Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 116. Kunjungan Makan Siang


__ADS_3

Di perusahaan D Group. Semua para pekerja tampak terlihat saling sibuk menuju tempat kerja mereka masing-masing.


Begitupula dengan Dava dan Sendi. Mereka mulai sibuk menata laptop dan menandatangani berkas yang baru saja di letakkan di atas meja kerjanya.


Namun, tiba-tiba saja aktifitasnya terhenti kala mendengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangan kerjanya.


Tok Tok Tok


Dava menatap ke arah pintu seketika itu juga keningnya berkerut.


"Boleh saya masuk?" tanyanya.


Dia adalah Sendi. Pria yang baru saja mengetuk pintu untuk meminta masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Silahkan," sahut Dava seraya menutup map yang baru saja ingin ia baca isinya.


"Dav, aku ingin berbicara serius padamu..." Sendi berdiri karena memang Dava belum mempersilahkannya duduk.


"Bisakah kita berbicara di waktu istirahat? Aku sedang sangat banyak kerjaan. Dan ini belum jam istirahat." tolak Dava saat matanya melirik jam di pergelangan tangannya.


Sendi yang menatapnya sangat serius akhirnya memilih mendengar apa kata Dava. Tindakannya kali ini sangat tidak terpuji. Sebagai salah satu pewaris perusahaan D Group tampaknya ia tidak patut melakukan hal ini. Berkeliaran diluar kantor saat jam masih menunjukkan jam kerja.


"Baiklah, aku akan keluar. Jam istirahat aku akan kembali lagi." tuturnya dengan meninggalkan ruangan kerja Dava.


Pintu pun tertutup dengan rapat. Dava hanya menatap kepergiannya dengan wajah tanpa ekspresi. Tangan kekarnya mulai bergerak meraih map yang baru saja ia tutup.

__ADS_1


"Pasti Sendi ingin membahas masalah itu..." Ia memijat sejenak kepala yang kembali terasa berdenyut sangat kencang.


Hatinya terasa tak tenang.


"Apa yang harus aku katakan saat ini? Argh! Kenapa semuanya jadi sulit begini, Tuhan?"


Padatnya kerjaan, membuat semua yang ada di kantor D Group tidak menyadari jam kini telah berada di angkat 12. Yang artinya sudah waktunya jam makan siang.


Di area lorong kantor menuju temat kerja utama, semua mata tertuju dengan pandangan sopan mereka saat melihat sosok wanita yang sudah beberapa hari ini tidak terlihat.


"Selamat siang, Nona."


"Selamat siang, Nona Ruht," Sapaan demi sapaan terus terdengar hingga Ruth yang melangkah terus merespon sapaan mereka dengan ikut tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Siang,"


"Siang,"


"Kalian berdua sama-sama tidak ingat waktu jika sudah bekerja. Tidak heran Ayah angkat Kak Berson mempertahankan aset seperti kalian hihihi... untung saja Dava tidak bernasib sepertimu, Kak." ia terkekeh mengingat jika Sendi hanya menjadi robot penerus perusahaan milik Deni.


Tangannya pun mengetuk pintu ruang kerja sang suami terlebih dahulu. "Boleh aku masuk?" tanyanya setelah memasukkan kepalanya di pintu yang sudah ia buka.


Dava menoleh dengan wajah terkejutnya, karena terlalu serius, ia sampai tidak siap saat mendengar suara ketukan pintu yang pelan.


"Sayang? Em...bagaimana bisa kau kemari?" tanyanya segera menutup halaman yang baru saja ia baca dan segera merapikan jas kemudian berdiri menyambut sang istri did depan pintu.

__ADS_1


"Apa itu tandanya kau tidak suka aku datang?" tanya Ruth dengan wajah ceria yang berubah menjadi cemberut.


"Bukan. Bukan seperti itu. Tetapi aku memintamu istirahat di rumah. Bukan kelayapan seperti ini, Ruth. Apa kau tidak mengerti bagaimana aku mengkhawatirkanmu?"


Cup!


Dengan sigap Ruth mengecup bibir bawel sang suami. Ia tersenyum dan memeluk tubuh tegap Dava. "Aku merindukanmu, Dav." ucapnya lirih.


Keduanya pun saling membalas pelukan tanpa tahu jika dari sudut lain ada sepasang mata yang baru saja mengalihkan pandangannya karena tak sanggup melihat pertunjukan manis nan menyesakkan dada itu.


"Ini makan siang untukmu. Duduk di sini, dan tunggu aku sebentar lagi akan kembali. Okey suamiku?" Ruth mencolek hidung mancung sang suami lalu melangkah keluar dari ruangan Dava.


"Sudah pasti ini untuk Sendi." umpat Dava saat melihat ada dua rantang yang terpisah di meja ruangannya itu.


Matanya bergerak memperhatikan langkah ceria Ruth yang menuju ruang kerja Sendi.


Tok Tok Tok


"Siang Kak. Sudah kuduga kalian berdua pasti tidak akan mengambil jam istirahat siang ini untuk makan." Ruth menyapa dengan ramahnya.


"Siang, kerjaanku masih banyak Ruth." sahut Sendi yang tak berniat sama sekali menatap wajah yang sangat ia rindukan.


"Kak," Ruth duduk tepat di depan Sendi. Ia sudah melipat kedua tangannya di atas meja kerja sang kakak dan menatap wajah manis itu.


"Nanti aku akan makan siang. Kau tidak perlu khawatir, Ruth." tutur Sendi tanpa menghentikan aktifitasnya.

__ADS_1


"Aku sudah membawakan makan siang untukmu. Ayo ikut aku." Ia menarik cepat tangan Sendi tanpa mau mendengarkan penolakan lagi.


__ADS_2