
Dua sosok pria tampan yang berdiri di dalam ruangan rawat itu lebih tepatnya di depan pasien cantik yang menatapnya bergantian.
Keheningan terjadi beberapa saat kala Dava masih tak menjawab pertanyaan konyol sang istri.
"Istriku..." Dava membelai rambut panjang sang istri yang tergerai lurus ke bawah.
"Hais..." Rafael menghela napasnya kasar enggan melihat adegan 18+ di depannya.
"Katakan semua yang kau ketahui tentang kepergian kedua orangtuamu dengannya. Oke? Dia yang akan mendalami kasus itu." tutur Dava dengan penuh pengertian.
Mata cokelat Ruth menatap dalam sang suami. Bibirnya membisu setelah kelu berbicara tak menentu arahnya.
Ia bahkan tak bisa lagi menahan genangan air mata di kedua netra cokelat itu. Bibirnya yang membisu mendadak bergetar usai mendengar kata 'orangtua'. Hatinya mendadak sakit begitu sakit hingga tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
"Hiks...hiks...hiks." isaknya langsung memeluk tubuh sang suami.
Kemarahan api cemburu sirna seketika. Di dalam hati ada yang jauh lebih menyakitkan. "Ayah...Bunda..."
Dua kata yang keluar dari bibir mungil itu membuat dua pria yang mendengarnya ikut merasakan sakitnya seorang wanita yang begitu tampak rapuh.
Flashback on
Di tengah-tengah lebatnya hujan dan begitu banyaknya orang yang berkerumun membuat sesosok wanita yang menangis dengan menggendong bayi mungil itu kesulitan menjangkau dua kantung jenazah.
"Pak, tolong. Saya mohon. Saya ingin melihat majikan saya, Pak polisi." Mbok Nan menangis memeluk bayi yang terus menangis histeris.
Benar. Begitu jelas ikatan batin seorang anak pada orangtuanya, kini membuat Mbok Nan kekeh ingin memastikan jika benar di dalam kantung jenazah itu adalah kedua majikannya.
"Mohon maaf. Tolong jangan menghalangi proses penyelidikan, Ibu. Korban sudah tidak bisa di kenali karena tubuhnya yang sangat rusak parah akibat kecelakaan. Kami akan segera mengurus jenazah sekrang juga. Mari, kami antar."
Mbok Nan yang kala itu masih terlihat sangat muda hanya bisa menangis tak berdaya. Siapalah dirinya yang hanya seorang pekerja rumah tangga. Tidak akan mungkin di dengar suaranya oleh orang diluaran.
Matanya menatap pilu dua kantung jenazah yang baru di temukan dari kedalaman laut yang menjadi tempat terakhirnya menghembuskan napas.
__ADS_1
Bagaimana tidak menyedihkan, di saat itu hanya dua dari lima korban yang di temukan. Bahkan tidak ada satu pun yang boleh membuka kantung jenazah tersebut dengan alasan tidak utuhnya tubuh korban.
"Tuan, Nyonya...maafkan saya. Saya tidak bisa berbuat apa pun di detik terakhir kalian ada di dunia. Saya berjanji akan berusaha keras untuk membesarkan dan mendidik anak kalian yang tersisa satu ini. Saya berjanji akan menjaganya seperti anak saya sendiri," Mbok Nan menatap pilu dari jendela mobil polisi yang mengantarnya pulang ke rumah majikan.
Flashback off
"Semuanya sudah berlalu, Ruth. Sekarang waktunya kita menyelesaikan semua. Ayolah." Dava menjauhkan pelukan sang istri lalu mengusap air mata yang banjir tanpa henti.
Ruth masih sesenggukan meski berusaha keras menahan air matanya. Dava sungguh tidak bisa memaafkan siapa pun yang membuat istrinya menangis seperti ini.
"Aku yang akan memastikan mereka di hukum seberat-beratnya, Ruth. Sekian tahun bahkan kau menderita karena orang-orang tidak bertanggung jawab seperti mereka." Dava mengepal erat kedua tangannya yang memeluk sang istri kembali.
Cintanya bahkan tak lagi berbatas saat merasakan betapa pilunya penderitaan sang istri selama ini. Hidupnya bahkan bagai obak di lautan yang terus terombang ambing terbawa angin tanpa arah.
Kini Dava menyadari akan satu hal yang membuatnya begitu menyesal. "Ya Tuhan, betapa salahnya aku memaksanya untuk menikah denganku. Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu dengan wanita sepertinya. Apa pantas diriku ini mendapatkan maaf darimu Tuhan? Aku telah berdosa membawanya ke dalam agama yang tidak dia inginkan sama sekali?"
"Ehem...jadi kapan kita memulainya ini? Rafael yang berdehem seketika membuat pelukan Dava dan sang istri terlepas secepat kilat.
"Dava, boleh aku bertanya langsung dengan Ruth?" tanya Rafael ingin mempercepat penyelesaian masalah tersebut.
"Em, silahkan." jawab Dava secepat kilat.
"Nyonya Dava, pertama saya akan meminta persetujuan terlebih dahulu dengan anda." Rafael sejenak menatap suami dari wanita itu. Dan Dava mengangguk setuju.
"Apakah anda setuju untuk membuka kembali kasus yang ada di berita ini? Dan apakah anda bersedia bekerja sama dengan kami untuk memberikan informasi?"
"I-iya, Pak. Saya bersedia." Ruth menahan tangisnya.
Dalam setiap jatuhnya air mata, Ruth bahkan terus berucap ia ingin semua waktu bisa di ulang. Ia bukan hanya ingin kasus ini di buka, tapi bolehkah jika dirinya sedikit egois untuk bisa melihat wajah keluarganya untuk yang terakhir kali saja?
Rafael mulai menanyakan berbagai macam pertanyaan terkait masalah kecelakaan beberapa tahun lalu. Namun Ruth sangat memberikan informasi begitu sedikit.
__ADS_1
"Hem...keluarga satu-satunya yang tersisa hanya anda. Bagaimana kami mencari tahu informasi lebih lanjut? Apakah ada orang lain yang berkaitan dengan keluarga anda, Nyonya Dava?" Rafael merasa sedikit sulit karena sedikitnya saksi. Mengingat kasus tersebut sudah cukup lama, bahkan pihak kepolisian pun sudah menutup beberapa bulan setelah kejadian tersebut.
"Mbok Nan. Dia satu-satunya wanita dari keluarga kami yang merawatku sejak kecil. Bapak bisa menemuinya." jawab Ruth yang mulai menguatkan dirinya semenjak menjawab beberapa pertanyaan.
"Apakah sampai sejauh ini, anda masih tidak mendapatkan informasi denga kakak anda, Nyonya Dava?" pertanyaan Rafael akhirnya kembali mengingatkan Ruth dengan sosok Sendi. Satu-satunya keluarga yang ia miliki yang tersisa saat ini.
"Kak Berson...Dava, dia adalah kakakku. Percaya denganku." lirihnya memohon seraya menggenggam tangan sang suami.
"Iya, Raf. Aku sudah menemukan bukti tenga Berson. Di dokumen yang aku berikan itu adalah petunjuk." terang Dava
"Jadi Sendi Sandoyo yang sebelumnya bernama Berson Nicolas...Oke, aku mengerti sejauh ini. Baiklah kalau begitu aku harus menemui wanita yang di maksud istrimu terlebih dulu."
Seperginya Rafael, Ruth menangis di dalam pelukan sang suami. "Dava," lirihnya.
Dava membelai rambut sang istri begitu lembut. "Katakan." tuturnya siap mendengar semua keluh kesah sang istri.
"Aku ingin bahagia, Dav. Bolehkah?" Begitu sakitkah? begitu menyedihkankah kehidupan istrinya? Bahkan Dava terdiam, bukan tak sanggup menjawab. Melainkan bibirnya juga terasa menahan tangis yang teramat sakit.
Entah mengapa kali ini dirinya bisa merasakan apa yang Ruth rasakan. Di umurnya menginjak usia 27 tahun, bahkan Dava sendiri masih merasa asing dengan kehidupannya. Ia sadar dengan perlakuan keras sang ayah padanya. Namun entah mengapa, sedikit pun kasih sayang tidak bisa di rasakan.
Dava menganggukkan kepalanya. Air matanya pun jatuh. "Iya. Iya Ruth. Kamu boleh bahagia. Kita akan bahagia bersama. Bersabarlah saat ini. Kita hadapi berdua."
Keduanya mengeratkan pelukannya dengan tangis yang begitu terdengar memilukan. Pelukan ternyaman kini bisa Ruth rasakan. Pelukan penuh cinta untuknya.
Sebuah pernikahan yang berawal hanya dengan tujuan kepentingan masing-masing, kini perlahan menjadi jembatan panjang untuk bisa merajut kasih sepanjang hidup dan membangun keluarga kecil dengan satu tujuan. Yaitu bahagia.
Berbeda dengan suasana di kediaman Tuan Iwan.
Wajah tua itu tampak pucat setelah mendapati beberapa petugas kepolisian yang berdiri di depannya dengan selembar surat perintah.
"Tidak! Tidak. Kalian salah. Saya bukan pelakunya." Teriaknya setelah mendengarkan laporan terkait perintah penangkapan yang berhubungan dengan kecelakaan keluarga William Nicolas atau lebih di kenal dengan nama Darwin Surya Dinata.
__ADS_1