
Setelah memastikan sang wanita baik-baik saja dan makan tepat waktu, barulah Dava merasa tenang dan berselera untuk menyantap hidangan makan siang di sini.
"Putri juga sudah makan?" tanyanya dengan senyuman di wajah.
"Sudah, Ayah. Ayah sudah makan juga?" Bocah itu bertanya balik.
Meski pun masih sangat kecil, namun berkat kasih sayang Dava dan juga Ruth padanya membuat sosok bocah itu terbentuk menjadi sikap yang penuh dengan perhatian pada orang-orang sekelilingnya.
Dava terkekeh mendengarnya, "Iya, Ayah sudah makan kok. Adek Rava tidak rewel kan?"
"Tenang, Ayah. Semuanya aman terkendali. Ada Putri kan?"
Setelah percakapan singkat itu, Dava memutuskan panggilan teleponnya setelah mengucap salam pada sang anak sok dewasanya itu.
Ia meletakkan kembali ponsel miliknya di dalam saku celana dan melangkah menuju ruang makan kembali.
"Loh...mengapa belum ada yang makan?" tanya Dava sangat terkejut melihat semuanya saling berbincang hangat di depan piring yang masih lengkap isinya.
"Tentu saja kami menunggu anak tertua sahabat kami. Bagaimana kita bisa memulai makan siangnya?" tutur Tuan Fredi terkekeh melihat keterkejutan di wajah Dava.
Dengan wajah datar, Dava pun menganggukkan kepala menyetujui ucapan pria tua itu.
Suara piring dan sendok yang saling mengalun dengan merdu perlahan mulai mengosongkan masing-masing piring itu. Suapan terakhir pun terjadi sebagai tanda makan siang telah berakhir.
__ADS_1
Hidangan penutup segera di santap dengan lahap dan detik berikutnya mereka bergegas menuju sofa keluarga untuk beristirahat sejenak dan melanjutkan perbincangan mereka.
Namun, semua mendadak hening kala mendengar suara sosok pria yang begitu sopan berpamitan undur diri. "Paman, Bibi, boleh saya ijin untuk solat sebentar?"
Semua mata tertuju pada sosok pria yang sedari tadi mencuri perhatian mereka. Yaitu Dava. Ia menatap sepasang suami istri yang masih menatapnya.
"Oh, waw...Jeff kau anak yang begitu baik. Silahkan, itu ikuti Bibi untuk menuju kamar tamu. Kau bisa solat di sana." tunjuknya pada sebuah kamar yang terlihat dari arah ruangan tengah itu.
Sendi, Tarisya, dan juga Tuan Wilson benar-benar tak menyangka jika Dava sudah belajar sejauh itu hingga ia berani melakukan solat seorang diri.
"Baik. Terimakasih." ucap Dava segera pergi.
Berbeda halnya dengan Sendi yang masih tetap duduk di tempatnya. Matanya menatap punggung sang kakak yang sudah menjauh dan saat ini tak terlihat lagi.
"Kalian benar-benar memiliki anak-anak yang begitu baik. Saya sangat bangga denganmu, Wilson." Wajah Tuan Fredi mendadak sendu kala mengatakan rasa takjubnya pada sang sahabat.
"Jangan bersedih seperti itu...mereka juga anak kalian." sahut Tuan Wilson sangat mengerti bagaimana sedihnya rumah tangga sang sahabat yang di usianya sudah sangat tua masih tidak mendapatkan anak juga.
Kekayaan yang mereka miliki semua sangatlah tidak bermanfaat di bandingkan dengan kekosongan di rumah megah itu. Sudah sangat lama keduanya mengharapkan suara tangisan bayi hadir di tengah-tengah keluarga mereka, namun sayang Tuhan berkehendak lain.
Hangatnya pernikahan mereka, dan begitu lancarnya usaha mereka membuat Tuhan memberikan satu ujian. Yaitu tidak mendapatkan keturunan tanpa adanya kejelasan apa yang terjadi. Seluruh rumah sakit di Indonesia bahkan luar negeri mereka kunjungi untuk melakukan pemeriksaan. Namun hasilnya tetap saja tidak ada masalah.
"Hem..." Fredi menghela napasnya kasar.
__ADS_1
"Apa? jadi Paman dan Bibi tidak memiliki anak begitu?" Sendi yang mendengarnya pun begitu terkejut. Hingga tanpa bisa tertahan, bibirnya bertanya dengan lancar.
"Iya, Nak. Bahkan kami sudah melakukan percobaan bayi tabung. Tapi tidak berhasil juga. Dan yang terakhir kami sampai hampir kehabisan cara. Bibimu mengusulkan untuk menyewa rahim. Tapi, aku tidak setuju." terang Fredi menatap wajah sang istri.
Bagaimana pun masalahnya, ia tidak akan tega menyakiti sang istri. Ia lebih memilih menua bersama sang istri tanpa adanya keturunan. Yang terpenting rumah tangga mereka baik-baik saja sampai maut memisahkan.
"Kalian benar-benar pasangan sejati. Aku sangat takjub, Han." sahut Tarisya yang menggelengkan kepala mendengar penuturan suami sahabatnya itu.
"Iya, Sya. Kami benar-benar pasrah saat ini. Maka dari itu kami hanya menghabiskan waktu dengan berlibur setiap akhir pekan. Dan makan di luar rumah setiap hari. Karena rumah ini terasa begitu sunyi. Dan kami memutuskan untuk saling membahagiakan sampai waktunya kami di jemput."
Sungguh menyedihkan dan terharu bagi siapa pun yang mendengar kisah pasangan senja itu. Mereka tak menyalahkan satu sama lain, justru saling mendukung di saat mereka benar-benar merasa putus asa. Tuan Wilson, Tarisya dan juga Sendi sangat takjub mendengarnya.
Di jaman seperti ini, sungguh jarang pasangan yang bisa sekuat mereka.
"Oh iya, saya sampai lupa. Tunggu sebentar." Fredi segera tersadar akan suatu hal. Dan ia pun berjalan meninggalkan semuanya yang duduk di sofa.
"Kamu yang sabar yah, Han." Tarisya duduk di samping Nyonya Hana dan memeluk sahabatnya itu.
"Sudahlah, Sya. Kami baik-baik saja kok. Dulu memang kami sangat down, tapi setelah kami memutuskan menyerahkan semuanya pada takdir, hidup kami jauh lebih bahagia. Tidak ada lagi beban yang kami pikrikan. Hanya ada pikiran menyambut masa tua yang saling membahagiakan." ia tersenyum membalas pelukan Tarisya.
"Andai saja dulu saat aku mengalami hal itu, kalian masih tetap ada dan baik-baik saja, Mungkin aku akan jauh lebih kuat. Tapi ternyata, keluarga kita berdua mengalami hal yang sangat berat dengan masalah yang berbeda, Sya. Tuhan memberikan kita cobaan dengan jalan yang berbeda."
"Dan itu adalah pelajaran yang sangat berharga untuk kita." ucap Tarisya menimpali perkataan Nyonya Hana.
__ADS_1