
Di antara banyaknya meja bundar yang tertata dengan rapi, kini salah satu meja itu menjadi tempat utama kedua mempelai pengantin duduk setelah bersaliman dan memeluk hangat tamu spesial milik sang ayah.
Pandangan Tuan dan Nyonya Fredi tak lepas dari wajah wanita yang malam ini menjadi ratu tercanti di antara lainnya.
Tuan Fredi bahkan menggeleng dan juga tersenyum. "Wilson, dia sangat cantik. Benar-benar cantik. Iya kan Mami?" tanyanya pada sang istri yang juga mengagumi kecantikan wanita bermata seperti memakai softlens itu.
Nyonya Hana turut mengangguk. "Benar yang Papi katakan. Ah...rasanya senang sekali melihat wajahmu Shandy. Dulu kau memang sangat cantik dari kecil. Maka dari itu Bibi tidak ambil pusing melihat wajahmua yang saat ini sudah seperti peri." tambah Nyonya Hana.
"Dari kecil?" Kening Ruth mengernyit merasa tidak mengingat siapa yang berbicara di depannya saat ini.
Ia hanya berpikir jika mereka adalah rekan bisnis ayahnya dulu, namun tak di sangka jika sepasang suami istri itu ternyata juga mengenalnya.
Tak canggung lagi, Tuan dan Nyonya Fredi sudah mendengar semua cerita tentang Dava dan Ruth dari sang sahabat. Awalnya Tuan Wilson sama sekali tidak ingin membuka masalah keluarganya di masa lalu, namun pernikahan Dava dan Ruthlah yang terpaksa membuat pria tua itu berbicara terus terang.
Karena bagaimana pun juga, Tuan Fredi sang tahu jika Shandy adalah anak mereka dan begitu juga dengan Jeff yang menjadi anak pertama mereka.
"Bukankah Jeff dan Shandy adalah adik kakak, Wilson? Bagaimana bisa mereka menikah? Dan kau menyetujuinya?" Itulah pertanyaan yang terucap begitu saja dari bibir Tuan Fredi saat di telepon.
Setelah pengurusan rumah baru mereka selesai, Tuan Wilson sengaja memberitahu sang sahabat agar pernikahan anaknya akan di laksanakan di rumah baru mereka. Tidak mungkin, jika ia tidak mengundang satu-satunya sahabat yang sudah seperti keluarga untuknya itu.
Dengan senang hati, Tuan Fredi bercerita tentang masa itu. "Yah Shandy. Kau adalah anak kecil yang sempat Paman ingin pinjamg. Hehehe...dulu memang pikiran Paman sedikit goyang makanya ingin meminjammu saja sudah seperti barang saja." celetuk Tuan Fredi terkekeh.
"Beliau adalah sahabat Ayah, Shandy. Tuan Fredi sahabat sekaligus keluarga kita satu-satunya. Dulu saat kalian masih kecil, kalian sering sekali di kunjungi oleh mereka. Termasuk kedua kakakmu, mereka selalu berebut kasih sayang dari Pamanmu itu." tutur Tuan Wilson panjang lebar dan semua yang ada di meja bundar tersebut mendengarkan cerita itu kembali.
Karena memang tinggal Ruth yang tidak tahu jalan cerita masa lalu itu, Dava dan Sendi yang sudah tumbuh besar lebih dulu bisa mengingat memori masa lalu yang sempat hilang. Beruntung saat ini mereka sudah bisa mengingatnya dengan baik.
Jarum jam di dinding kini perlahan mulai bergeser tanpa terasa. Malam yang sangat menyenangkan tanpa terasa kini sudah berakhir begitu saja kala jarum jam yang paling pendek tertuju di angka sepuluh.
Seperti undangan yang sudah di sebarkan, acara akan selesai di jam sepuluh malam.
Acara yang memang di rancang hanya untuk saling bersapa hangat dan menikmati makan malam santai. Tidak seperti acara pernikahan pada umumnya yang begitu banyak acaranya. Bahkan Ruth hanya mengenakan pakaian pengantin dua macam saja. Di pagi hari satu dan di sore hari satu. Tidak ada gaun pengganti lagi.
"Huh...akhirnya selesai juga." Dava tersenyum lebar kala melihat dua tangan panjang milik sang istri melayang ke udara.
Jelas terlihat jika ia melepaskan rasa lelahnya setelah seharian full menjalankan prosesi pernikahan.
Keduanya kini sudah berada di kamar yang berhias bunga-buang segar. Dava berjalan mendekati sang istri yang tengah melepas segala pernak-pernik di kepalanya.
"Bagaimana? Apa kau sudah tidak memiliki beban pikiran lagi?" tanya Dava seraya melingkarkan tangan besarnya pada perut ramping sang istri yang masih terbalut dengan korslet.
Yah, sampai hari sepenting ini pun Tarisya, sang bunda tidak membiarkan benda kain itu tertinggal di dari tubuh sang anak.
Ia tidak akan rela melihat tubuh anaknya melebar nantinya.
"Yah, aku sangat merasakan lega di dadaku. Terimakasih yah." Ruth menggenggam erat tangan milik sang suami yang melingkar di tubuhnya.
Namun, sayangnya pelukan yang Dava berikan pada sang istri justru menjadi boomerang untuknya di malam pengantin mereka.
Aroma khas tubuh sang wanitanya nyatanya kini mampu membuat seluruh bulu di tubuh pria tampan itu berdiri serentak. Dava memejamkan mata kala menikmati aroma yang sangat ingin ia rasakan lebih dalam lagi di sana.
"Dav," lirih Ruth saat menyadari ada yang tidak beres di belakangnya.
Segera saat tak ada jawaban dari prianya, Ruth pun membalikkan tubuh hingga kini mereka berdua saling berhadapan.
Di tatapnya mata bulat hitam milik sang suami yang sudah berubah menjadi sendu. Ada sesuatu yang tengah ia pertahankan untuk bisa mengendalikan tubuhnya.
Sebagai wanita yang sudah pernah menjalani peran sebagai seorang istri, tentu saja Ruth paham apa yang di butuhkan sang suami.
"Baiklah, aku akan membantumu." Bibir merah gelap di depannya masih tak bergeming juga. Dava memilih pasrah apa pun yang akan di lakukan sang istri padanya.
Ia terdiam dan hanya memperhatikan sang istri yang mulai melepaskan satu persatu kancing baju pengantinnya. Tangan lentik itu sesekali menelusup ke dada bidang sang suami memberikan sentuhan-sentuhan yang terasa seperti sengatan listrik untuk Dava.
Keduanya berjalan menuju meja rias yang bernuansa serba putih. Ruth mendudukkan sang suami di kursi riasnya.
Dava yang merasakan tidak tahan lagi, segera meraup habis bibir sang istri. Ia menekan ceruk leher sang istri agar bisa meraup lebih dalam lagi.
Hingga tanpa sadar, keduanya pun kini sudah sama-sama polos. Tentu saja pengantin baru yang ini sangat berbeda dengan pengantin baru lainnya.
__ADS_1
Sudah berpengalaman dan dengan orang yang sama pula. Tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka malam ini. Bahkan lampu di kamar pengantin pun begitu cerah menyorot tubuh putih keduanya.
Erangan napas Dava yang tertahan seketika terhenti saat tangannya merasakan sesuatu di bawa sana ada yang berbeda.
"Ruth, ada apa ini? Apa rasanya sakit?" tanya Dava begitu terkejut merasakan kasar di bagian pinggang sang istri.
Ia benar-benar menampakkan wajah cemasnya sembari mengusap-usapnya dengan sangat pelan.
"Maaf," Ruth berucap menunduk.
"Aku cacat, Dav." ujarnya semakin merendahkan suara karena merasa malu pada suaminya kini.
"Cacat? Apa maksudnya? Apa yang membuatmu seperti ini? Katakan Ruth? Siapa yang membuat ini semua?" Dava sangat panik melihat raut wajah sang istri yang begitu menyedihkan tanpa berani menatapnya lagi saat ini.
Stretch mark, yah itulah yang di katakan cacat oleh Ruth pada sang suami. Tanpa sadar ia berucap ambigu seperti itu justru membuat sang suami jadi semakin cemas memikirkannya.
"Dav, ini bukan ulah siapa pun." ucapnya namun Dava segera bertanya lagi.
"Lalu? jika bukan siapa pun? Apa yang membuatmu seperti ini, Ruth. Kita harus segera ke rumah sakit. Ayo..." Dava sudah menggenggam tangan sang istri hendak membawanya keluar kamar.
Hilang sudah hasrat yang menggebu sejak pagi tadi. Kini yang terlihat hanya tatapan penuh kecemasan di wajah Dava.
"Dav, ini bukan penyakit yang perlu di khawatirkan. Ini takdir wanita yang sudah memiliki anak, Dav." terang Ruth sembari melepaskan genggaman sang suami dan menangkup wajah tampan itu.
"Takdir? Maksudnya?" tanya Dava lagi.
Kulit mulus yang ia lihat begitu membuatnya cemas kala melihat banyak goresan sepeti sayatan yang tidak mengeluarkan darah di pinggang sang istri. Sungguh miris melihatnya. Bukan karena Dava tidak bisa menerima kekurangan sang istri. Namun ia yang merasa asing dengan tanda kulit seperti itu merasa ngilu.
Karena dalam bayangannya stretch mark itu pasti rasanya sangat sakit sekali.
"Yah, ini karena faktor kulit yang tertarik melebar saat masa kehamilan di usianya yang semakin membesar. Jadi ini tidak sakit sama sekali." jawab Ruth merasa tidak percaya diri setelah melihat kepanikan sang suami.
Dava pun terdiam mendengarnya. Ia merasa kasihan pada wanitanya kala ini. Sebab mengandung sang anak darinya membuat Ruth memiliki tubuh yang tidak semulus dahulu kala lagi.
"Jika itu karena aku, maafkan aku, Sayang. Maaf karena aku sudah membuat tubuhmu tidak seperti dulu lagi. Tapi aku berjanji kau adalah satu-satunya wanita yang akan tetap ku cintai. Apa pun yang berubah dalam dirimu tidak akan bisa merubah rasaku padamu, Ruth. Aku sangat mencintaimu, Istriku. Maaf, karena aku begitu cemas melihatnya. Karena ku pikir itu akan sangat menyakitkan untukmu." ia benar-benar merasa bersalah saat ini.
Ruth menggeleng dan tersenyum. Ia kini di buat semakin jatuh cinta lagi pada pria yang baru saja sah menjadi suaminya itu.
"Dav, aku begitu bahagia menjadi wanita satu-satunya yang kau cintai. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu. Terimakasih, suamiku." tuturnya dengan memeluk tubuh Dava yang masih terlihat raut kesedihan di sana.
Keduanya saling berpelukan, mereka yang telah melewatkan hasrat yang menggelora tanpa menuntaskan apa yang ingin mereka tuntaskan. Kini akhirnya Dava dan Ruth memutuskan untuk membersihkan diri bersama di kamar mandi setelah melihat reaksi milik Dava yang sudah terlelap di bawah sana karena syok di buat sang tuan tampan.
Di kamar yang berbeda, kini wanita minim pengalaman itu tengah di sibukkan dengan sang bayi yang sengaja di minta untuk mengasuh satu malam saja. Awalnya Ruth ragu untuk mengiyakan permintaan sang kakak ipar, namun Dina terlihat begitu ingin merawat sang keponakan Rava walau hanya sat malam saja.
Jika bukan dia lalu siapa lagi, sang nenek yang sudah begitu tua tidak mungkin bisa merawat cucunya yang masih merah itu.
"Apa sebaiknya kita bawa ke kamar mamahnya saja, Dina?" tanya Sendi yang merasakan kantuk luar biasa namun tak bisa tidur melihat sang istri sibuk mengayun baby Rava di pangkuannya.
"Sendi, mereka sedang malam pertama. Biarkan mereka menikmatinya dulu, Kasihan Ruth. Lagi pula aku sangat ingin merasakan merawat bayi, meski cuma satu malam. Tapi aku rasa ini kesempatan emas. Rasanya sungguh menyenangkan." Ada perasaan kasihan kala mendengar ucapan sang istri kala itu.
Sendi tahu, di balik senyuman sang istri di sana ada kesedihan yang mendalam yang berusaha ia terima sampai saat ini. Takdir yang begitu kejam merenggut rahimnya membuat Dina tak bisa melakukan protes apa pun selain tetap ikhlas menjalani kehidupan yang sudah di gariskan oleh sang kuasa.
Jarum jam yang kini bergerak hingga di angka setengah dua belas malam membuat Sendi tanpa sadar terpejam perlahan-lahan hingga terdengar dengkuran napas yang begitu teratur.
Semua di rumah itu tampak terpejam menikmati tubuh yang ingin mengistirahatkan diri dari rasa penat yang menyerang.
Kecuali wanita dengan anak bayi itu.
Malam ini Dina di buat benar-benar merasakan peran seorang ibu oleh Rava. Bayi kecil itu sama sekali tidak ingin menutup mata. Ia terus menggeliat jika tak mendengar suara Dina mengajaknya berbicara.
Nina bobo oh nina bobo
Kalau tidak bobok aunty Dina nangis
Rava bobo oh Rava bobo
Kalau tidak bobok nanti aunty gigit.
__ADS_1
Suara lembut sosok Dina di tengah malam itu kini perlahan-lahan justru membuat matanya sendiri yang tertutup. Sumpah demi apa pun ia begitu sangat menikmati perannya sebagai ibu pengganti malam ini. Tak perduli seberapa lelah tubuhnya kini, yang ia tahu malam ini Rava bisa terlelap di pangkuannya.
Yah meski yang terjadi sebenarnya justru terbalik. Dina yang terlelap memangku baby Rava.
Hingga tanpa sadar, ia tertidur menyandarkan kepalanya pada dinding. Sedangkan sang bayi yang sudah mengerjainya habis-habisan itu kini diam dengan kedua mata yang masih tetap terbuka lebar.
Hingga jam yang sudah menunjukkan waktu subuh pun terdengar mengumandangkan adzan.
"Allahuakbar...Ya Allah akhirnya sudah pagi lagi. Tapi rasanya masya Allah ngantuk puol." Mbok Nan bergumam sendiri di depan kamarnya kala menatap seluruh sudut rumah yang sangat luas itu masih nampak hening dan gelap.
Pun dengan ketiga asisten di rumah tersebut, Sirine.
"Itu mana lagi Si Sirine? Kok belum pada bangun jam segini? Memangnya anak muda jaman sekarang memang sukanya bangun siang-siang." Mbok Nan tampak menggelengkan kepalanya sembari melangkah menuju tempat wudhu yang memang sudah di siapkan.
"Astagfirullah..." Mbok Nan terperanjat kala mendengar tiba-tiba lampu menyala di bagian ruangan dapur.
"Mbok," Ternyata pria itu adalah Dava. Ia sudah tampak segar dengan wajah yang basah.
Mbok Nan yang terkejut seketika tersenyum melihat sang tuan yang sudah begitu bercahaya. Tentu saja itu karena air wudhu.
"Masya Allah, Tuan. Mbok sampai pangling lihatnya. Bercahaya sekali." ucapnya berseri-seri memuji ketampanan sosok Dava.
Dava menghela napas dan tersenyum. "Mbok ini ada-ada saja. Mau solat? Ayo biar sama-sama saja." Ajak Dava yang mengetahui kebiasaan wanita tua itu.
Akhirnya setelah beberapa saat Dava menunggu d mushollah yang ada di rumah megah milik sang mertua, kini Mbok Nan ikut solat. Di sana tentu sudah ada Tuan dan Nyonya Wilson.
Dava yang notabennya memang belum banyak hapal dengan bacaan sholat meminta sang ayah mertua mengimami mereka.
"Ayah, maaf. Saya masih belum hapal doa-doanya. Saya masih baca buku kalau solat. Bisa Ayah yang jadi imamnya?" tanyanya karena takut jika salah dalam bacaan solat sementara di belakangnya sudah ada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
Dengan senang hati Tuan Wilson menyanggupinya. "Baik, Ayah akan jadi imam." jawab Tuan Wilson.
Kini keempat orang itu sudah selesai melaksanakan solat subuh dengan khusyuk. Tertinggal tiga asisten rumah tangga, Putri, sepasang suami istri yang mendadak menjadi orangtua asuh baby Rava, dan juga Ruth yang memang belum bisa ikut untuk solat saat ini.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali menggema di depan kamar Sendi dan Dina. Keduanya masih tak bergeming dari posisi tidurnya masing-masing.
Sekali lagi Dava mengetuk pintu itu.
Tok Tok Tok
"Dina!"
"Sendi!" panggilnya tanpa berteriak di depan pintu kamar mereka.
Masih hening, tak ada jawaban sama sekali.
Dava sangat merindukan sang anak, namun ia merasa tidak enak kala harus membuka pintu tanpa tahu sedang apa pasangan suami istri di dalam sana.
"Sudahlah sepertinya mereka masih tidur." Baru saja punggung pria tampan itu berbalik, ia segera menghentikan langkah kaki yang ingin menjauh saat mendengar suara pintu terbuka.
"Eh, Dav." sapa Sendi sembari mengusap kasar matanya.
"Maaf mengganggumu. Aku ingin mengambil Rava." sahut Dava tanpa ekspresi.
Sendi pun membuka pintu itu dengan lebar setelah tadi ia hanya mencondongkan kepalanya saja keluar pintu kamarnya.
Kedua pria itu berdekatan lalu menatap ke dalam kamar. Disana terlihat sosok wanita yang begitu kasihan tampaknya. Dina tidur terduduk sepanjang malam dengan memangku sang baby Rava yang juga tertidur lelap di pangkuannya.
Dava dan Sendi saling menatap. Mereka tahu kesedihan seperti apa yang Dina rasakan saat ini. Di luaran sana begitu banyak wanita yang merasakan moment membesarkan anak dari proses hamil selama sembilan bulan, melahirkan, begadang setiap malam menidurkan anak hingga menghadapi begitu nakalnya anak-anaknya di masa pertumbuhan yang semakin besar.
Namun sayang, itu semua tidak bisa Dina rasakan. Hatinya hanya bisa berusaha menghilangkan rasa inginnya dan mengubur dalam-dalam harapan yang sampai kapan pun tidak akan bisa terwujud itu.
Melihati itu, membuat Dava tak sampai hati untuk mengambil sang anak pagi ini. "Baiklah, kalau begitu aku ke kamar dulu. Biarkan Dina sampai bangun dulu. Kasihan dia pasti sangat mengantuk menjaga Rava semalaman. Aku takuk jika mengambil Rava akan membuatnya terbangun."
Sendi terdiam setelah mengangguk, ia hanya menatap kepergian Dava yang meninggalkannya saat ini menuju kamar pengantinnya lagi.
__ADS_1
"Huh...pagi ini rasanya seperti berbeda. Mengapa hatiku mulai tidak sesesak seperti biasanya?" batin Sendi kala memegang dadanya yang terasa baik-baik saja.