
Tawa pria bertubuh kekar berwajah sangat menakutkan tampak tersenyum licik sembari mendekat tubuh ramping milik Ruth. Tak perduli dengan teriakan histeris di bibir wanita tersebut. Tangisan, rintihan bahkan berontak pun sama sekali tak berguna untu Ruth kali ini.
Air matanya terus berjatuhan di ujung kedua kelopak matanya. "Hehehe mau kemana kamu, Ruth? menantuku? kau pikir Dava akan menyelamatkanmu lagi kali ini? hah!" pekiknya bersuara geram tepat di indera pendengaran milik Ruth.
"Tidak! lepaskan saya! Lepas!" teriaknya sembari menggigit tangan milik Iwan yang refleks melingkar di bagian lehernya dan sebelah melingkar di bagian pinggang wanita tersebut.
Suasana di dalam kamar itu nampak sangat kacau malam ini. Benar-benar kemenangan berpihak pada sisi Iwan Sandronata. Bagaimana tidak? malam yang seharusnya menjadi malam pertamanya terhalang karena panggilan kantor yang mendadak dan sangat genting.
"Hah! Mengapa rasanya aku sangat gelisah? Tidak, ini semua tidak benar." Dava sangat gelisah dalam perjalanan ke sebuah hotel untuk bertemu dengan salah satu klien.
Benda pipih tampak di raih tangan besar milik Dave. Jemarinya mulai mendail nomor seseorang. Telepon tersambung dan detik berikutnya terdengarlah suara dari seberang sana. "Halo, Tuan?"
"Devi, apa-apaan ini klien keluar dari jadwal ku? mengapa kau tidak mengatur jadwal dan memberitahukan mereka?"
Wajah wanita cantik di seberang sana tampak bingung setelah mendengar pengakuan sang atasan. "Ma-maksud Tuan? bagaimana? klien?" tanyanya begitu bingung.
"Devi, jangan bercanda kamu? saya sekarang sedang dalam perjalanan ke hotel xx untuk bertemu dengan Tuan Samuel. Beliau menghubungiku barusan," terangnya panjang lebar dengan suara jelas sedang menahan kekesalan.
"Bagaimana bisa seharusnya malam ini aku beristirahat dengan istriku. Bukan di jalanan seperti ini." protesnya kemudian. Bahkan sampai saat ini, Devi masih terdiam bingung dengan apa yang ia dengar barusan.
"Tuan, saya benar-benar tidak mengetahui apa pun kali ini. Saya sudah menetapkan skejul dengan benar dan memberitahukan semua klien anda, Tuan." Ucapan yang terdengar serius namun justru berbeda dengan raut wajahnya kali ini.
Senyuman yang benar-benar sulit di artikan terlukis jelas di wajah cantik sang sekertaris saat ini. Sebelah alis miliknya tertarik ke atas seakan tengan memenangkan lotre.
"Ini pasti ulah Tuan Iwan. Hem...baiklah, moment yang tepat dan sangat menguntungkan untukku." batinnya tanpa mau menjelaskan hal apa pun lagi pada sang atasan.
Tiba-tiba sambungan telepon langsung terputus tanpa ucapan apapun lagi. Mobil yang tadinya berjalan dengan kecepatan semestinya mendadak berbalik arah dan menambah laju kecepatan. Jika mungkin kebanyakan orang akan jauh lebih mementingkan urusan perusahaan, berbeda dengan seorang Dava Sandronata.
Setelah beberapa waktu terlewatkan dengan perjalanan yangn sangat menggelisahkan, kini sorot mobil pun menerangi halaman rumah megah bak istana tersebut.
__ADS_1
Irama langkah sepatu pantofel milik pria bertubuh jenjang tersebut seolah-olah menutup segala indera pendengaran semua penghuni rumah. Teriakan, keributan dan lain sebagainya yang di timbulkan Ruth kali ini membuat fokus para seisi rumah teralihkan padanya.
Sekali pun kamar yang kedap suara, tidak menghilangkan jejak tubuh Ruth yang berapa kali ingin lolos dari cengkraman sang mertua jahat tersebut.
"Dava! Tolong!" teriaknya menangis meraung di depan pintu yang terkunci dengan rapat.
"Dava, apa ini semua bagian dari rencanamu? Apa ini yang kamu maksud ingin menolongku dan Putri? apa ini yang kamu rencanakan dari awal? Tidak, aku tidak percaya kamu laki-laki seperti itu, Dava? Tolong jangan patahkan kepercayaanku denganmu. Tolong, Dava! Tolong aku kali ini saja." Jika mungkin bibir ranum itu bergetar menangis sembari meminta tolong, siapa yang tahu jika dalam hatinya kini Ruth benar-benar histeris ketakutan.
Tiba-tiba saja suara beberapa orang pria tampak tercengang kala wajah mereka teralihkan pada kehadiran seseorang. "Haaaaah??"
Dava meneruskan langkahnya pada arah tatapan beberapa orang pria di hadapannya saat ini, Kaki jenjang itu mendadak langsung refleks membuka pintu yang berdiri dengan kokohnya.
Brak!!
Pintu terbuka dengan sedikit lecet di bagian sisi sepatu pantofel mewah milik Dava. Duaarrr! seakan terkena bom penglihatannya saat ini kala ia melihat jelas keributan apa yang terjadi di dalam kamar miliknya. Wajah wanita yang sudah sah menjadi istrinya ternyata sedang teraniaya oleh Ayahnya sendiri.
"Da-dava? bukankah kau harus bertemu klien malam ini dan bagaimana keberangkatanmu untuk bertemu klien yang di amerika juga?" Sungguh wajah bantal. Seorang Iwan Sandronata benar-benar hebat memainkan perannya sebagai wajah yang paling cepat berubah eskpresi dalam hitungan detik saja.
"Dava, tolong! Tolong aku hiks hiks hiks." Ruth menangis dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Netra indah Dava terlihat jelas tengah syok dengan pemandangan di depannya. Sungguh ini semua di luar nalarnya. Wajah yang penuh dengan peluh, rambut sanggul yang sudah tak tertata rapi lagi, dan juga beberapa bagian gaun yang sudah sobek di depan dada.
Dava terpejam. Matanya sungguh ingin menangis melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat saat ini. Benarkah ia memiliki Ayah yang seperti ini macamnya? begitulah penolakan hatinya saat ini.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Tuan, Dava!"
"Tuan, dia Ayah anda, Tuan." Suara riuh terdengar begitu kacau malam itu.
__ADS_1
Dava terus menghajar tubuh Tuan Iwan, "Brengsek! kau anak tidak tahu diri!"
"Bugh! Bugh! Bugh!"
Keduanya tampak saling menyerang tanpa bisa terpisahkan, sementara Ruth hanya terduduk terperosok di depan pintu.
Ini nyata. Bukan hanya setingan belaka. Ia sudah yakin, jika Dava adalah pria yang benar-benar tulus meski tidak mencintainya.
Beberapa bodyguard sangat kewalahan kala memisahkan pertarungan antar anak dan ayah tersebut. Dan di akhir pertarungan tampak Dava memenangkan pertikaian tersebut.
Tubuh yang tak lagi sekuat dahulu tampak tertindih dengan tubuh kekar sang anak yang sudah mendudukinya. "Da-va, a-ku a-ayahmu. Kau anak ti-dak ta-hu berteri-maka-sih." Suara Tuan Tedy terdengar terbata-bata kala leher berkerut miliknya terkecik dengan kedua tangan sang anak.
"Aku lebih lega jika kau mati, saat ini juga! Dan mati di tanganku, Ayah!" ucap Dava sembari terus mengeratkan cekikannya.
Ruth tercengang mendengarnya, ia menutup mulutnya ketakutan. Air mata terus semakin deras berjatuhan di kedua pipinya.
"TIdak. Dava, kau tidak boleh seperti itu! Kau akan di penjara!"
"Paman!" teriak bocah kecil yang baru saja ingin turun dari anak tangga terakhir, namun ia sudah menangis duluan. Bahkan kedua kaki Putri tampak bergetar ketakutan.
Dava saat ini terlihat sangat jauh berbeda dari waktu sebelumnya yang selalu tersenyum hangat padanya. Kali ini, jelas wajah yang penuh amarah dan aura pembunuh membuat siapa pun akan takut jika melihatnya.
Cekikan tangan yang begitu kuat meregang dengan seketika. Dava menoleh, "Putri," ucapnya bergegas berdiri dari duduknya yang tengah menindih sang ayah.
"Kemari, Sayang." ucapnya menggerakkan tangan seolah memberi perintah pada bocah kecil itu untuk mendekat padanya.
Putri melangkah dengan ragu-ragu, sedangkan Dava berjalan cepat ke arah wanita yang kini sedang terpukul karena ulah sang ayah.
"Pegang pundakku." ucapnya dan menaikkan tubuh langsing Ruth dalam tubuhnya. Sebelah tangannya menggenggam tangan mungil Putri yang berjalan masih dengan wajah yang syok.
__ADS_1