Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 102. Sakitnya Sendi


__ADS_3

Cinta yang terlalu begitu sempurna, setetes pun melakukan kesalahan tentu akan sangat terasa begitu menyakitkan. Kasih sayang yang selalu Dava berikan pada wanita itu, kini membuatnya terasa sangat kehilangan saat beberapa saat ia meninggalkannya.


Di sini, Ruth sudah menangis memberontak. Sendi sampai harus meminta bantuan beberapa suster untuk memegang sang adik.


"Ruth, tenanglah. Dava hanya pergi sebentar. Dia akan segera kembali." ucapnya menangkup wajah wanita yang sangat ia cintai sampai detik ini.


Ruth masih menggelengkan kepala. Berusaha keras untuk keluar dari ruangan itu. Ia tidak percaya apa yang di katakan Sendi padanya barusan. Bisa saja, Sendi telah melakukan suatu hal pada sang suami, dan membuatnya harus tetap bersamanya saat ini.


"Tidak, Kak. Tidak. Aku yakin ini semua pasti ulah Kakak. Iya kan?" tangis Ruth semakin menjadi.


"Ibu, tenanglah. Pikirkan keadaan janin anda saat ini." ucap sang suster yang berusaha memegang sebelah tangan Ruth.


"Tidak. Kalian semua pembohong. Lepaskan aku!" Tangan Ruth sekuat tenaga ia gerakkan namun masih tidak berhasil juga.


Ia merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya. Tangannya pun tidak bisa melakukan apa pun kali ini. Kedua kaki dan kedua tangannya sudah di genggam erat oleh beberapa suster yang membantu Sendi.


"Dava, tolong aku. Dimana kamu sekarang, Sayang?" lirih Ruth berucap penuh permohonan.

__ADS_1


Sendi menatap dalam diam saat mendengar ucapan sang adik. Matanya mendadak sendu saat mendengar jelas permohonan wanita cantik itu.


Ia memejamkan mata sejenak. Sementara sang suster tengah memberikan penenang pada Ruth.


"Dav, kamu akan kembali padaku, kan? Anak kita akan hadir sebentar lagi. Aku mengkhawatirkanmu, suamiku. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku bersama Kak Berson, Dav?" ucapan ucapan lirih terus terdengar mengiringi mata cokelat nan indah yang perlahan mulai terpejam dan tak lagi mengeluarkan racauan.


"Terimakasih, Sus. Kalian boleh pergi sekarang." pintah Sendi dengan wajah lemas tak berdaya.


Sebelum kejadian saat ini, hatinya terasa sedikit berbunga saat mendapatkan kesempatan untuk bersama wanita yang terbaring lemah saat ini. Mungkin Sendi berpikir jika Tuhan telah memberikan sedikit peluang untuknya merebut kekasih hatinya kembali. Tapi, setelah mendengar apa yang di katakan Ruth, hatinya mendadak lemah tak memiliki semangat apa pun lagi.


"Sebesar itu cintamu, Ruth padanya?" tanya Sendi mendekati wanita yang sudah terpejam dalam tidurnya.


Matanya menatap dengan jarak sangat dekat wanita cantik di hadapannya. Tangannya mampu menggenggam dengan penuh cinta, tapi apa yang hatinya dapatkan? Hanya luka yang teramat sakit. Mampu menatap dan menggenggam. Tetapi tak mampu untuk mendapatkan balasan yang sama seperti yang ia berikan. Bahkan untuk menyentuh hatinya pun, Sendi tak mampu.


"Mungkin aku mampu menebus segala salahku dengan cara menjadi kakak yang tulus untukmu, Ruth. Tetapi bagaimana aku memaksa hati ini untuk mencintaimu sebagai adik? Jika hatikuĀ  saja masih sangat besar berharap denganmu." Sendi menatap sendu wajah yang terpejam di depannya.


Kesempatan yang di berikan oleh Dava, sepertinya bukanlah peluang. Melainkan sebuah tamparan kesadaran untuknya. Agar menyadari siapa dirinya saat ini di hati sang adik.

__ADS_1


"Dava...Dava...jangan pergi! Aku tidak ingin sendirian di sini."


"Dav..." Ruth menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri.


"Dava..."


"Aku mohon...aku sangat mencintaimu, Sayang. Tolong jangan tinggalkan aku dan anak kita." Ruth mulai bersuara dalam tidur lelapnya.


Tubuhnya terus bergerak ke kanan dan kekiri. Keringat pun terus bermunculan di keningnya. Sendi tahu akan hal itu. Namun ia hanya diam membisu. Tubuhnya terasa kaku saat terus mendengarkan apa yang wanita itu katakan.


Sungguh kali ini Sendi tidak akan kuat lagi mendengarnya. Ia bergerak dari tempat duduk dan berdiri. Tangannya meraih ponsel yang ada di sakunya.


"Dava..." terus Ruth bergumam tanpa Sendi hiraukan lagi.


Kini sambungan telepon pun terhubung.


"Halo," Suara yang selalu terdengar tegas jika berbicara padanya kini terdengar sangat lemah.

__ADS_1


"Dava, kembalilah...aku mohooooon." Tangisan isak pilu terdengar di seberang telepon tersebut.


Sendi bahkan sampai meneteskan air mata saat menempelkan telepon itu pada telinganya sendiri. Bibirnya seakan kelu ingin bersuara menyapa Dava.


__ADS_2