Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 225. Chef Baru


__ADS_3

Wajah yang berseri-seri kini terus terlihat tanpa henti mewarnai suasana dapur di kediaman baru Nicolas.


Pukul 07.00 ketiga asisten rumah tangga itu sudah di sibukkan dengan menata segala masakan yang masih mengepulkan asap.


"Yang mana lagi, Non?" tanya Bi Si pada wanita bermata cokelat yang baru saja berganti status itu.


"Tunggu sebentar yah, Bi. Ini cream soupnya sudah mau matang kok." ujar Ruth menatap ke arah makanan yang tinggal menunggu beberapa saat lagi akan siap di hidangkan.


"Baik, Non." tutur ketiganya patuh.


Bagaimana mungkin di rumah sebesar ini mereka hanya bisa diam mematung lantaran sang Nona tidak ingin mereka membantu memasak sama sekali.


Dengan penuh rasa bersalah mereka hanya bisa menjadi penikmat aroma semua menu masakan yang Ruth masak pagi ini.


Ia begitu semangat meminta ketiga pelayannya untuk menikmati hasil jerih payahnya. Begitu pula Mbok Nan yang terbiasa di dapur seumur hidupnya, kini merasa gelisah kala sang Nona muda melarangnya untuk membantu.


"Non Ruth, tidak baik bekerja terlalu keras. Non baru saja melahirkan loh...Mbok sangat khawatir." tutur Mbok Nan dengan wajah penuh kecemasan.

__ADS_1


Ruth tersenyum lembut mendengarnya. Ia benar-benar menjadi wanita yang sangat keras kepala hari ini. Kebahagiaan yang Tuhan berikan membuatnya tidak ingin menyia-nyiakan perannya sebagai istri dan ibu untuk anak-anaknya.


"Wah wah dapur kita wanginya beda hari ini, Ayah? Jeff, lihat chef baru kita..." Tarisya yang baru saja tiba di ruang makan pagi itu tersenyum sembari memuji sang anak yang tak melihat kehadiran mereka kala itu.


Sedangkan Dava hanya tersenyum melihat punggung istrinya di depan dapur sana.


"Bunda..." Ruth menoleh sekilas dan tersenyum.


"Tunggu sebentar lagi masakannya akan selesai." ujarnya dengan mantap.


"Oh iya, Bunda. Tuan Fredi apakah beliau sudah pulang?" tanya Sendi yang memang saat malam acara tidak menghabiskan waktu bersama mereka.


"Belum kok. Sebentar lagi paling mereka sampai..." tutur Tuan Wilson yang menjawab karena sang istri tengah sibuk mencari beberapa sosok yang tak muncul di ruangan itu.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Mbok Nan penasaran kala melihat sang majikan menoleh ke arah beberapa kamar di rumah itu.


"Putri, Dina dan Rava belum pada bangun, Mbok?" tanyanya dengan mata yang masih memastikan penglihatannya.

__ADS_1


"Oh, Putri baru saja bermain sepeda di depan, Nyonya. Kalau Non Dina..."


"Selamat pagi, semuanya..." sapa Dina dengan wajah tersenyum sumringah. Lengkap dengan menggendong bayi tampan di sana.


Wajah segar sehabis mandi membuat Sendi tanpa sadar juga ikut tersenyum pada sang istri. Meski sangat kasihan melihat mata panda di wajah manisnya itu.


"Ya Allah, Kak Dina...maafkan aku. Kau pasti sangat kelelahan semalaman yah? Kemari, biar Rava aku yang gendong saja." Ruth yang menoleh saat mendengar sapaan sang kakak ipar seketika terkejut melihat mata sang kakak ipar.


Tentu saja ia merasa sangat kasihan, bagaimana mungkin ia menikmati malam pertama dan membiarkan sang kakak ipar yang menjaga anaknya. Sekali pun itu murni atas permintaan Dina sendiri.


Belum sempat tangannya meraih tubuh sang anak, Dina sudah terlebih dulu mencegahnya.


"Ssttt. Biarkan dulu, Ruth. Sebentar lagi yah? Aku masih betah menggendong Rava seperti ini. Kau selesaikan saja dulu masaknya. Nanti setelah itu baru Rava aku berikan. Aku masih kangen." celoteh Dina yang merasa kurang dalam satu malam bersama bayi mungil itu.


Ruth serba salah saat ini, di sisi lain ia tidak ingin kakak iparnya kelelahan karena sang anak. Namun, di sisi lain ia merasa kasihan juga jika memaksa untuk mengambil anaknya. Pasalanya wanita di depannya sangat menginginkan momen merawat bayi.


"Ruth, ayo sarapan." Dava segera menggenggam sang istri seolah kedipan mata yang baru ia lihatkan meminta Ruth untuk membiarkan Dina menggendong anaknya sebentar lagi.

__ADS_1


"Iya," dengan patuh Ruth pun menjawab paham akan bahasa isyarat sang suami barusan.


__ADS_2