
Brak!!
Suara hempasan tangan mendarat dengan keras di depan meja kerja seorang pria bertubuh tegak namun tak lagi muda.
Tatapan matanya begitu terkejut kala melihat kemarahan pria di depannya yang tak lain adalah sang anak. Sendi Sandoyo, yah dialah yang kini sudah berhadapan dengan sang Ayah setelah memasuki ruang kerja sang Ayah di rumah utama tanpa permisi.
Tubuhnya tampak bergemetar, "Kau sudah gila, Sendi?" Apa-apaan ini?" teriak Tuan Deni menatap wajah sang anak yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Anda yang sudah gila, Tuan." jawabnya terkekeh sembari beruraian air mata.
"Tuan Deni...saya terlalu bodoh percaya dengan semua alur hidup yang anda buat."
Tuan Deni meneguk salivahnya dengan kasar, apa yang sebenarnya maksud dari ucapan Sendi saat ini padanya...
"Apa jangan-jangan...Tidak! Sendi tidak boleh mengetahui itu semua. Ini tidak boleh terjadi dan tidak akan pernah terjadi." ucap Tuan Deni bermonolog tanpa berani bertanya secara langsung.
Semua tentu belum di persiapkan dengan benar, jika sampai Sendi benar-benar mengetahui rahasia besarnya semua tentu akan berantakan.
Sendi melempar map berwarna cokelat di atas meja sang Ayah kemudian meninggalkan ruangan itu. Selangkah lagi Sendi keluar dari pintu, namun ia berhenti begitu saja dan berputar haluan menghadap sang Ayah lagi.
"Mulai saat ini, anda jangan lagi ikut campur dalam hidupku atau apa pun yang berkaitan denganku. Dan satu, jangan ganggu Ruth lagi. Aku akan menjaganya."
Derap langah kaki bersepatu kets itu terdengar begitu cepat mengantarkan tubuh Sendi yang tengah benar-benar kesal.
"Ruth?" tanya Tuan Sendi lirih kemudian manik matanya teralih ke arah meja yang menampakkan map berwarna cokelat itu.
"Huuhh...Jadi laki-laki ini? Aku kecolongan lebih dulu dari Sendi sepertinya." ucap Tuan Deni menatap wajah pria yang sangat mirip dengan bocah mungil bernama Putri.
"Heeem...tidak masalah. Aku yakin Dina pasti mampu mengisi hatimu perlahan Sendi. Kau pria yang sangat bermanfaat saat ini."
Setidaknya, saat ini Sendi sudah sah menjadi suami Dina Salhuteru. Dan berpisah dengan Ruth. Dan jangan lupakan, hal yang paling utama adalah, Sendi akan tetap mengelola dengan baik perusahaan Densal Company.
Di saat yang bersamaan, Sendi melajukan mobilnya setelah melampiaskan amarah dan menegaskan pada sang Ayah.
"Bodoh! Bodoh! Kamu bodoh, Sendi! Arggghhh!!" pekiknya seraya menghantukkan kening pada stir mobil sport miliknya.
"Bagaimana mungkin aku mempercayai orang lain dari pada Ruth? Tidak, ini tidak benar."
__ADS_1
Suatu pelajaran dalam hubungan. CInta tidak selalu semata-mata tentang kebahagiaan yang harus selalu di jaga. Kebutuhan yang selalu harus terpenuhi, pertemuan yang selalu harus di utamakan. Karena, cinta akan ada masanya ujian dalam kepercayaan dan kesetiaan.
Jika kepercayaan tidak ada dalam hubungan, maka sirnalah cinta kala mendapat terjangan ombak sekecil apa pun itu. Begitu pun juga dengan kesetiaan, jika cinta tidak memperkokoh kesetiaan, maka pupuslah perjuangan cinta yang sebesa gunungpun kau capai.
Jika kesetiaan sudah tercapai dalam hubungan Ruth dan juga Sendi, kini kepercayaan yang menjadi kendala dalam perjuangan cinta mereka.
Mungkin waktu tak dapat di putar kembali untuk memperbaikinya, tapi tidak ada yang tidak bisa bagi seorang Sendi Sandoyo. Tidak akan ada kata terlambat lagi untuknya.
Mobil sport yang tadi melaju memecah keramaian kota, tampak mengeluarkan suara decitan rem mobil yang sangat memekakkan telinga siapa pun juga.
"Ya Allah gusti...siapa sih? Apa Non Ruth bertengkar dengan Tuan Dava?" Mbok Nan yang berlari tergesah-gesah ke arah pintu rumah utama tanpa sadar sedang memakai handuk dan sarung, karena memang baru saja selesai mandi.
Tok Tok Tok
Terdengar ketukan pintu yang begitu nyaring. Mbok Nan masih saja berlari ingin segera menggapai pintu utama, namun ia kesulitan karena lilitan sarung di tubuh dan handuk di kepalanya.
"Ya...sebentar. Aduhhh," keluhnya terus berlari kecil.
Kini pintu terdengar menjadi suara gedoran yang sangat kasar.
Mata Mbok Nan membulat kala tangannya sudah membuka pintu. "Tu-tuan Sendi?" ucapnya gugup sembari meneguk kasar salivahnya.
"Tuan-"
"Dimana Ruth? cepat panggilkan dia!" pintah Sendi enggan mendengarkan ucapan Mbok Nan yang ingin mengatakan jika sang pemilik rumah sebenarnya tidak di rumah.
"Maat Tuan. Non Ruth tidak ada-"
"Apa maksud Mbok tidak ada? Ruth kemana, Mbok? jangan berbohong padaku." teriaknya. Kali ini terlihat jelas siapa Sendi sebenarnya.
Jika sebelum-sebelumnya pria itu selalu berperawakan dingin, tidak kali ini. Bahkan sifat arogannya sudah mulai keluar.
Mbok Nan yang tidak terbiasa dengan suara tinggi merasa jantungnya berpacu sedikit lebih kuat. "Non Ruth pergi bersama Putri keluar sebentar, Tuan."
"Kemana-" (ucapan Sendi terhenti kala manik matanya tertuju pada sorot lampu mobil yang memasuki halaman rumah milik Ruth tersebut).
__ADS_1
Sendi mengepalkan tangannya, tentu ia sangat tahu mobil siapa yang kini terparkir di depannya itu. Ternyata Ruth belum berpisah sejak pulang dari kantor sore tadi dengan pria yang entah siapa namanya. Begitulah pikir Sendi.
"Om Sendi?" ucap Putri terkejut melihat tatapan mata Putri yang sangat ketakutan.
Begitu juga dengan Ruth, ia tampak terkejut melihat sosok pria yang selalu mengisi hari-harinya dengan keromantisan dan kasih sayang, kini berada di dalam rumahnya lagi.
Sementara Dava, ia hanya berwajah datar tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan mungil milik Putri.
"Apa-apaan ini, Ruth? Kau pulang malam dengan pria asing ini?" tanya Dava berteriak mendekati Ruth yang masih berdiri di depan pintu.
"Sendi? untuk apa kamu datang kesini? urusan pekerjaan bisa besok kita bicarakan. Lagi pula semuanya sudah selesai ku kerjakan tadi dan-"
"Sini kamu! Jangan banyak bicara. Ingat Ruth, mulai saat ini jauhi pria itu. Dan aku melarang keras kau bertemu dengan sembarang pria."
"Mamah! Om Sendi jangan sakiti Mamah Putri!" teriak bocah itu berusaha melepas genggaman Dava padanya.
"Sendi lepas! Anakku ketakutan!" berontak Ruth namun sayang, Sendi sama sekali tidak perduli.
Tampaknya cemburu telah menguasai penuh dirinya kali ini.
"Tidak akan semudah itu." ucap Sendi merangkul erat pinggang langsing milik Ruth dan kembali bersuara, "Kau pergi dari sini! Cepat!" teriaknya ada Dava hingga dua netra indah milik Ruth terpejam karena suara bariton milik Sendi.
"Putri jangan menangis, Sayang. Mamah tidak apa-apa. Mbok, tolong bawa Putri ke kamar." ucap Ruth memohon.
Kini tidak ada yang perduli dengan penampilan Mbok Nan yang tambak panas itu. Mungkin begitulah nasib orang yang sudah berumur, mau seterbuka apa pun tampilannya, tetap tidak ada menarik lagi di depan pria.
"Baik, Non." sahut Mbok Nan patuh dan sedikit memaksa Putri untuk masuk ke kamar.
"Lepaskan calon istriku!"
Duar!! Bak suara dentuman bom yang benar-benar memecah gendang telinga. Itulah suara jantung milik Ruth dan juga Sendi saat ini kala mendengar kata yang sangat tidak pernah terpikirkan oleh mereka.
Dava meminta Sendi untuk melepaskan tangannya di pinggan wanita yang ia sebut calon istri, tidak! ini mimpikan? begitu prasangka Ruth kala menentang indera pendengarannya.
"Cih...calon istri? Kau gila? Ruth selamanya adalah kekasihku dan akan tetap seperti itu sampai kapan pun. Ruth, kita pergi dari sini. Ayo sayang."
Plak!
__ADS_1
Suara tamparan pun mengalun indah malam itu di wajah tampan Sendi.