
Di rumah, sosok wanita cantik tanpa polesan make up terlihat gelisah. Berkali-kali ia menatap ponselnya seakan menunggu kabar dari seseorang.
Kesunyian di dalam rumah itu tentu saja membuatnya tidak bisa betah untuk satu hari penuh sendiri di rumah. Wanita yang selalu berkerja keras sedari dulu, kini menjadi ratu di rumah hingga beberapa bulan kedepan.
"Huh...aku benar-benar bosan sekali, Dav. Bahkan jam makan siang pun kau tidak ada menghubungiku." ucapnya dengan kesal.
Matanya menatap layar ponsel yang menunjukkan jam sudah hampir melewati waktu makan siang. Dengan wajah bimbang akhirnya Ruth tersenyum ceria. "Ah yah...sebaiknya aku bawakan makan saja untuknya dan juga kakak. Mereka pasti tidak akan marah jika aku datang ke kantor untuk membawakan mereka makanan. Ku bilang saja ini maunya anak kita. Iya kan, Sayang? Kamu mau makan siang bersama Ayah kan?" Di elusnya perut yang masih rata itu lalu segera bergegas pergi ke dapur.
"Selamat siang Nona Ruth," sapa beberapa pekerja yang kebetulan lewat di dalam kantor itu untuk mengantarkan berkas ke bagian yang ia tuju.
Ruth membalas sapaan tersebut dengan tersenyum dan mengatakan, "Selamat siang juga."
Kini ia sudah berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas dimana sang suami dan sang kakak bekerja saat ini. Wajahnya terus ia usap dengan tisu mulai dari turun dari taksi. Takut takut jika Dava mencemaskan keadaannya karena berkeringat.
Sementara di sisi lain, tanpa Ruth ketahui seorang pria sudah gelisah mencoba menghubungi sang tuan muda.
__ADS_1
"Tuan Dava kemana sih? Istrinya keluar rumah tidak mungkin aku yang melarang. Tentu saja Nona Ruth akan mengamuk," gerutunya menelepon berkali-kali namun masih tak ada jawaban.
"Biarlah. Mungkin Tuan tidak akan marah. Toh istrinya pergi ke kantor menemuinya kan?" sahut salah satu bodyguard suruhan Dava.
Mendengar penuturan sang kawan, ia pun mengangguk paham. Tentu saja benar, tidak akan mungkin Dava memarahi mereka karena membiarkan istrinya keluar. Tugasnya adalah menjaga dengan baik, bukan melarangnya untuk keluar dan membuat sang istri akan marah pada mereka semua.
Senyuman lebar terlukis indah di wajah wanita berbadan dua itu. Ia merapikan kembali rambutnya dan memastikan dua rantang di tangannya baik-baik saja.
"Selamat siang, Nona..." sapa wanita bagian receptionis yang ingin beranjak makan siang namun berselisih dengannya.
"Oh, hei. Selamat siang. Pak Davanya masih di ruangan kerjanya kan? beliau belum makan siang kan?" tanya Ruth dengan akrabnya pada sang karyawan.
Mendengar kedatangan tamu, wajah Ruth langsung menatap bingung. "Tamu? Pria atau...wanita?" ia mulai ketar ketir saat mendengar baru kali ini sang suami kedatangan tamu bahkan tidak menelponnya apa karena tamu tersebut.
Hatinya mulai merasa ada yang tidak enak akan terjadi. Dadanya berdetak tak karuan.
__ADS_1
"Itu, Nona...wanita. Tadi sih katanya-" Belum sempat wanita itu menjelaskan pada Ruth, ia sudah tertinggal jauh dengan langkah sang atasan.
Ruth berjalan cepat menuju ruang kerja sang suami. Keberadaan sang kakak yang tidak terlihat olehnya tak menjadi beban lagi saat ini. Ia acuh dengan ruangan kerja Sendi yang kosong. Pikirannya kini hanya di penuhi oleh wanita asing. Siapa wanita itu? Apakah dia selingkuhan Dava? Apakah itu yang menjadi alasan Dava melarangnya pergi ke kantor dan hanya boleh di rumah saja? Tidak. Ini tidak benar.
"Tidak, Dav. Kau tidak mungkin selingkuh dariku kan?" batinnya ingin menangis kala membayangkan jika pernikahannya kali ini akan hancur dengan hadirnya orang ketiga lagi.
Jika sebelumnya ia dan Sendi adalah sepasang kekasih, dan hancurnya hubungan mereka karena kehadiran Dina yang menjadi jodohnya saat itu.
Ceklek!
Terdengar suara pintu yang terbuka dengan cepat. Tak ada ketukan bahkan suara apa pun.
Semua mata yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah pintu yang terbuka.
Pikiran kacau, dan air mata yang sudah menggenang pun tumpah begitu saja. Ia tak bisa mengendalikan segala perasanaan emosionalnya.
__ADS_1
Entah mungkin ini adalah sebab dari masa kehamilan yang membuatnya menjadi jauh lebih sensitif.
"Dav," tuturnya lirih.