
Suasana sedih dan menegangkan kini berubah menjadi hangat kala sosok bayi mampu menarik perhatian dua orang yang baru saja kembali dekat.
Tubuh mungil itu terus bergerak mencari posisi ternyaman untuk ia menuju ke alam mimpi. "Hei...ada apa denganmu, Nak?" tanya Ruth tersenyum melihat tingkah putranya.
Sementara Dava yang terus menatap wajah bayi merah itu kini berkata, "Apakah kau sudah menyiapkan nama untuk si boy?"
Saat itu juga Ruth menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak berfikir kesana. Karena perpisahan kita membuatku terus berharap jika kau akan kembali dengan kami sebelum anak kita lahir..."
Sungguh perasaan Dava begitu senang kala mendengar pengakuan dari sang istri. Jelas itu menyatakan jika bagaimana pun keadaan hubungan mereka, Ruth masih sangat mengharapkan mereka bersatu kembali.
Di dekapnya dengan perlahan kedua tubuh di depannya itu. Dava sangat bahagia hari ini, tinggal satu langkah lagi semuanya akan terjadi. Kebahagiaan mereka akan kembali lengkap.
"Terimakasih. Terimakasih, Ruth. Aku begitu sangat mencintai kalian berdua. Tidak akan ku sia-siakan kalian setelah ini." Merasa tenang dengan dekapan kedua orangtuanya, akhirnya sang bayi pun terlelap tanpa kedua orangtuanya sadari.
"Aku juga sangat mencintaimu, Dav." sahut Ruth mengusap salah satu lengan sang suami yang melingkar di tubuhnya.
"Aku ingin memberikannya nama Rava," Dava berpikir jika nama anak mereka akan menjadi penyatu nama mereka. Yang artinya akan menjadi penguat dalam hubungan suami dan istri itu.
__ADS_1
"Nama yang tampan. Rava Sanjaya Nicolas." senyuman lebar dan binar mata yang penuh dengan kebahagiaan terpancar jelas di wajah wanita bermata cokelat itu.
Dava hanya tersenyum penuh cinta, wajah bahagia inilah yang selalu ia rindukan saat-saat berjauhan dengannya. Akhirnya pelukan keduanya pun terlepas dan saat yang bersamaan, mereka menatap kaget pada bayi yang tertidur dengan nyenyak di pangkuan sang istri.
"Lihat, dia ternyata tidur." Ruth terkekeh geli. Dagu yang sangat familiar di wajah sang anak membuatnya seketika menatap wajah pria di depannya.
"Ku fikir dia akan posesif. Ternyata ingin kita berdua memeluknya." celetuk Dava yang mengerti akan bahasa tubuh sang anak saat ini.
"Sekarang, saatnya kau juga tidur." pintah Dava pada Ruth yang melihat mata wanitanya sudah sembab lantaran menangis dan juga begadang.
Namun Ruth tampak menggelengkan kepalanya enggan menurut perintah Dava. "Tidak, Dav. Biarkan aku seperti ini. Apakah kau akan pergi lagi?" tanyanya dengan penuh rasa ragu.
Ia tahu Ruth sangat takut jika ini hanyalah bentuk semangat yang Dava berikan, dan setelah itu ia akan pergi meninggalkannya kembali.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Dava langsung bergerak mengangkat tubuh Ruth untuk bergeser sedikit. Dan segera ia mendaratkan tubuhnya di samping wanita itu.
"Dav?" suara Ruth begitu sangat terkejut.
__ADS_1
"Ssssst. Ayo, sekarang beristirahatlah. Aku juga sangat lelah." tutur Dava sembari melingkarkan tangannya pada tubuh sang istri.
Diamnya Ruth yang tengah menikmati pelukan pria itu perlahan membuatnya larut dalam tidur yang nyenyak.
"Selamat tidur, calon istriku." batin Dava saat menyipitkan matanya mengintip Ruth yang terlelap.
Baru kemudian ia melirik sang anak yang sudah sangat nyenyak di dalam box bayi itu.
Setelah memastikan dua belahan jiwanya tidur, ia pyun menyusul untuk ke dunia mimpi mengejar dua belahan jiwanya yang sudah melayang di alam mimpi duluan.
***
Tanpa terasa pagi sudah hampir siang, kebahagiaan di dalam ruang rawat membuat para keluarga yang menunggu di luar sejak subuh terlelap di kursi tunggu.
Para petugas kebersihan yang berlalu lalang tidak ada yang berani membangunkan salah satunya. Pemandangan seperti itu memanglah sudah biasa bagi mereka.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Permisi..." suara lembut sang Dokter di depan pintu ruang rawat Ruth membuat semuanya terkejut dan bangun secara refleks.