Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 21. Tak Tik Putri


__ADS_3

Aku hanya menginginkan dua hal dalam hidupku saat ini. Satu, aku menginginkanmu dan dua aku menginginkan kita.


Jika boleh jujur, tidak ada satu orangpun yang bisa menerima kenyataan hati seseorang, ketika ia menyadari memiliki perasaan duluan. Dan begitu banyaknya tubuh yang mengalah dengan kegengsian hingga tidak mengakui tentang perasaannya.


Akan tetapi apakah ada yang mengetahui bagaimana hati seorang Dava Sandronata saat ini? bahkan mungkin dirinya sendiri pun bingung apa yang menjadi titik fokus dalam hatinya.


Antara sebuah rasa yang biasa saja dan rasa yang sangat  berbunga-bunga.


Kebimbangan di wajahnya benar-benar membuat seseorang yang tengah memperhatikan dirinya dari kejauhan ikut merasa penasaran.


"Cih, dasar pria gila. Apa yang di lakukannya di depan rumah Ruth malam-malam begini?" tanya seorang Sendi menatap murka dengan pria di depan sana.


Satu pintu mobil pun terdengar terbuka kemudian tertutup kembali. Dava menoleh kala menyadari suara tersebut.


Tatapan mata teduhnya kembali terlihat menajam saat itu juga. Rahang tegasnya mendadak mengeluarkan suara gemeretak sangat kuat. Dava melangkah cepat ke arah Sendi, begitu juga dengan Sendi yang melangkah dengan tatapan penuh amarah ke arahnya.


"Tidak cukup satu wanita di hidupmu?" Tatapan meremehkan terlihat di wajah Dava sembari memperhatikan setiap lekuk tubuh seorang Sendi Sandoyo.


"Kau tidak perlu ikut campur!" sahut Sendi tanpa mau mengalah.


Dua pria yang sama-sama memiliki kekuasaan di dalam bidang yang berbeda membuat keduanya sama sekali tidak bisa saling merendahkan maupun menjatuhkan.


Dava berdecih, "Cih!"


"Saat ini aku harus ikut campur. Bahkan kakimu selangkah pun tidak boleh menginjak halaman rumah ini tanpa ijinku. Apa kau masih belum paham apa itu artinya?"


Sendi mengernyit heran, mengapa? mengapa dirinya harus ijin pada pria di depannya ini dahulu? apa kelebihan kedudukan Dava di bandingkan dengan dirinya yang sudah pernah mengisi hati Ruth dengan waktu yang cukup lama.


"Tahan pria ini!!" teriak Dava yang berubah ekspresi menjadi berapi-api kala merasakan hatinya yang begitu panas.


Dan saat itu juga, beberapa pria bertubuh kekar tampak bergegas mengelilingi Sendi kemudian menggenggam pergelangan tangan pria tersebut.


Betapa Sendi begitu terkejut. "Hei, apa-apaan ini? Apa kalian mau mati di tanganku?" Tidak ada jawaban dari beberapa pria tersebut termasuk Dava.

__ADS_1


Sendi mengamuk hingga berusaha melepaskan cengkraman tersebut lalu melawan untuk membebaskan dirinya.


"Hey! Lepaskan aku! Kau berani denganku yah?" teriak Sendi kembali terdengar kala kedua tangannya dan kedua kakinya berhasil di cengkram kuat dengan orang-orang suruhan Dava.


Kini Dava yang sudah memastikan jika lawannya tak lagi bisa bebas, barulah pria tampan itu bergegas memasuki rumah milik sang istri. Bukan masuk, lebih tepatnya mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu terdengar pelan namun jelas. Malam menjelang subuh membuat angin berhembus dengan kencangnya menelisik seluruh pori-pori tubuh yang tanpa mengenakan jasnya lagi.


Ceklek. Suara pintu utama rumah terbuka. Satu pasang mata tampak menatap intens pada wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya.


Ia tersenyum.


"Paman, Putli kilain Opa yang jahat itu." ucapnya masih setia menatap tampilan pria di depannya yang tengah menenteng jas miliknya di lengan sebelah dan tersenyum kikuk padanya.


Manik mata Dava terus menatap ke kiri dan ke kanan. Memastikan jika di dalam rumah tidak ada yang melihat kehadiran dirinya.


Sementara di bawah sana, Putri melanjutkan aksi menyedot susu formula di dalam dotnya.


"Paman malam ini tidur denganmu boleh Sayang?" tanyanya dengan mengelus pipi gembul milik Putri.


Dengan senang hati tentunya Putri tersenyum kala mendengarnya dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Paman. Asiiik Putli senang sekali ada teman bobok hehehe."


"Tapi..." Ucapan Putri tampak menggantung kala menatap wajah yang tersenyum lega kepadanya saat ini.


Dava mengernyitkan dahinya heran, "Tapi apa, Putri? Paman akan mandi setelah sampai di kamar. Jangan khawatir yah?" ucapnya mulai sadar akan dirinya yang sudah terlalu banyak berkeringat malam ini.


"Em, No! Bukan itu, Paman. Tapi Putli biasanya bobok di kamal Mamah, Luth. Kalo nggak bobok di sana Putli pasti gelisah." Begitulah ucapnya dengan lancar meski di sudut lain tampak wanita tua renta yang terus mengacungkan jempol dan mengangguk berulang kali.


"Bagus! Lanjutkan Putri. Kamu benar-benar hebat, Nak." Begitu ucapan yang tergambar jelas dari ekspresinya kali ini.


Sementara Dava tampak tertegun mendengar pengakuan sang anak, yang kini juga sudah menjadi anaknya. Bukan anak Ruth saja.

__ADS_1


"Yasudah. Ayo kita tidur di kamar Mamah Ruth. Putri senangkan?" ucapnya sembari melangkah ke arah kamar dimana sang istri mungkin sudah terlelap menikmati indahnya alam mimpi.


Akhirnya dua sejoli itu tampak masuk bersamaan di dalam kamar yang ternyata tidak terkunci. Dava terdiam sejenak kala manik mata teduh miliknya menatap wajah cantik meski tengah tertidur.


Hatinya sakit, melihat beberapa luka yang terpampang nyata di depannya kali ini. "Putri, ayo tidur. Paman juga sudah lelah." ucapan Dava benar saja langsung di turuti oleh Putri.


"Pasti Paman mau manja-manjain Mamah deh. Hihihi, Putli pula-pula melem aja deh." ucap Putri dalam hati terkikik geli melihat kelakuan dirinya sendiri.


"Iya, Paman ganteng. Putli ngantuk banget. Good night Paman, mmuaacch." Satu kecupan mendarat di bibir merah milik pria tampan itu.


Dava yang mendapatkan perlakuan hangat dari sang anak, tentu sangat terkejut dan juga sangat bahagia rasanya. Ia pun memberikan kecupan hangat di kening kecil milik Putri.


Usai perpisahan malam hangat itu, Putri segera mengambil posisi tidur di sisi pinggir ranjang yang berseberangan dengan sang Mamah. Yang otomatis di tengah tempat tidur mereka masih kosong.


"Paman di sini yah boboknya," ucap Putri berbisik namun masih bisa terdengar jelas sembari menepuk sisi kasur yang kosong.


"Iya, Sayang." jawab Dava dengan pasrah.


Setidaknya ada sisi hati yang merasa bahagia sekali malam ini. Jika mungkin dirinya hanya berekspresi datar saja, berbeda halnya dengan hati kecilnya.


Beberapa jam berlalu, dengkuran napas bocah kecil di sebelah Dava mulai terdengar teratur. Yang menandakan jika sang anak terlah terlelap dalam mimpinya.


Dava menatap Putri, kemudian ia menoleh ke sebelahnya. Ia melihat wajah ayu sang istri. Tidur satu tempat tidur dengan wanita, sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Dan malam ini, adalah kali pertama seorang Dava Sandronata satu ranjang dengan berbeda jenis.


Satu elusan tangan kekar bergerak teratur dari pucuk kepala hingga ke bagian belakang sisi yang tidak terkena bantal.


Senyumannya pun terbit seketika.


Kembali, Dava mengelus seperti gerakan awal.


"Tidak," ucapnya menghentikan senyuman dan juga gerakan tangan yang terhitung hampir ke tiga kalinya itu ia ulangi.


"Perjanjian itu harus terselesaikan dengan baik sampai akhir. Tidak boleh ada yang melanggar. Dia atau aku sekali pun. Lagi pula, aku tidak akan pernah menyukai wanita bodoh seperti ini, kan?" ucapnya Dava menyangkal isi hatinya.

__ADS_1


Di sebelah ujung tempat tidur, satu mata mungil tampak terbuka kecil. Di sela-sela lubang mata itu, ada gambarang yang begitu sulit ia artikan kali ini.


"Huuh, kayaknya Putli halus minta teljemahin sama Mbok nih. Kalau Paman lagi diam liatin Mamah itu altinya apa yah? Apa lagi buat dedek kayak kata Mbok? Telus kalau lagi genggam tangan sendili di depan wajah Mamah itu altinya apa yah? Oke google, kita bobok dulu. Jangan lupa yah misi kita besok."


__ADS_2