Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 207. Sakitnya Perjuangan Wanita Rapuh


__ADS_3

Semua menegang saat menanti detik-detik kelahiran generasi penerus Nicolas. Bahkan sudah hampir satu jam lebih masih belum mendengarkan tanda-tanda kelahiran bayi di dalam ruang bersalin itu.


Semuanya tak ada yang bersuara selain melantunkan doa mereka masing-masing dalam hati untuk sang ibu dan calon anaknya.


Berdiri di depan pintu, mengusap wajah sesekali berjalan mondar mandir menahan rasa gelisah yang tak bisa tertahankan.


Sosok pria yang paling mengkhawatirkan wanita di dalam sana, Sendi tampak beberapa kali tertangkap basah oleh Dina tengah menghela napas kasar dan memukul kepalanya.


Sementara di dalam sini, Tarisya sudah menangis pilu melihat sang anak terus berteriak kesakitan bahkan wajah Ruth yang membengkak mulai terlihat sangat pucat tak bertenaga lagi.


Suara Dokter yang terus membantunya untuk melahirkan saling bersahutan dengan tarikan dan hembusan napas dari bibir wanita yang tengah berjuang keras melahirkan sang buah hatinya.


Sungguh sangat menyakitkan, tubuh rapuh yang sekian tahun menahan banyaknya penderitaan, kini harus merasakan sakit dari proses melahirkan sang buah hati.


"Ayo, Bu. Tarik napas...lagi, lebih dalam keluarkan!" Sang dokter mulai membantu Ruth untuk menuntun proses persalinan pertamanya.


"Aaaaaaa!"

__ADS_1


"Aaaaaaaa." teriakan Ruth kembali terdengar kala itu dengan sangat nyaring sekali.


"Ayo, Nak. Kamu bisa sayang. Bunda akan tetap di sini menyemangatimu, Shandy." Tak henti-hentinya Tarisya mengusap peluh di kening sang anak. Sebelah tangan miliknya pun tak pernah melepaskan genggaman itu.


"Bunda, sakit sekali. Aku tidak kuat." Ruth menangis seakan kehilangan seluruh tenaganya.


"Sayang, ayo ikuti kata dokter. Pasti sebentar lagi berhasil, Nak." Ia sangat sedih saat melihat tidak ada lagi kekuatan yang tersisa di dalam tubuh wanita di depannya ini.


Kini hanya dirinyalah yang menjadi penyemangat


"Jeff, dimana kamu, Nak? Bunda sangat takut jika terjadi sesuatu pada Shandy dan juga anak kalian..."


"Ibu, apa anda masih sanggup?" tanya sang dokter yang tampak mengkhawatirkan keadaan Ruth.


Tarisya menggelengkan kepala saat melihat keadaan sang anak yang sangat mengkhawatirkan.


Dokter dan rekannya pun saling melempar tatapan sembari menggelengkan kepala. Jelas itu adalah isyarat jika keadaan sudah tidak memungkinkan untuk tetap di lanjutkan.

__ADS_1


"Dokter, saya mohon..." Tarisya mulai meneteskan air mata tanpa henti.


Matanya menatap dalam wajah Ruth yang seperti menahan kesadaran yang hampir menghilang.


"Tidak, Shandy jangan menyerah." tutur Tarisya memohon pada sang anak.


"Ibu!"


"Ibu dengar kami!" panggilan sang dokter mulai tak bisa di respon oleh Ruth. Ia terdiam hanya gerakan napas yang mulai perlahan tidak teratur.


"Harus segera di tindak. Maaf Ibu, pasien harus segera mendapatkan tindakan operasi secepat mungkin." Sang dokter tidak ingin mengambil resiko saat meyakini keadaan pasiennya saat ini sedang tidak meyakinkan lagi untuk menjalani persalinan normal.


"Saya...saya ti-dak-," ucapan Ruth terpotong kala ingin menolak untuk mengikuti saran dari dokter untuk operasi.


Brak!!


Tiba-tiba saja suara pintu ruangan itu terdengar mengejutkan seisi ruangan termasuk Tarisya yang langsung memegang dadanya.

__ADS_1


Semua yang tegang semakin tak terkendali kegugupannya kala mata mereka tertuju pada sepasang kaki jenjang yang bergerak melangkah masuk dan semakin mendekat.


Bibir Tarisya yang pucat pun terbuka karena begitu tak menyangka akan kehadiran sosok pria tampan yang sangat tidak terduga kehadirannya.


__ADS_2