Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 45. Pasrah Dengan Hukuman


__ADS_3

Satu minggu kini telah berlalu semenjak penjemputan Tuan Iwan di kediaman mewahnya menuju kantor polisi.


Tubuh tua itu yang selali terlihat stylis berubah menjadi sangat berantakan. Wajahnya bahkan sudah sangat tidak terawat, bulu-bulu yang selalu di tata rapi di kedua rahanya menjadi panjang.


Pagi ini, sepasang suami istri baru saja di minta untuk datang melengkapi beberapa syarat. Ruth bahkan sudah membengkak matanya karena terus menangis meminta sang suami mengantarnya menemui sang pelaku.


"Ruth! Ruth! Dengar aku. Jangan gegabah. Kita sudah hampir selesai, jangan membuat semuanya sia-sia." Dava mengejar sang istri yang hendak berlari masuk terlebih dulu.


"Dav, aku tidak bisa diam begitu saja. Aku ingin segera bertemu dengan pelakunya. Aku ingin bicara dengan mereka. Apa salah Ayah dan bundaku? Mereka harus menjelaskan padaku, Dav. Mereka harus menjawab semua pertanyaanku selama ini." Ruth berucap panjang lebar.


Dirinya begitu merasa penasaran, apa yang menjadi motif rencana pembunuhan itu hingga membuatnya harus tumbuh besar tanpa kasih sayang kedua orangtua dan juga kakaknya.


"Ruth, lihat aku. Kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin. Oke? Biarkan hukum yang mengambil alih semuanya. Percayakan dengan mereka. Mereka pasti akan berlaku adil." Dava bahkan sampai menangkup kedua pipi sang istri yang tampak sembab di kedua matanya.


Jika boleh, ia ingin menghabisi nyawa pelaku itu untuk melampiaskan kekesalannya selama ini.


Ruth perlahan mengangguk setelah Dava mengusap air matanya. Tangannya bergerak menggenggam hangat tangan sang istri dan membawanya masuk.


Bahkan sampai hari ini, Dava masih belum memberi tahu siapa yang menjadi tersangkanya. Ia sendiri masih tidak bisa menerima ini semua, bagaimana bisa dua orang pria yang ia kenal selama ini tidak begitu dekat, ternyata jauh di belakangnya sama-sama menjalankan misi jahat tersebut.


"Maafkan aku, Ruth. Bahkan yang menjadi dalang dari ini semua adalah dua ayah dari dua pria yang sama-sama pernah mengisi hatimu. Aku sungguh tidak bisa berkata-kata lagi kali ini. Aku pun tidak tahu apakah setelah ini kamu masih bisa menerimaku sebagai suamimu atau tidak? Aku mencintaimu, Ruth. Apa pun yang menjadi keputusanmu kali ini, aku pasrah. Aku memang tidak pantas mendapatkan cinta dari wanita yang sudah di siksa lahir batin oleh ayahku sendiri."  Dava kini hanya bisa terus melangkah tanpa mau menatap sang istri yang berjalan di belakangnya dengan genggaman tangan keduanya yang tak pernah lepas untuk saling memberikan kekuatan.


 


"Pak Dava. Silahkan, Pak." Seorang petugas polisi mempersilahkan dua orang yang sudah mereka tunggu.


Kini Rafael yang baru saja tiba, langsung duduk di hadapan mereka. Beberapa berkas ia berikan pada Ruth untuk di tandatangani.


Meski Dava dan Rafael melihat jelas genggaman pulpen yang bergemetar itu, namun mereka sama sekali tidak berani berucap apa pun.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, kini Ruth menatap wajah polisi di depannya. "Pak, saya ingin bertemu dengan pelakunya." ujarnya dengan suara datar.


Jelas, jika ia memperlihatkan kemarahan akan mempersulit pertemuannya kali ini.


Dava hanya terdiam, lehernya terasa kaku tak bisa bergerak untuk memberi isyarat karena rasa gugupnya. Ia tidak akan tahu bagaimana reaksi sang istri jika mengetahui pelaku pembunuhan tersebut adalah ayah mertuanya sendiri.


"Baik. Mari." Rafael melangkah menuntuk langkah sepasang suami istri itu menuju ke sebuah ruangan besuk.


"Nda! panggilnya pada salah satu petugas jaga di sana.


"Siap, Bang." sahutnya dengan suara sigap.


"Panggilkan keduanya yang sudah saya bilang tadi." tutur Rafael tanpa menyebutkan namanya.


Di sini, Ruth terus menguatkan genggamannya pada tangan sang suami. Dava juga bisa merasakan tangan yang sangat dingin itu menggenggamnya.


Ia tak sanggup lagi mengatakan apa pun. Ruth tentu akan syhok dan mungkin tidak bisa menerima ini semua.


"Anda..." Ruth menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Ia menarik napasnya begitu dalam dan menghembuskannya kasar. Tersenyum kemudian memijat keningnya.


"Benar-benar menjijikkan. Bahkan kalian yang selalu menghinaku bodoh? Hahaha...hahahaha..." Ruth terus tertawa menggema di dalam ruangan besuk itu.


Tak perduli dengan tubuhnya yang menegang dan air mata yang terus menetes. Wanita itu terus tertawa. Dava hanya memejamkan matanya beberapa kali, hatinya benar-benar tak bisa di ungkapkan bagaimana sakitnya melihat istrinya tertawa yang begitu menyakitkan di dengar.


"Kalian melenyapkan keluargaku! Kalian merampas kebahagiaanku! Apa salah kami pada kalian?" Ruth berteriak dengan buliran air mata.


Tubuhnya yang berdiri sejak kedatangan dua tersangka, kini perlahan tersungkur lemah di lantai. Kemarahan pun percuma, perlawanan pun percuma ia lakukan. Semua sudah pergi dengan ambisius dua orang di depannya. Keluarganya tidak akan pernah bisa kembali sampai kapan pun.

__ADS_1


"Ayah...Bunda...kembalilah denganku. Kakak! Aku merindukan kalian! Mereka telah begitu jahat. Mereka melenyapkan kalian tanpa membawaku. Mereka jahat, Ayah, Bunda." Ruth menunduk menatap marmer kotor yang menjadi tumpuannya saat ini.


"Dava, tolong Ayah. Ini semua kesalahan dia. Bukan Ayah sendiri." Kini Iwan merasa tak bisa membela diri lagi kecuali meminta bantuan anaknya.


Yah bantuan untuk membujuk sang istri atas hukuman tersebut. Dava menatap sang Ayah dengan tajam. Bibirnya terkunci rapat tanpa mau berucap sepatah kata pun. Rasanya tidak akan sudi untuk berbicara dengan orang yang begitu jahat memperlakukan istrinya selama ini.


"Jangan lupakan dengan kejadian malam itu. Aku juga akan mengusutnya kali ini. Kau bukan ayahku lagi. Aku tidak sudi memiliki ayah sebej*at dirimu." tutur Dava dengan wajah murka bergerak meraih bahu sang istri yang menangis meraung di lantai.


Belum usai masa tegang, kini kembali terdengar teriakan seseorang.


"Ayah!"


"Papi!" Dua wanita terdengar menangis histeris menuju ruangan besuk sang suami mereka masing-masing.


Satu minggu mendekam di sel, namun sang istri mereka baru mengetahui semuanya hari ini.


"Dava, ada apa ini? Apa yang kamu lakukan dengan ayahmu?" tanya Sarah pada anaknya sembari memeriksa wajah sang suami yang begitu kurus.


"Menjauhlah Ibu. Jangan sampai kesialan itu menimpamu juga. Dia pria yang tidak pantas di sebut ayah ataupun suami." terang Dava dengan acuh.


"Aku ingin pulang." ucap Ruth bersuara lirih.


Dava yang mendengar segera bergegas menuntun sang istri tanpa perduli dengan kedatangan sang Ibu di ruangan kecil itu.


"Ruth," Dava bersuara setelah keduanya berada di dalam mobil.


Ruth yang diam membisu menoleh padanya. Bukan marah, melainkan wanita itu diam untuk memberikan kekuatan pada dirinya sendiri.


"Kau boleh menghukumku. Aku gagal menjadi suami yang melindungimu. Aku menyerah, Ruth. Kau boleh lakukan apa yang pantas kau lakukan denganku." Dava berucap tanpa berani menatap wajah wanita yang menatapnya begitu dalam.

__ADS_1


"Ruth, aku..." Dava terdiam membisu seketika. Matanya membulat kala mendaptkan serangan bibir mendadak dari sang istri yang begitu ia cintai.


Tidak! Ini hanya mimpikan? begitulah isi pikiran Dava kala mendapatkan kehangatan dari bibir mungil Ruth. Apakah ini hanya sebuah halusinasi yang berlebihan karena rasa cemasnya sedari tadi?


__ADS_2