Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 158. Jalan Satu-Satunya Untuk mengalihkan Rasa Sakit Dengan Mencintai Orangtua


__ADS_3

Dava tampak bersimpuh di kedua kaki sang bunda, Ruth pun menangis terisak mendengar pernyataan sang suami yang kembali berubah pikiran.


Sementara Sendi tak mampu menatap kesedihan di wajah sang adik. Ia benar-benar sakit melihat sedihnya seorang wanita yang ia cintai.


"Maafkan kami, Bunda." Ruth menyusul bersimpuh di kedua kaki sang bunda hingga tubuhnya dan Dava saling berjajar sembari menangis.


Tangan keriput milik Tarisya hanya mampu mengusap kepala dua anaknya di depannya saat ini. Ia terus menangis seraya menggelengkan kepalanya.


"Kalian harus berpegang teguh dengan iman anak-anakku. Hubungan itu di larang oleh agama dan sangat tidak di ampuni kelak." tuturnya menasehati sang anak.


"Cobalah untuk bertahan demi Ayah dan Bunda. Kuatkan diri kalian jangan sampai kalian terperdaya oleh syaitan Shandy, Jeff." lanjutnya kemudian.


"Kemarilah, Nak." Kedua tangan milik Tarisya terlihat merentang dengan lebar. Ia meminta semua anak-anaknya masuk ke dalam pelukannya kini.


Pertama, Ruth masuk dengan wajah menangis semakin pilu kemudian di susul oleh Dava yang juga menangis terisak ke dalam pelukan sang bunda, dan terakhir adalah Sendi. Ia masuk memeluk dua saudara kandungnya dan sang bunda pun menutup pelukan itu dengan kedua tangannya memeluk semua anak-anaknya.


"Kita akan hadapi semua ini bersama-sama. Tidak ada yang boleh menyelesaikan masalah ini sendirian, apalagi sampai harus ke luar negeri. Bunda tidak akan setuju itu." ia mengeratkan pelukannya dan mencium satu persatu kepala anaknya.


Kini di rumah itu tak ada lagi percakapan yang terdengar. Hanya ada suara tangis yang perlahan-lahan mulai menghilang suaranya.


Pelukan seorang bunda begitu sangat terasa menyejukkan hati bagi seorang anak, terlebih pelukan yang memang di berikan dengan ketulusan dari hati.


"Ya Allah...jika ini memang tidak berarti, biarkan aku merasakan peranku sebagai seorang Ibu walau sudah terlambat. Biarkan aku membimbing anak-anakku kembali ke jalan Mu. Ijinkan aku untuk menuntun mereka dengan semestinya. Hamba mohon..." Tarisya memejamkan matanya dengan penuh ucapan doa dan harapan dalam hatinya.


Prang!!

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara dari arah kamar yang memang pintunya tidak di tutup.


"Ayah!" semuanya menoleh ke arah sumber suara sembari menyebut ayah serentak.


"Bunda, Ayah!" Dava tampak berlari lebih dulu setelah mendengarnya.


Begitu pun yang lainnya segera berlari menyusul mereka. Tarisya tampak ketakutan jika terjadi apa-apa pada sang suami.


Sampai di kamar ternyata sang ayah sudah terbaring di lantai dengan mata yang juga menangis.


"Ayah!" teriakan mereka terdengar riuh seketika.


"Sen, bantu aku." Dava memerintah sang adik untuk membantunya mengangkat tubuh ayah mereka ke kasur kembali.


"Kak, biarkan aku menghubungi dokter." Ruth segera bergegas menuju keluar kamar untuk mengambil ponselnya di kamar.


Sesampainya di kamar, Ruth langsung menghubungi salah satu rumah sakit untuk meminta kontak dokter yang pernah merawat sang ayah.


"Baik, terimakasih. Saya tunggu di rumah." jawabnya usai mendapatkan persetujuan dari pihak rumah sakit.


Telepon pun terputus saat itu juga.


"Bagaimana bisa aku seegois itu pada Ayah? aku bahkan tidak memikirkan sama sekali keadaan orangtuaku hanya karena cintaku? Tidak, Ruth. Ini tidak benar. Kau tidak boleh menjadi egois seperti ini...mereka adalah orangtua yang selama ini kau rindukan. Ya Tuhan...maafkan aku. Bimbinglah aku agar menjadi anak yang berbakti pada kedua orangtuaku." Ia menunduk sedih mengingat betapa beratnya hidupnya kali ini.


"Maafkan Ruth, Ayah, Bunda." Berjalan lunglai sembari mengusap air mata yang berjatuhan di kedua pipinya.

__ADS_1


"Bagaimana, Nak?" Ketika ia sampai di kamar dimana sang ayah berada, sang bunda segera menghampirinya dengan pertanyaan yang tidak sabaran.


Ruth pun tersenyum dan menjawab, "Sebentar lagi Dokter akan sampai. Bunda. Apa Ayah baik-baik saja?" ia berjalan lunglai melewati dua pria yang sama-sama pernah mengisi hatinya.


Dava hanya meneguk kasar salivahnya. Sedangkan Sendi tetap menunduk tanpa mau menatap wajah Ruth yang penuh dengan duka.


"Ayah? tenanglah. Ayah pasti akan sembuh. Shandy akan terus berdoa untuk Ayah. Shandy mohon Ayah...sembuhlah untuk kami, anak-anakmu. Kami begitu merindukanmu saat ini." Ia menangis memeluk erat tubuh pria yang begitu kurus di depannya.


Tubuh yang hanya berlilit tulang dengan sampul kulit itu hanya bisa bergetar menangis pilu saat merasakan pelukan hangat anak gadisnya.


Kini hanya satu pria inilah yang akan Ruth cintai sampai kapan pun. Ia tidak punya pria mana pun lagi yang bisa ia berikan hatinya dan pelukannya.


Ruth menangis terisak-isak, tangannya begitu erat memeluk tubuh kurus yang terbaring tak bisa bergerak sedikit pun kini.


Tak lama kemudian, ia melepaskan pelukan itu dan mengusap air mata di wajah pria yang tua itu. Ada tatapan yang begitu sulit di artikan oleh mereka semua. Di sana, sang ayah menatapnya begitu sakit. Hatinya sakit melihat kehancuran anak-anaknya tanpa bisa berbuat apa pun sebagai orangtua saat ini.


"Bunda, kalian sebaiknya istirahat saja. Biarkan Shandy yang akan membuatkan makan untuk Ayah. Biarkan Shandy yang merawat Ayah sampai seterusnya." Ruth sengaja ingin mengalihkan pikirannya demi bisa melupakan segala patah hatinya dengan takdir.


"Tapi, Shandy..." Melihat gelengan kepala sang anak, akhirnya Tarisya memilih menganggukkan kepala setuju. Ia meminta dua anak prianya untuk ikut bersamanya keluar dari dalam kamar.


Dava dan Sendi dengan cepat mengikuti langkah sang bunda. Ia juga tidak sanggup jika harus berlama-lama dengan sang istri yang selalu membuat pikirannya tidak bisa berpikir normal.


Di sini Ruth tinggallah hanya berdua dengan sang ayah. Tangannya tak henti-hentinya memijit pelan sangat pelan tubuh kurus itu.


Ia tetap tersenyum menatap wajah sang ayah, meski buliran air mata terus jatuh di kedua kelopak matanya.

__ADS_1


"Ayah, biarkan Shandy yang menemani Ayah hingga Ayah sembuh yah? Biarkan Shandy bisa merasakan kebersamaan dengan Ayah...Shandy sangat takut jika pria berikutnya yang akan meninggalkan Shandy adalah Ayah...Shandy tidak akan kuat dengan hal itu, Ayah." Ruth tersenyum dengan tangisan yang terus ia tahan.


Buliran air mata pun ikut membasahi wajah sang ayah.


__ADS_2