
Setelah hari ini semua sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, semuanya berkumpul untuk yang pertama kalinya di meja makan dengan personil lengkap tanpa terkecuali.
Suasana meja makan begitu tenang dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Satu wajah baru tampak begitu gugup kala mendaptkan waktu pertama kalinya dimana ia akan makan bersama dengan keluarga dari sang suami.
Keluarga yang telah menderita bertahun-tahun akibat ulah ayahnya sendiri.
Kursi yang menjadi penengah di antara kursi-kursi yang di duduki anak-anaknya. Tarisya tampak membuka pembicaraan di meja makan malam itu.
"Berson," panggilnya dengan lembut menatap wajah sang anak kedua.
Mendengar namanya di sebut, dengan cepat Sendi bersuara. "Iya, Bunda." jawabnya sangat patuh.
Keluarga inilah keluarga yang sangat di impikan oleh Dina. Di sini di rumah ini ia mendapatkan suasana hangat dan menyenangkan itu.
"Terimakasih, Ya Allah..." batinnya dengan senang sejenak ia memejamkan mata lalu kembali membukanya.
Ada gurat kebahagiaan di wajah manisnya kini. Namun, mata indahnya kembali fokus pada arah sang mertua dan sang suami yang berbincang entah apa ia sendiri pun tidak tahu.
"Hari ini Bunda sudah banyak menghadapi begitu masalah. Begitu pula dengan hari-hari sebelumnya." tutur Tarisya membuka dengan kata yang tidak bisa di tebak arah ucapannya.
"Untuk anak-anak Bunda, malam ini sebelum kita makan malam...Bunda ingin memberi tahu jika mulai malam ini Dina akan tinggal di sini bersama dengan Berson. Bunda tidak ingin anak-anak Bunda tinggal terpisah sedangkan Bunda dan Ayah masih begitu sedikit waktu bersama kalian." Tentu saja kata-kata Tarisya yang terdengar seperti perintah membuat mata Dina dan Sendi serentak menerang ke arahnya.
Bagaimana mungkin Sendi harus tinggal di rumah itu sedangkan setiap waktu ia terus melihat kesedihan di wajah sang adik. Rasanya sungguh menyiksa batin tentunya. Sementara ia harus tinggal di rumah itu dengan terus menjaga perasaan sang istri agar tidak berlebihan dalam bersikap dengan sang adik.
Sungguh keadaan yang sangat sulit ia kendalikan setiap kali melihat Ruth, hatinya selalu menuntun langkahnya untuk mendekat dan memberikan ketenangan.
"Tinggal di rumah ini? Apa aku sanggup? Ya Allah...melihat tatapan Sendi padanya saja hati ini seperti luka yang di tetesi air garam. Perih sekali." batin Dina menunduk menghindari tatapan sang mertua.
"Dina, Berson...apa kalian keberatan dengan permintaan Bunda?" pertanyaan yang terlihat seperti permintaan empati dari kedua pasangan suami istri itu.
Benar saja, Dina dan Sendi seketika menggelengkan kepala tidak tega melihat mata sendu sang bunda yang begitu menyedihkan dan penuh harap pada keduanya.
__ADS_1
"Tidak, Bunda. Kami siap akan tinggal di sini dengan Bunda." jawab Dina dengan cepat sebelum Sendi mengatakan apa-apa.
Tentu saja ucapannya membuat Tarisya tersenyum lega dan menghela napasnya lega. Ia bisa melihat jelas keseriusan jawaban dari sang menantu.
"Baguslah, untuk hal kalian semua sudah selesai." kini tatapan mata Tarisya beralih pada sosok Dava dan Ruth secara bergantian.
Mata sembab yang terlhat seperti sudah lupa dengan ketenangan dalam matanya jelas membuat siapa pun yang menjadi orangtuanya tidak akan bisa diam begitu saja. Sama seperti yang di rasakan oleh sosok Tarisya.
"Jeff, Shandy," panggilnya dengan lembut namun tetap terdengar serius.
Ruth yang biasanya hanya mampu menatap wajah sang bunda segera bersuara dengan sedikit mengejutkan semuanya.
"Iya, Bunda..." jawabnya terlihat jauh lebih tegar dari sebelumnya.
Berbeda dengan Dava yang begitu syok karena tak biasanya bahkan ia tidak pernah mendengar suara Ruth seperti itu. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara yang selalu mengalun indah dalam ingatannya.
Sendi pun menatap wajah sang adik dengan tatapan yang begitu sulit di artikan.
Duar!! Dava membulatkan matanya bagai tersambar petir.
Ia menatap tak percaya pada sang istri saat ini. Seketika air matanya pun jatuh berguguran. Dava menggelengkan kepalanya terus.
Tak sekali pun ia mengalihkan pandangannya pada sang istri.
Meskipun mereka tidak bisa bersatu, namun entah mengapa Dava rasanya sungguh tidak rela jika berbeda keyakinan dengan sang istri. Ia benar-benar belum siap akan hal yang semakin tinggi menjadi pembatas di antara mereka.
Semua bisa melihat reaksi tenang di wajah Ruth, sementara reaksi yang begitu menyedihkan di wajah sosok Dava.
"Ruth, tidak. Kau bercanda, Sayang. Katakan jika ini hanya kesalahan ucapanmu saja." Akhirnya setelah sekian lama bersikap saling asing. Kini Ruth kembali bisa mendengar suara pria yang begitu ia rindukan.
Terlebih suara itu memang teruntuk dirinya kali ini. Dan kata 'sayang' membuatnya sangat-sangat merindukan sosok sang suaminya.
__ADS_1
"Aku begitu merindukan suara itu, Dav. Aku sangat sangat merindukanmu, Suamiku..." Kini hanya gumaman dalam hati yang bisa Ruth ucapkan demi melepaskan beban di hatinya.
Sekali pun ia tak berani menatap wajah sang suami kali ini, Ruth tahu hatinya belum setegar itu. Bukan berarti ia tidak tegar menghadapi sosok Dava, tetapi hanya belum waktunya saja.
"Baik, Bunda. Lebih cepat lebih baik." sahut Ruth tanpa memperdulikan ucapan Dava barusan.
"Baik, semuanya sudah selesai. Dan kita bisa mulai makan malamnya..." ujar Tarisya yang mulai membuka piringnya di depan.
Semua pun mengikuti gerakan sang bunda, kecuali Dava yang masih terdiam menatap tanpa berkedip sang istri. Matanya terasa begitu panas hingga air mata terus bertetesan dengan perlahan.
"Ayah...Ayah, mengapa menangis?" suara sosok bocah yang tanpa Dava sadari sedari tadi terus memperhatikannya.
Seketika Putri memeluk tubuhnya dengan begitu hangatnya. Tangan mungil miliknya bergerak mengusap air mata di kedua pipi pria itu. Ia tidak akan rela jika kedua orangtuanya akan meneteskan air mata kesedihan di depannya.
"Please...these tears mean a lot to me. Menangislah kelak ketika aku berhasil membahagiakan Ayah dan Mamah. I love you." Putri tersenyum kala melihat Dava juga tersenyum meski ia tahu itu adalah senyuman paksa.
Semua yang mendengar perbincangan Putri hanya diam. Begitu pula dengan sang bunda yang memilih untuk membiarkan semuanya dahulu. Jika ia terus mencampuri urusan hati kedua anaknya bisa-bisa semuanya akan berantakan. Mereka sudah dewasa dan tentu bisa mengontrol diri masing-masing.
Sebagai orangtua hanya bertugas mengarahkan dan membimbing tidak untuk menghakimi atau memaksakan kebenaran.
Semuanya pun kembali makan dengan tenang. Dentingan sendok yang saling bersahutan tanpa perbincangan hangat sedikit pun.
Makanan lezat hasil masakan Mbok Nan terasa begitu hambar di lidah pada penikmat makan malam kini. Semua terjadi karena pembahasan yang memang tidak mengenakkan sebelum acara makan malam di mulai.
"Huhh...mengapa aku bisa lupa dengan ini? Seharusnya setelah makan barulah aku membahas masalah ini semuanya." Hanya gelengan kepala saja yang bisa Tarisya lakukan kini.
Kedudukan dirinya sebagai pemimpin di keluarga sementara membuatnya sedikit sulit mengambil keputusan karena tidak ada sang suami yang bisa di ajak bertukar pikiran untuk mengatasi masalah anak-anak mereka.
"Ayah...segeralah sembuh. Bunda sangat bingung menghadapi ini semuanya..." tuturnya dalam hati menatap ke arah sang suami yang tampak makan dengan di suapi oleh Mbok Nan kali ini.
Mata sang suami bahkan sedari tadi pun terus menatap ke arah sang istri. Ia tahu betapa beratnya mengatur keluarga besar seperti sekarang yang di lakukan istrinya.
__ADS_1