
Dua pria yang tengah bersitegang di dalam ruangan berukuran tak luas itu membuat malam yang sunyi semakin senyap.
Dava meminta Sendi untuk duduk segera. "Cepatlah kemari. Bahas apa yang perlu kita bahas. Jangan buang-buang waktu." tuturnya ketus.
Sendi tersenyum miring mendengarnya. Ia pun melangkah menuju kursi kerjanya dan duduk berhadapan dengan sang kakak.
"Ini semuanya sudah selesai, bisa di periksa." Tangan Sendi menyodorkan sebuah laptop yang masih menyala di meja kerjanya.
Dava menyambutnya dengan cepat, mata merahnya yang sembab tak memperlihatkan lagi raut kesedihan. Tentu saja ia tidak akan mau terlihat lemah di depan saingan hatinya kali ini. Meski sekalipun Sendi tahu bagaimana hubungan mereka saat ini, namun mengenai keadaan Ruth. Tentu saja Sendi akan menjaga semua demi sang mantan yang begitu ia cintai.
Suasana pun kembali hening, meski sesekali mata Sendi melirik ke arah sang kakak. Jauh dalam lubuh hatinya ia sangat mengkhawatirkan keadaan Ruth.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, Ruth. Tetapi...tidak mungkin jika aku harus menemuimu lagi dalam waktu dekat. Hatiku tidak siap untuk bertemu denganmu saat ini." tutur Sendi dalam hatinya.
"Oke, ini sudah cukup. Hanya saja dalam tujuan pembangunan sepertinya bisa lebih di jelaskan dengan konsep yang seperti ini. Kau bisa melihatnya dari file yang ini. Aku sudah memberikannya nama." ucap Dava.
Sendi mengangguk paham dan ia langsung mengerjakan apa yang di perintah oleh sang kakak.
Tak lama kemudian Dava melirik jam di tangannya lagi. Hari sudah semakin larut, ia lelah begitu pula dengan Sendi yang lebih bekerja keras belakangan ini.
__ADS_1
Di sentuhnya pundak Sendi pelan lalu Dava berucap dengan lembut. "Pulanglah, besok pagi masih ada waktu sebelum meeting di mulai. Tubuhmu juga butuh istirahat." Ia beranjak dari duduknya usai mengatakan hal itu.
Sendi hanya terdiam melihat kepergian lawan bicaranya. Dava begitu memiliki sikap yang hangat pada siapa pun. Terlebih pada Sendi yang notabennya baru saja menjadi adiknya setelah sekian lama menjadi musuh dalam perebutan hati.
"Bagaimanapun kau adalah adikku juga, tidak mungkin jika selamanya kita menjadi musuh, Sendi. Mungkin suatu hari nanti aku akan banyak belajar darimu tentang melupakan apa itu cinta sejati..." Dava melangkah keluar dengan pandangan hampa.
Hampa sangat hampa. Berjalan kedepan dengan tanpa semangat. Semangat yang selama ini selalu berkobar dalam hatinya sudah hanyut terbawa oleh cinta yang terlarang.
Mungkinkah semua harus berakhir dalam waktu delapan bulan? Apakah semuanya akan berlalu begitu saja tanpa ada hal yang bisa menjadi penghalang cintanya akan berakhir.
Sungguh, keajaiban pun mustahil dan tidak akan pernah bisa menjadi penghalang putusnya cinta Dava pada Ruth.
Dava melajukan kendaraan beroda empat itu menuju rumah kembali. Ia tak bisa untuk menahan diri berjauhan terus dengan sang istri.
"Masya Allah...Non Ruth sama Putri sudah sangat mirip ternyata." Mbok Nan tersenyum menatap wajah keduanya yang memiliki kemiripan tersendiri meski mereka tentu berbeda jalur darah.
"Benar kata orang, mengangkat anak dengan penuh ketulusan perlahan akan mendapatkan keturunan yang nyata dari anak itu. Putri sangat mirip dengan Non Ruth saat kecil dulu. Hehehehe kok jadi kangen masa dulu yah? Non Ruth selalu saja minta di peluk kalau tidur." Ia menatap ke masa silam dimana rumah hanya berisi mereka berdua saja.
Rumah besar, namun tak menutup kemungkinan dengan makan mereka sehari-hari yang hanya bisa makan ikan asin, tempe bahkan hanya nasi pun mereka makan. Mbok Nan sungguh tulus menjaga satu-satunya anak majikannya pada saat itu hingga sekarang.
__ADS_1
Demi mempertahankan satu-satunya peninggalan majikannya, ia rela tidak menjual rumah itu untuk biaya makan dan kebutuhan sehari-hari demi ketulusannya.
Dan kini, perjuangannya sudah berhasil menjadikan semua berbuah dengan indah. Rumah utuh, dan mereka semua sudah tumbuh dengan dewasa.
"Terimakasih Ya Rabb...sampai saat ini engkau memberikan umur hamba yang panjang. Sehingga hamba bisa melihat dengan mata hamba sendiri anak-anak hamba tumbuh dengan baik. Semoga kau berikan mereka kebahagiaan selamanya."
"Eh iya...Tuan Dava kok belum pulang-pulang yah?" ucap Mbok Nan melihat jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan hampi jam 11 malam.
Tin! Tin!
Terdengar bunyi klakson di luar rumah. Dengan segera Mbok Nan berlari menuju pintu utama rumah itu. Ia yakin itu adalah Dava, sosok yang ia tunggu sedari tadi.
"Apa Ruth belum tidur, Mbok?" tanya Dava saat baru saja Mbok Nan membuka pintu rumahnya.
"Eh...sudah, Tuan. Dikamar tidur dengan Putri." Mbok Nan berjalan menunduk mengikuti langkah Dava yang menuju kamarnya.
"Ada apa, Mbok?" Ia berhenti berjalan saat menyadari di belakangnya ada sosok wanita yang mengekor.
"Eh, itu Tuan. Mbok mau bawa Putri pindah kamar, Tuan Dava." terangnya menjelaskan maksud ikut masuk ke kamar.
__ADS_1
"Sudah, mbok. Biarkan kami tidur bertiga saja." Dava tersenyum seraya melonggarkan dasi di kera bajunya.
Akhirnya malam ini, Dava bisa terlelap dengan nyaman dengan memeluk tubuh dua wanita berbeda generasi itu. Hari yang panjang kini telah terlewati lagi untuknya, dan besok pagi ia akan memulai semua kerasnya kehidupan dengan tenaga yang baru juga.