Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 117. Mengantarkan Pulang Untuk Segera Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Di ruangan yang tidak begitu luas namun cukup mendukung untuk di jadikan tempat makan siang kali ini. Terlihatlah tiga saudara yang saling keterikatan hati berada di sofa yang sejajar.


"Ini makan untuk suamiku...dan yang ini, untuk mu, Kak. Ayo makan." Ruth menyerahkan rantangan nasi yang masing-masing sudah ia buka.


Dava dan Sendi saling bersitatap. Tak tahu apa arti dari tatapan itu, yang jelas kali ini Sendi sangat sadar jika ada yang sangat ganjal dari sikap Dava.


"Biasanya dia selalu nempel dan sok manja...tapi berbeda dengan sekarang. Apa yang terjadi sebenarnya?" batin Sendi bertanya-tanya.


"Aaaaa," Ruth menyuapkan makanan pada mulut suaminya yang masih terbungkam.


"Dav, ayo buka mulutnya." pintahnya dengan wajah memohon.


"Ah...iya Sayang. Biarkan aku memakannya sendiri." Dava memilih meraih rantang dan sendok yang di pegang sang istri.


"Oke, baiklah. Kalian berdua makan yang tenang. Aku ingin menuju meja kerjaku untuk memeriksa kerjaan sebentar." ucapnya dengan senyuman yang mengembang.


Dava hanya diam memandangi punggung sang istri yang semakin menjangkau meja kerjanya.


"Setelah ini aku ada janji untuk ke rumah sakit, tidak mungkin jika aku mengundurnya lagi." ucap Dava dalam batinnya.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kau beritahu Ruth untuk pergi ke rumah sakit? Dia pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini, Dav?" Pertanyaan dari Sendi tentu saja langsung menyadarkan Dava dari lamunannya.


Ia menoleh cepat dengan wajah yang syok. Bagaimana mungkin ia akan menuruti saran dari Sendi. Sedangkan dirinya saja masih sangat kepikiran dengan kelanjutan hubungannya dengan sang istri.


Dan tidak mungkin jika Dava memberitahu pada Sendi tentang semuanya. Semua akan hancur dalam sekejap. Tidak. Dava masih tidak siap menerima ini semua.


Dengan seribu alasan, akhrinya Dava memberikan kejelasan tentang niatnya yang tidak ingin Ruth segera tahu.


"Tidak. Ruth masih dalam keadaan lemah. Aku khawatir dengan tubuhnya dan juga kandungannya. Biarkan aku yang mengurus semuanya dulu. Kandungan di usia awal seperti ini sangat rawan kata dokter. Biarkan di tenang sampai batas waktu yang di ijinkan Dokter untuk menerima beban berat." terang Dava dengan tegas.


Sendi tak habis pikir, jika memahami ucapan Dava tentu itu adalah waktu yang tidak sebentar.


"Aku tidak tahu pasti." jawab Dava enggan berkomentar lebih. Ia memilih menghabiskan makannya sesegera mungkin dan berniat untuk mengantarkan sang istri ke rumah secepatnya.


"Selesaikan pekerjaanmu lebih cepat. Setelah mengantarkan Ruth kerumah, aku akan menjemputmu." ucapnya dengan tergesa-gesa meneguk air di botol mineral miliknya.


Senyuman mengembang dari arah lain. Tentu saja ada perasaan bahagia melihat kedua pria yang sangat ia sayangi kini sudah berbincang-bincang sembari menikmati makan mereka. Tanpa Ruth tahu apa yang mereka perbincangkan saat ini.


"Syukurlah...mereka terlihat sangat menggemaskan jika seperti itu. Sama-sama tampan. Aku suka ini." Ruth tersenyum dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja.

__ADS_1


"Mengapa kalian berdua jadi sangat mirip yah? Aku seperti merasa sedang memiliki dua kakak yang menjagaku...andai Kak Jeff masih ada, pasti aku akan sangat bahagia. Tapi tidak apa-apa. Ayolah jangan bersedih, Ruth. Kak Jeff sudah tenang di sana bersama Ayah dan Bunda. Dan Tuhan mengirimkan dua pria yang bisa menjadi Kak Jeff juga." Ruth tanpa sadar meneteskan air mata mengenang kepergian keluarganya yang sangat ia rindukan selama ini.


"Sayang, ada apa? Mengapa kau tersenyum-senyum seperti itu?" Dava mengusap kepala sang istri yang baru saja menghentikan aksi harunya dan sedih itu.


Ruth tersenyum menatap wajah tampan sang suami. Ia berdiri dari duduknya dan memeluk Dava.


"Aku sangat bahagia. Aku bahagia sekali, Dav. Memilikimu dan Kak Berson saat ini. Kalian berdua sangat membuatku merasa tidak kekurangan lagi." terangnya di sela-sela kedua tangan yang makin ia eratkan untuk di peluk.


"Sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir. Saat ini ada baby yang harus tumbuh sehat di rahimmu. Hiduplah dengan bahagia. Sisanya biarkan aku yang memikirkan semua. Okey? Sekarang aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah."


"Tapi, Dav..."


Dava menggeleng lembut dan memejamkan matanya. "Pulang dan istirahat. Aku harus kembali bekerja dengan Sendi. Ayo..."


Akhirnya Ruth hanya bisa menurut para perintah sang suami untuk di antar pulang ke rumah. Meski sebenarnya ia begitu sangat bosan jika terus berkurung diri di dalam rumah yang sunyi senyap itu.


"Baiklah. Daaaa Kak..." ucap Ruth melambaikan tangannya dengan wajah cerianya. Di ikuti Dava yang melangkah di belakangnya.


"Hati-hati Ruth, Dav." sahut Sendi yang hanya bersuara datar tanpa senyuman seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2