Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 92. Dugaan Dan Dugaan


__ADS_3

Belum genap satu hari berpisah, rasanya sungguh membuat tubuh sesosok pria tampan itu sangat sangat tak berdaya menerima semua pekerjaan di kantor.


Beberapa karyawan yang menyapanya sedari pagi pun tak ada sama sekali yang ia jawab. Semua karyawan sudah tahu, jika saat ini yang mereka hormati bukan hanya sosok Dava dan juga Ruth. Di sini ada Sendi, sebagai pewaris perusahaan D Group yang lebih tinggi kedudukannya dari pada sang adik.


"Argh!!" teriaknya melempar ponsel yang baru saja tertempel di telinganya.


Sambungan telepon masih saja tidak bisa di dapatkan saat menghubungi sang adik berulang kali. "Aku benar-benar mencemaskan mu, Ruth." lirihnya dengan wajah kesal.


Tumpukan berkas di depannya seakan semakin menambah beban dalam pikirannya. Sejenak Sendi memilih memejamkan mata lalu menyandarkan kepala pada sandaran kursi kerja miliknya.


"Bagaimana bisa semalam aku kecolongan sih? Dava benar-benar keterlaluan sekali." umpatnya mengingat bagaimana dirinya di kunci di dalam kamar hingga tidak sadar jika Ruth pergi bersama sang suami untuk berbulan madu.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan kaca transparant itu.


Tok Tok Tok


Sendi melirik siapa yang datang, matanya yang lesu seketika membulat saat melihat sosok pria dengan seragam lengkapnya datang ke kantornya.


Sendi berjalan membukakan pintu. "Silahkan masuk." ucapnya dengan wajah serius namun memberikan senyum yang terlihat kaku itu.


Pasalnya, Sendi bukanlah orang yang selalu bersikap ramah seperti Dava. Ia terkenal dengan sikap arogan dan penuh ambisi.


"Maaf jika saya mengganggu anda, Tuan." Rafael mengatakan permohonan maaf sebelum mengatakan tujuan utamanya datang ke kantor.

__ADS_1


"Oke, no problem. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Sendi dengan mantap.


Di sini, Rafael paham, mengapa Sendi sama sekali tidak menanyakan ataupun mencemaskan keadaan orangtuanya yang baru saja di temukan dan di rawat di rumah sakit.


"Saya mulai kemarin tidak bisa menghubungi Tuan Dava beserta istrinya. Apakah mereka sedang ada kerjaan sangat penting?" tanyanya to the point.


"Huh..." Lagi dan lagi Sendi harus mengingat hal pahit itu.


Ia menatap tak berdaya pada pria di depannya. "Mereka sedang ada acara bulan madu." jawabnya tanpa mau panjang lebar menjelaskan.


Rafael mengangguk-anggukkan kepala pelan. "Baiklah kalau begitu, Tuan. Sekarang saya bisa menunggu kepulangan mereka dengan tenang. Setidaknya semuanya sudah saya kumpulkan dengan baik hanya menunggu kepulangan pihak korban saja." terangnya ingin bergegas pergi.


"Apa ada perkembangan kasus lagi?" tanya Sendi yang sedikit penasaran.


Berharap jika kebenaran tentang dirinya dan Ruth hanyalah sebuah kesalahpahaman dan segera terungkap kesalahpahaman itu.


"Saya permisi, Tuan. Terimakasih." Rafael meninggalkan ruangan Sendi dengan wajah yang tak kalah ikut merasakan pusing tujuh keliling.


"Semalang itukah jika jatuh cinta yah?" batinnya melangkah menelusuri lorong perusahaan yang tidak begitu panjang.


"Itu bukanlah merupakan kesalahan, itu kebenaran." Sendi memejamkan matanya mengingat kata-kata sang polisi barusan.


Di sini, ia sangat pusing memikirkan sang mantan, begitu juga dengan sosok Dava yang tak kalah pusing saat mendengar beberapa dugaan tim kesehatan usai memeriksa keadaan sang istri.

__ADS_1


"Tuan, apakah kalian suami istri?" tanya sang dokter saat memeriksa keadaan Ruth yang berbaring lemah di atas tempat tidur mereka.


"Tentu saja, Dok. Memangnya apa jika bukan suami istri tidur berdua di tempat ini?" Suara Dava tampak terdengar tidak bersahabat kala mendapatkan pertanyaan seperti itu.


Tentu saja ia tidak terima jika seseorang menganggap istrinya wanita yang tidak berakhlak tidur dengan sembarang pria tanpa adanya ikatan pernikahan, bukan.


"Maaf, Tuan. Maksud saya keadaan istri anda sedang tidak normal. Di sini, ada beberapa kemungkinan yang terjadi..." Sang Dokter memeriksa setiap bagian yang ia perlu periksa.


"Istri anda mual,"


"Nona, apakah anda sedang tidak terarur makan?" tanya sang Dokter dengan ramah. Belum sempat Ruth menjawab, Dava sudah lebih dulu menyanggahnya.


"Istri saya makan teratur, sangat teratur Dokter. Saya bisa jamin itu."


"Dav, tenanglah." sahut Ruth terdengar sangat lemas.


"Begini, Nona...jika anda tidak teratur makan, bisa jadi ini adalah penyakit magg. Dan jika anda merasa mual setelah naik jetsky...ada kemungkinan anda mabuk jetsky. Selain itu, ada kemungkinan juga jika anda sedang..."


"Sedang apa, Dokter?" tanya Dava tidak sabaran mendengar sang dokter bertutur kata secara hati-hati.


Pasalnya di tempatnya bertugas saat ini, sangatlah minim alat kesehatan. Berhubung dirinya juga bukanlah dokter spesialis, melainkan hanya dokter umum yang membantu menangani jika terjadi keadaan darurat saja di kapal itu.


"Em...begini saja, kapan terakhir anda mendapatkan masa haid, Nona?" tanya sang dokter.

__ADS_1


Ruth yang mendengar hal itu tampak berpikir keras. Matanya terpejam mengingat kapan terakhir kali ia memakai benda empuk bersayap itu.


"Maaf, Dok. Ingatan saya sangat susah mengingat hal itu. Saya lupa..."


__ADS_2