
Seminggu telah berlalu dengan segala kebahagiaan yang terus tercipta. Hingga kini tiba saatnya untuk sang pengantin lama yang telah melewatkan bulan madu dadakan itu tiba di bandara Halim Perdana Kusuma.
Ada yang berbeda kali ini dengan kepulangan Sendi dan juga Dina. Dua tangan yang saling menggenggam sementara tangan satunya tampak menggeret koper besar mereka masing-masing.
"Hati-hati, Sayang." tutur Sendi melihat begitu banyaknya pengunjung bandara membuat keduanya kesulitan untuk melangkah dengan barang yang begitu padat mengisi kopernya.
Panggilan yang romantis memang, namun sudah terdengar biasa untuk Dina. Yah, sejak seminggu mereka menghabiskan waktu bersama kini semuanya begitu saling menyayangi satu sama lain.
"Bisakah kita langsung singgah makan, Sen? perutku sangat lapar sekali." Dina bertanya dengan wajah yang lemas.
"Sayang, kasihan Bunda di rumah..." Sendi pun menggantung ucapannya kala melihat wajah sang istri yang tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya lagi. Lalu ia melanjutkannya. "Baiklah, ayo kita mampir makan. Tapi sedikit saja yah? kasihan Bunda dan yang lainnya mereka sudah menyiapkan makan untuk kita pasti."
Mendengar hal itu, Dina pun segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Seperti dugaan Sendi dan juga Dina, di sini di rumah yang menyerupai istana dengan desain modern tampak sangat ramai.
Wuri dan Sarah sudah datang sejak pagi untuk membantu Tarisya dan pelayan menyiapkan segala menu makanan untuk menyambut kedatangan anak mereka.
"Bunda, apa Kak Berson sudah memberi kabar saat ini?" tanya Ruth yang tengah menimang baby Rava kala itu.
Sang bunda terlihat menggelengkan kepalanya pelan, sedari tadi ia mencoba menghubungi sang anak namun panggilan tersebut masih tidak bisa terhubung.
"Nomornya masih tidak aktif, Shandy. Padahal jam landingnya sudah sepuluh menit yang lalu." Terlihat raut wajah cemas di wajah wanita tua itu.
"Astagfirullah Putri..." Semua sampai terlihat mengusap dada syok mendengar suara yang di ciptakan sepeda kecil sang bocah.
"Ayah...Putri kangen." rengeknya meloncat pada gendongan Dava yang menenteng tas kerja. Pria gagah itu mengusap kepala sang anak lalu melangkah mendekati sang istri.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Dav." Ruth mencium punggung tangan pria yang baru saja pulang itu.
"Waalaikum salam, Sayang. Apa Rava rewel hari ini?" matanya tertuju langsung pada sang bayi yang terlelap di gendongan sang istri.
"Iya, Ayah. Seharian ini dedek Rava rewel betul. Tapi baru aja dia bobok. Jangan-jangan dedek boboknya bohongan lagi, gara-gara Ayah datang takut di marahin." cetus Putri masih melingkarkan tangan pada bahu sang ayah sembari menyandarkan kepala pada leher sang ayah.
Semua tertawa mendengarnya. "Bagaimana bisa Putri tahu kalo adek Rava bohongan tidurnya? hem."
"Yah tebak-tebakan aja, Ayah..." tuturnya menyengir tanpa rasa bersalah.
"Apa Sendi masih belum datang juga?" tanya Dava melihat ham di tangannya. Seharusnya saat ini mereka sudah sampai di rumah, karena Dava memang sedikit terlambat pulangnya.
Setelah itu, Dava pun melangkah mendekati sang ayah yang duduk di sofa. "Ayah, hari ini perusahaan kita berhasil meningkatkan penjualan dari sebelumnya, bahkan investor dari beberapa perusahaan asing mendadak ingin menanamkan saham di perusahaan kita." Senyuman puas terbit di wajah pria tua itu.
__ADS_1
"Tolak mereka semua." suara dingin milik Tuan William seketika membuat senyuman di wajah Dava langsung lenyap saat itu juga.