
Di sini tiga saudara itu tampak gelisah mondar mandir di depan ruangan IGD. Ruth menangis sementara Dava terlihat mengusap bahunya dan memberikan pelukan pada sang istri sekaligus adik.
Ruth terisak-isak karena takut jika Tuhan akan mengambil sang bunda kembali.
"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Pikirkan anak kita." ucapnya mengingat bayi yang ada di kandungan sang istri sangat rawan di usai kehamilan muda ini.
"Dav, mengapa kau tidak memberitahuku jika Bunda masih hidup? Mengapa kalian berdua menyembunyikannya dariku? Kenapa?!" ucapnya histeris hingga terlihat wajah putih itu tampak memerah bahkan urat kecil di keningnya terlihat begitu jelas.
Hatinya sungguh sakit di bohongi seperti ini.
Dava terdengar menghela napasnya kasar. Dadanya pun juga terasa sangat sesak sedari tadi. Bahkan hampir saja, hampir saja semuanya terungkap dan entah apa yang akan terjadi pada keadaan sang istri dan juga kandungannya tadi.
"Sayang, inilah sebabnya aku tidak ingin memberitahumu terlebih dahulu. Karena..." Dava menatap Sendi yang juga menatapnya.
Entah apa arti dari tatapan keduanya. Sendi juga tidak ingin jika sang adik di bohongi terus menerus. Tetapi ia juga sangat takut jika terjadi sesuatu pada Ruth.
"Karena Bunda memang sangat lemah, begitu juga denganmu Ruth. Kalian berdua sama-sama lemah. Biarkan keadaan membaik dulu baru kami berencana mempertemukan kalian." Dava berbohong demi ketenangan sang istri.
"Mau sampai kapan kamu berbohong terus pada Ruth, Dav?" Sendi hanya bisa terkekeh sedih dalam hati seraya menggelengkan kepalanya kecil.
Mereka adalah saudara kandung, bagaimana mungkin saling membohongi.
"Tapi, Dav...aku sangat merindukan Bunda. Lagi pula semuanya tadi baik-baik saja bukan? Mengapa Bunda tiba-tiba drop saat aku mengatakan nama yang salah. Padahal jelas Kak Jeff sudah tiada, hanya ada aku dan Kak Berson saat ini." bantahnya terus menangis memeluk tubuh sang suami.
"Bunda kami temukan saat di sekap oleh mereka, Sayang. Dan baru beberapa hari lalu Bunda di keluarkan dari rumah sakit. Keadaannya masih sangat lemah, mungkin..." Dava terdiam sejenak berpikir apa yang harus ia katakan lagi berikutnya.
"Mungkin ada sesuatu pada Jeff sehingga Bunda sangat yakin jika Kak Jeff lah yang hidup dan Kak Berson lah yang tiada." tuturnya berucap ragu.
"Cih itu sama saja kau menyumpahiku tiada, Dav. Sialan!" umpat Sendi kesal kala mendengar penuturan sang kakak pada adik mereka.
__ADS_1
"Di sekap?" Ruth tampak terkejut mendengarnya.
Bagaimana mungkin orangtuanya selama ini yang di sangka sudah tenang di alam sana ternyata masih menjalani banyaknya penderitaan tanpa ia tahu?
Dava hanya menjawabnya dengan anggukan. Ia mengusap punggung sang istri yang berada di dalam pelukannya. Kembali, Ruth mengingat sosok sang ayah.
"Lalu...dimana Ayah?" tanyanya lagi mencari sosok pria yang begitu ia rindukan hadirnya.
Meski mungkin akan terasa asing saat bertemu, tetapi ia tetap sangat mengharapkan kehadiran sosok orangtua di sisinya.
Dava terdiam, ia masih menimbang-nimbang apakah semuanya harus ia katakan saat ini atau tidak.
"Dan Kak Jeff...dimana dia Dav? apakah kuburan itu memang miliiknya?"
Dada yang begitu sesak terasa hampir benar-benar tak bisa menghirup udara lagi. Pertanyaan Ruth sangat membuat bibir Dava terkunci rapat.
"Aku adalah Jeff, Sayang. Adikku...ini adalah kakakmu yang kau tanyakan. Suamimu ini adalah kakakmu." Dava diam membisu, hanya dalam hati yang terus saja menjawab semua pertanyaan sang adik.
Benar, yang di katakan Sendi menurut gadis bermata cokelat itu. Tatapan sedihnya kini berubah seperti mentari yang baru saja kembali timbul dari balik awan. Cerah dan sangat indah. Ia tersenyum bahagia mendengar semua keluarganya masih lengkap.
"Kak Berson," ucapnya sembari melepaskan pelukan sang suami dan berlari mendekati Sendi.
"Ruth," tutur Sendi sangat terkejut mendapatkan pelukan erat dari wanita yang memiliki seluruh hatinya sampai saat ini.
"Aku bahagia sekali, Kak. Kita masih memiliki semuanya. Kita akan bahagia dengan ayah dan bunda...dan juga Kak Jeff." Ruth mengeratkan kembali pelukannya.
Di sini, Dava hanya bisa menatapnya dengan pandangan pilu. Mata hitam itu berkaca-kaca melihat betapa bahagianya sang istri saat mengetahu seluruh keluarganya masih ada.
"Apakah setelah semuanya kau tahu...senyuman itu masih bisa ku lihat, Sayang? Ruth, secepat inikah Tuhan mengambilmu dariku? Apakah hubungan ini akan segera berakhir dengan menyedihkan, Sayang? Lalu bagaimana anak kita kelak? Bagaimana kau terhadapku? Akankah cinta itu masih kau berikan untukku lagi?" segala ketakutan dalam diri Dava membuatnya benar-benar tak berdaya.
__ADS_1
Semangatnya sudah hilang bersama dengan senyuman bahagia sang istri yang berarti senyuman pedih untuknya.
Senyuman yang ia berikan untuk sang kakak yang tidak ia ketahui adalah suaminya sendiri.
Sendi mengusap punggung sang adik yang masih memeluknya manja. Ruth tampak berubah sekali saat ini. Ia bersikap begitu manja pada Sendi dan itu semakin membuat sang mantan akan semakin sakit.
"Tidak bisakah pelukan ini kau rubah menjadi pelukan cinta antara pria dan wanita, Tuhan? Aku masih sangat mencintainya...tidak bisakah kau rubah takdir kami sebagai adik kakak? Astagfirullah...kenapa aku lagi-lagi menginginkan adikku sendiri? Cukup Sen! Cukup! Kau sudah berjanji pada Dina untuk memulai semuanya dengan baik. Ini tidak boleh kau lakukan. Dia adikmu." Dengan berat hati Sendi melepaskan pelukan sang adik usai ia menyadari sikapnya yang tidak semestinya ia lakukan pada sang istri.
Ceklek! Suara pintu ruangan rawat pun terdengar terbuka dari dalam.
Dengan sigap, Dava, Ruth, dan juga Sendi berjalan mendekat ke arah pintu.
Terlihat sosok Dokter muncul dari dalam dengan wajah tenangnya. Ia mulai berdiri di depan tiga saudara itu.
Dava sangat antusias untuk mengetahui keadaan bundanya, begitu pula dengan adik-adiknya.
"Dok, bagaimana keadaan Bunda?" tanyanya tho the point.
Sang Dokter menghela napasnya pelan. "Syukurlah Pak Dava segera membawanya kemari. Pasien mengalami serangan jantung. Beruntung segera kita tangani, kalau tidak..." Dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Mungkin pasien tidak terselamatkan. Ini adalah hal yang cukup serius Pak Dava. Saya harap pasien tidak mendapatkan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan, karena keadaannya sangat mengkhawatirkan." ujar sang Dokter berterus terang.
Dava tentu tahu apa yang membuat bundanya mengalami serangan jantung. Orangtua mana yang rela melihat anaknya menikah dengan saudara kandungnya sendiri.
"Dan apakah ini adalah saudari Shandy?" tanya Dokter tersebut sembari menunjuk ke arah Ruth yang berdiri dekat dengan Sendi.
"Iya Dokter. Saya anak bunda yang paling terakhir." jawab Ruth begitu antusias.
"Baik, pasien di dalam berpesan jika ia ingin berbicara dengan Nona Shandy. Berdua saja." tambah Dokter itu saat melihat Ruth yang ingin lari bersama kedua kakaknya ke dalam ruangan bundanya.
__ADS_1
"Oh, maaf Dok." Dava dan Sendi akhirnya menghentikan langkah mereka dan berdiri di depan pintu menunggu sang adik masuk menemui bunda mereka