
Usai panggilan dari Sendi berakhir tanpa kata-kata, Sarah terduduk lemas di depan rumahnya. Wuri yang melihat ekspresi syok sang sahabat ikut terkejut dan sedih.
"Bagaimana Sar, Apa kau baik-baik saja? Mau aku menemanimu mencarinya?" Sarah yang menangis membuat Anjani seketika menghentikan mobilnya saat ingin pergi menjauh dari halaman rumah itu.
Ia berlari turun dari mobil, lalu mendekat ke arah dua wanita yang tengah bersedih sembari berpelukan itu.
"Tante, Ibu kenapa? apa yang terjadi?" Anjani begitu cemas melihatnya ia berpikir jika ialah penyebab dari kesedihan wanita tua di depannya kini.
Sarah hanya meneteskan air mata sesekali ia menyebut nama Dava dengan lirih. Sungguh hatinya begitu terpukul usai merasakan hari yang sangat bahagia tiba-tiba saja ia mendengar kabar yang sangat menyakitkan dari sang anak.
***
Di sisi lain, sinar mentari sore yang tampak sangat indah kini menyilaukan dua rambut hitam bergelombang yang tengah bergerak seirama langka kaki mereka.
Ruth dan Putri bergandengan tangan dari kejauhan berjalan menelusuri halaman rumah mereka hingga langkah kaki mereka tiba di sebuah taman yang sangat ramai.
"Mah, are you okey?" Putri melihat senyuman di bibir pink sang mamah tak pernah pudar sedari mereka pergi dari rumah tadi.
Ruth menggelengkan kepala dengan senyuman yang sangat lebar. "It's okey, Nak."
"Huh akhirnya kita sampai juga. Bagaimana Putri suka berjalan sore?" tanya Ruth yang mendaratkan bokongnya di kursi taman itu lalu di susul oleh bocah kecil itu.
__ADS_1
"Huum...suka banget. Sudah lama Putri ingin seperti ini, Mah. Di sekolah Putri cuman bisa dengarin teman-teman yang cerita soal jalan-jalan sama ayah dan mamahnya." Putri bercerita dengan riang gembiranya.
Namun seketika, ia tertunduk lesu usai menyebut kata ayah. Hatinya mendadak sedih mengingat sang ayah yang telah pergi entah kemana.
Mungkin kekuatan hati Dava berakhir hari ini, ia berusaha menghilangkan kepedihan di hatinya dengan menjauh dari semua masa lalunya.
Ruth yang bisa melihat kesedihan di wajah sang anak segera mengusap kepalanya dengan penuh cinta. Ada rasa nyeri saat melihat kesedihan itu. Ia tahu betapa sakit yang di rasakan Putri kala ini. Namun, ia bisa apa? semua sudah terjadi begitu saja.
"Ayah sedang berusaha menghibur diri, Nak. Kita harus doakan Ayah agar baik-baik saja sampai kita bertemu dengannya yah? Putri sayang dengan Ayah kan?"
Ia tersenyum bangga saat melihat anggukan kepala Putri. "Putri sayang banget sama Ayah, Mah. Tapi..."
Dalam hati Ruth pun ingin berteriak menangis memanggil nama pria yang kini telah meninggalkannya sendiri.
"Dav! mengapa kau tega? Mengapa kau tega pada kami? Dav, aku lelah dengan semua yang terjadi antara kita. Kali ini biarkan aku melupakanmu. Pria yang sangat aku cintai, biarkan kali ini aku hidup tenang dengan semua masa depan yang terjadi tanpa ada sakit di hati ini lagi. Biarkan aku agar bisa melupakan kenangan kita semua." batin Ruth terasa pasrah saat itu juga.
Bagaimana pun ia hanyalah wanita biasa, rasa lelah pasti ada di dalam dirinya.
Keduanya duduk bersampingan saling menyandarkan tubuh mereka. Suasana kembali hening. Putri menikmati suasana sore itu dengan sangat tenang. Percayalah ini adalah pertama kalinya ia bermain di tempat yang menyenangkan.
Meski sikapnya tidak seperti bocah pada umumnya yang memilih untuk berlari kesana kemari. Ia hanya duduk menemani sang mamah duduk di kursi taman.
__ADS_1
Sementara di depan sana ramainya suara para anak kecil yang berlarian kesana kemari dengan orang tua maupun pengasuhnya.
"Anak Mamah dewasa sekali sih, Nak?" Ruth terkekeh gemas setelah mencermati beberapa waktu wajah sang anak dari arahnya.
Wajah Putri yang diam sungguh menampakkan kedua pipi gemasnya yang semakin terlihat menggembul itu.
"Ada apa, Mah?" tanya Putri dengan wajah polosnya.
"Kau tidak ingin bermain dengan mereka?" tanya Ruth sembari menunjuk ke arah depan yang memperlihatkan banyak anak kecil tengah bermain bersama meski mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
"Enggak, Mamah. Putri kan mau nemanin Mamah. Putri mau jagain Mamah pokoknya.
Sontak saja penuturan bocah kecil itu membuat Ruth sangat terharu. Ia meraih tubuh mungil yang bersandar padanya lalu memeluknya dan mencium pucuk kepala gadis itu.
"Terimakasih yah, Sayang. Kau sangat dewasa sekali di usiamu yang saat ini, Nak. Mamah begitu mencintaimu. I love you..."
Putri tersenyum dan menjawab. "I love you too, Mamah."
"Coba aja ada Ayah di sini...hum pasti Putri bahagia sekali Ya Allah." batin Putri memanyunkan bibirnya lima senti karena sedih yang tak bisa dia ungkapkan pada sang mamah.
Suasana sore yang begitu menghangatkan hingga tanpa terasa, waktu sudah semakin mulai gelap. Keduanya pun memutuskan untuk kembali ke rumah karena jarak taman dan rumah yang cukup memakan waktu terlebih mereka berdua hanya berjalan kaki.
__ADS_1