Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 201. Menghabiskan Waktu Bersama


__ADS_3

Setelah selesai dengan ritual sarapan bersama, kini satu persatu mulai meneguk air mineral di dalam gelas yang sudah di persiapkan oleh Mbok Nan sebelumnya.


Kini saatnya Tuan Wilson sebagai kepala rumah tangga mulai berbicara. Ia melipat tangannya di atas meja dengan gerakan sedikit kaku lalu menatap satu persatu wajah yang duduk di hadapannya saat ini.


"Ayah minta...tidak ada satu pun dari kalian yang akan pergi atau memilih untuk hidup sendiri di luar sana. Rumah ini akan menjadi saksi hidup kita bersama hingga panggilan dari sang kuasa yang memanggil kita satu persatu. Apa permintaan Ayah ini bisa kalian sanggupi?" Ruth yang kembali teringat permintaannya pada sang bunda hanya bisa menunduk tanpa bisa mengatakan apa pun.


Mau sampai kapan ia harus tinggal bersama pria yang begitu ia cintai namun tidak bisa ia miliki. Sungguh permintaan sang ayah benar-benar menyakiti hatinya semakin dalam.


"Ayah..." Suara Ruth yang tiba-tiba terhenti kala merasakan tangannya menghangat karena genggaman dari seorang pria.


Dava memejamkan matanya sekilas seolah memberitahu padanya untuk tidak mengatakan apa pun. Dan Ruth akhirnya mengangguk patuh. Ia tidak seharusnya membantah, kesehatan sang ayah sangatlah penting kali ini dari segalanya.


Sebagai anak tertua, Dava mengambil alih semuanya. "Kami berjanji akan tetap tinggal di rumah ini, Ayah. Kami akan menemani hari tua kalian." Semua menatap ke arah Dava berada kini. Begitu pula dengan Ruth yang menatap terkejut.


Ia sangat tidak sanggup untuk menepati janji itu, tetapi Dava mengatakannya seolah sudah mewakili semua anak-anak generasi penerus keluarga Nicolas.


Tuan Wilson dan Tarisya pun tersenyum lega mendengarnya. "Ayah lega mendengarnya. Terimakasih, Sayang. Kalian sungguh anak-anak yang baik."


Hari ini adalah hari yang paling bersejarah bagi mereka semua. Tidak ada satu pun yang boleh melakukan kegiatan di luar rumah kecuali ikut berkumpul di dalam rumah menikmati satu hari libur untuk saling berbincang-bincang.

__ADS_1


Dava, Sendi, dan Tuan Wilson, para pria itu duduk di sofa menikmati cemilan dan juga kopi yang di sediakan Tarisya usai jam menunjukkan pukul sepuluh menjelang siang.


Sedangkan para wanita yang memutuskan untuk menikmati waktu mereka dengan berkreasi di dapur tampak sangat ramai sekali.


Wuri dan Sarah yang juga menghabiskan waktu mereka di kediaman sang besan tampak sangat menikmatinya.


"Sar, apa kabar yah dengan Anjani?" tiba-tiba saja Wuri mengingat gadis kecil yang sudah beberapa hari ini meninggalkan rumah mereka.


Seperti yang ia nasihatkan pada gadis kecil itu agar tetap mempertahankan kedudukannya sebagai anak di rumah sang ayah. Dengan patuh Anjani menurut untuk kembali ke rumah ayahnya meski begitu berat ia menjadi saksi kebahagiaan papinya dengan mami baru yang adalah musuhnya sendiri.


"Iya yah. Semoga dia baik-baik saja. Kasihan sekali gadis itu." sahut Sarah prihatin.


Namun, saat keduanya tengah asik membuat puding dengan ukiran bunga-bunga di dalamnya, tiba-tiba saja ponsel milik Sarah berdering.


"Oh ya Allah. Panjang umur sekali anak ini." tuturnya tersenyum dan segera mengelap tangan yang kotor itu lalu menempelkan ponselnya di daun telinga miliknya.


"Halo..." sapanya tersenyum.


"Ibu, apa kabar?" Anjani bersuara dengan sangat lemah.

__ADS_1


"Hei, Ibu baik. Baru saja Ibu dan Tante membicarakanmu, eh tiba-tiba sudah menelpon saja. Bagaimana keadaanmu, Anjani?" tanya Sarah dengan wajah penuh perhatian.


Semua yang ada di dapur tampak memperhatikan Sarah saat itu.


"Anjani tidak baik-baik saja, Bu. Bisakah hari ini kita bertemu?" ia bersuara lirih menampakkan hatinya yang sedang tak berdaya.


Sarah ingin sekali menolak karena hari ini adalah hari mereka berkumpul sekeluarga. Tetapi jika ia menolaknya, sungguh kasihan sekali dengan nasib gadis kecil itu, pikirnya.


"Baiklah, siang nanti setelah makan siang kita bertemu yah?" Sarah pun menyetujui dan memilih jam usai makan siang.


"Baik, Bu. Nanti Anjani saja yang menjemput Ibu."


Akhirnya sambungan telepon pun berakhir setelah keduanya saling mengucapkan salam.


"Siapa, Bu? tanya Ruth yang kebetulan berada di samping Sarah baru saja.


"Oh...ini namanya Anjani. Dia pernah di tolong Dava beberapa hari lalu." jawab Sarah dengan tersenyum ramah.


Ruth yang mendengar nama Dava, langsung merasa cemburu. Hatinya sedang tidak baik saat ini dan tentu saja hal itu akan membuatnya sangat sensitif sekali jika ada hal yang mengganjal.

__ADS_1


__ADS_2