya...yah aku hanya sedih melihatku sakit-sakitan seperti saat ini." Dava tampak gugup saat ingin menjawab pertanyaan sang istri dari sorot mata penuh tanya.


"Ayo, sekarang makanlah. Putri, sini Ayah suap." Dava meraih tubuh mungil Putri dan memangkunya.


Meski rasanya masih sangat penasaran, Ruth memaksa untuk menghabiskan makannya kali ini.


"Putri, kamu baru bangun belum mandi loh Nak. Kok sudah makan?" Ruth menatap wajah sang anak yang baru saja bangun di malam hari.


"Iya, Mah. Badan Putli pegel-pegel semua. Liat nih badan Putli aja udah langsung langsing loh Mah." Dengan gaya centilnya, Putri memperlihatkan gerakan yang menunjukkan tubuhnya pada sang Mamah.


"Ya Allah...Putri." Ruth terkekeh geli mendengar ucapan sang anak dan gerakan tubuhnya. Ia sampai harus menggelengkan kepala merasa tidak habis pikir anaknya bisa bergaya bak orang dewasa.


"Makasih Ayah, sudah manjain Putli. Putli sayaang Ayah." peluknya begitu erat pada sosok Dava tanpa perduli dengan mulut yang penuh makanan, Putri mencium pipi Dava kiri dan kanan.


Mbok Nan dan Ruth hanya terkekeh geli. Suasana rumah selalu terasa hidup jika Putri sudah terdengar bersuara dengan kata-kata absurdnya.


"Sama-sama, Sayang. Ayah juga sayang sekali dengan Putri. I love you..." Dava mengecup kening sang anak dengan penuh cinta.


"Hem...jadi Mamah nggak di sayang nih?" goda Ruth yang menyindir sang anak.

__ADS_1


Tok Tok Tok


"Permisi," Suara di ambang pintu utama yang memang jaraknya tidak begitu jauh membuat mereka semua menoleh ke arah pintu yang memang terbuka lebar.


"Rafael? Mau apa dia kemari?" batin Dava yang sudah sangat gugup melihat kedatangan Rafael di rumahnya malam-malam begini.


"Putri, antar Mamah masuk ke kamar yah? Ayah ada urusan sama Om sebentar. Okey?" pintah Dava menurunkan Putri dari pangkuannya sesegera mungkin.


Ia tidak ingin jika Ruth sampai kepikiran untuk ikut bergabung dengannya mendengarkan penjelasan dari Rafael.


"Dav,-"


"Istirahatlah di kamar, Sayang. Aku akan segera menyusul. Mbok Nan, tolong yah di bantu." Dava meminta Mbok Nan untuk segera bergerak cepat.


"Baik Tuan Dava." jawab Mbok Nan dengan sigap.


Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun semua yang ia lakukan demi menjaga Ruth dari pikiran beratnya yang akan membahayakan kesehatannya saat ini.


"Mbok..." Ruth bersuara seolah ingin bertahan di luar kamar kali ini. Mbok Nan pun menghentikan aksinya yang ingin menuntun majikannya tersebut.


"Percayakan pada Tuan Dava, Non. Semuanya pasti demi kesehatan Non Ruth. Kasihan Tuan Dava Non. Beliau selalu mencemaskan keadaan Non Ruth sampai tidak perduli dengan keadaannya sendiri yang kurang tidur."


"Benar kata Mbok Nan, Dava benar-benar terlihat sangat kurus sekarang. Ini semua karena aku..." Ruth akhirnya dengan suka rela berjalan menuju kamar di tuntun Putri dan juga Mbok Nan.


"Ada apa, Raf?" Di sini dua pria itu sedang duduk saling menatap ke halaman rumah yang tidak begitu luas. Dua kursi yang sama-sama menghadap ke depan halaman rumah tampak menjadi saksi bisu.


"Nyonya Tarisya sedang drop, beliau terus meminta bertemu dengan anak-anaknya sesegera mungkin. Aku sudah tidah tahu harus berbicara apa lagi dengannya, Dav?" Rafael tampak serius menatap Dava kali ini.


Wajah Dava yang tegang semakin terlihat tegang berkali-kali lipat. Ia merasa belum siap menghadapi kenyataan saat ini dalam waktu cepat.

__ADS_1


"Cepat atau lambat ini pasti akan menjadi nyata. Aku memang harus melakukannya, Raf." Dava bersuara lemah tak berdaya. Bahkan ia tak sanggup lagi berbicara menatap wajah lawan bicaranya.


__ADS_2