Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 65. Perginya Dina


__ADS_3

Suasana yang hening menambah rasa mendidih dalam jiwa seorang pria yang kini tengah memandangi lekuk tubuh sang istri dari jarak yang begitu dekat.


"Ruth," panggil Dava lirih.


"Ruth," panggilnya kembali, namun sang istri masih tak bergeming.


Dengkuran nafas halus terdengar teratur. Nampaknya wanita itu sudah menikmati alam mimpi malam itu. Tanpa tahu jika di sini sang suami tengah mengendalikan diri dengan susah payah benda pusaka yang sudah siap bertempur di balik jeruji kain tersebut.


"Argh! Aku benar-benar tidak tahan, Ruth." Dava mengacak rambutnya frustasi.


Tak perduli jika sang istri terbangun. Dava memulai pergulatan panasnya tanpa izin sang istri. Tangan kekar miliknya bergerak lincah melucuti seluruh pakaian yang ia kenakan. Setelah selesai dengan tubuhnya, ia kembali melucuti pakaian sang istri.


"Hem..." ******* keluar begitu saja dari mulut Ruth kala merasakan bagian lehernya mendapat sentuhan lembut dari tangan sang suami.


Seketika Dava tersenyum mendengarnya. "Dia merasakan, oke kita lanjut, Sayang." lirih Dava memulai permainan bibirnya dan indera perasa setelah puas dengan tangannya.


Tak perduli dengan tubuh yang terus menggeliat menikmati sentuhan itu, Dava semakin melancarkan aksinya lebih jauh lagi.


Setiap inci bahkan tak sedikit pun ia lewatkan untuk di absen. Ruth yang tengah menikmati tidurnya perlahan sayup-sayup membuka paksa matanya kala merasakan sensasi yang luar biasa.


"Argh!!"


"Dav..." Ruth mengeluarkan suaranya saat itu juga.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak tahan lagi." sahut Dava berbisik di telinga sang istri saat baru saja berhasil menerobos gawang pertahanan sang istri.


"Kamu nakal yah?" Ruth memeluknya dengan erat seraya memejamkan matanya dan sesekali membukanya seiring kenikmatan yang di berikan sang suami.


Dava hanya terus melancarkan aksi tembak-menembaknya tanpa perduli sang istri yang mulai mengeluarkan suara-suara panasnya.


Keduanya tampak begitu menikmati hubungan malam yang di lakukan Dava seorang diri pada mulanya.


"Dava..."


"Iya, Sayang."


Keringat dari kedua tubuh mereka mulai menyatu di perbatasan tubuh bug*l itu. Tubuh yang tampak mulus kini terlihat penuh dengan tanda merah yang di hasilkan dari bibir manis sang suami. Namun, itu tak membuat Ruth merasa malu. Semua yang di berikan sang suami padanya benar-benar nikmat.


Hingga kini Dava sampai di puncak pacuan kuda terakhirnya, ia menegangkan tubuh bersamaan dengan pelukan sang istri yang terasa begitu erat.


Jika di kamar ini keduanya tengah berpelukan menikmati sisa-sisa lelah, berbeda dengan suasana di kamar yang lain tepatnya di kediaman Deni.


"Dina, mau kemana kamu?" tanya sang ibu yang mengejar Dina berjalan ke depan pintu rumah dengan menggenggam kunci mobil miliknya.


"Bu, berhenti mencegah Dina. Dina ingin mencari kesenangan di luar sana, Bu." bantahnya.


Wuri menggelengkan kepala. "Tidak, Dina. Kamu sedang hamil. Berdiamlah di rumah untuk sementara waktu. Janinmu sangat bahaya di bawa keluar-keluar terus."

__ADS_1


Dina hanya tersenyum menyungging. "Bu, jika suamiku saja tidak perduli, untuk apa aku perduli dengan janin ini?" ketus Dina.


Plak!!


Wuri yang geram mendengar penuturan sang anak langsung melayangkan tangannya tanpa mau berpikir panjang lagi.


 


Dina semakin emosi saat mendapati perilaku kasar sang ibu. Ia menatap tajam Wuri seraya memegang pipinya yang panas.


"Ini semua karena kalian! Aku yang jadi korban kan? Puas kalian?!" Dina berlari keluar tanpa mau mendengar larangan sang Ibu lagi kali ini.


"Dina! Dina!" Wuri terus mengejar sang anak hingga mengetuk-ngetuk jendela mobil sang anak.


Perasaannya sangat takut jika anaknya sampai melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan.


"Ya Allah...lindungi anakku." Wuri kini hanya bisa memandangi kepergian sang anak dengan mobil yang keluar dari halaman rumah itu.


Di sini Dina tengah menghubungi seseorang.


Sambungan telepon terhubung.


"Halo, Sayang..." Suara lelaki yang tengah di iringi musik membuat Dina memejamkan matanya.

__ADS_1


"Keluar dari tempat itu, dan kita bertemu sekarang." pintah Dina tanpa mau basa basi lagi.


Jemarinya langsung mengakhiri panggilan telepon.


__ADS_2