Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 98. Kelemahan Dava


__ADS_3

Dava yang masih terduduk lemas, kini terpaksa harus berjalan gontai kembali ke ruangan rawat sang istri. Ia membuka pintu dengan hati-hati, dan benar saja. Di dalam sana, Ruth sudah terlelap dengan nyenyang karena pengaruh obat yang baru saja di berikan sang dokter.


Mata hitam itu menatap wajah ayu yang terlelap hingga berjatuhan air matanya. Dava sungguh tak kuasa jika harus meninggalkan wanita tercintanya ini meski dalam beberapa menit saja.


Terlebih, ia harus meninggalkannya dengan Sendi. Namun, keadaan benar-benar mendesaknya harus bisa melakukan hal itu.


"Maafkan aku, Sayang. Aku akan segera kembali..." gumamnya sembari mencium lama kening dingin itu.


Dava menahan tangis hingga bibirnya bergetar sangat hebat kali ini.


Ruth yang sangat nyenyak tidak menyadari kehadiran suaminya saat ini. Dan tidak melihat kepergian Dava dari ruangannya.


***


Pesawat yang baru saja terdengar mendarat, mengantarkan sosok Dava Sandronata ke arah bandara. Tangannya menggeret koper miliknya sendiri dengan langkah kaki yang begitu berat. Pandangannya yang sendu terus tertuju pada arah depan.


Hatinya rapuh kali ini. Tidak ada senyuman hangat yang selalu menghiasi wajah tampan itu lagi.


"Mungkinkah ini adalah takdir indahku yang terakhir, Tuhan? Mengapa harus seperti ini jalan takdir yang kau gariskan untukku? Aku tidak pernah meminta kebahagiaan darimu. Tetapi mengapa kau berikan kebahagiaan padaku dan berakhir dengan kehancuran seperti ini? Mengapa?!"  Dava seolah menjerit penuh amarah menyadari apa yang terjadi padanya saat ini.


"Selamat datang kembali, Tuan Dava." sapa Rafael yang memang langsung menjemput kedatangan kliennya kali ini.

__ADS_1


Mereka memang terlihat sangat akrab. Terlebih saat Rafael menepuk hangat pundah Dava seakan memberikan bantuan kekuatan untuk sahabatnya itu.


Dava sama sekali tidak menjawab sapaan itu. Ia melangkah mendahului sosok polisi tersebut. Begitu pun dengan Rafael yang langsung menyusulnya.


Mobil offroad milik Rafael langsung menjadi tempat utama Dava menaruh barang dan tubuhnya yang lelah. Wajahnya terlihat memerah.


Di dalam mobil, Rafael sudah ikut masuk bersama dengan Dava. "Dav, semua sudah berhasil kami selidiki. Tentang dua orang tua yang kami rawat di rumah sakit saat ini sudah sampai di telinga pengacara saat persidangan kemarin. Aku mencoba menghubungimu, namun selalu saja tidak bisa terhubung." tuturnya menjelaskan dengan nada bicara yang sangat hati-hati.


Dava masih diam mendengarnya. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun bahkan matanya tak berani menatap wajah pria di sampingnya saat ini.


Mobil offroad itu mulai melaju meninggalkan bandara membawa dua pria tampan ke sebuah rumah sakit.


Kini ponsel dalam saku celana pria tampan itu terdengar bedering, sebuah panggilan masuk.


'Sendi' nama pemanggil yang menghubunginya kali ini. Dava menggesek layar ponsel miliknya dan menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya.


"Ada apa?" tanyanya dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.


"Aku sudah berada di rumah sakit. Ruth masih tertidur. Bagaimana bisa kau meninggalkan Ruth sendirian sebelum menungguku samp..."


"Halo...Halo!" teriak Sendi yang tanpa sadar saat menyadari panggilan sudah diputus sepihak oleh Dava tanpa mendengarkan lebih lanjut pertanyaannya.

__ADS_1


"Dasar tidak becus jadi suami. Tunggu saja kau, Dava." umpat Sendi memaki di seberang sana.


Di sini, Dava kembali mendengarkan pembicaraan Rafael.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan informasi yang bersangkutan juga denganku?" tanyanya setelah memejamkan mata sejenak memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri.


Mendengar hal itu, Rafael juga ikut merasakan sakit yang luar biasa. Sebagai teman, ia mengetahui bagaimana cintanya Dava pada sang istri selama ini.


"Apa yang di lakukan oleh Deni, itu juga sama. Ayahmu melakukannya padamu, Dava. Mereka berdua sama-sama melakukan hal yang sama padamu dan juga Sendi. Bahkan tujuannya juga sama yaitu menjadikan kalian sebagai tenaga kerja di perusahaan mereka dan menikahkan kalian dengan anak mereka."


Duar!!


Dava terasa seperti tersambar petir setelah mendengarnya. Matanya tak kuasa untuk menahan tangis di depan orang lain. Ia menggeleng kan kepalanya mengetahui kebenaran yang sangat gila ini.


"Raf, jika ini sebuah kebenaran mengapa kau harus memberitahuku dan semua orang? Biarkan ini menjadi rahasia. Aku tidak sanggup untuk menghadapi ini semua, Raf. Aku mencintai istriku." tangisnya yang tanpa suara kini terlihat jelas di dalam mobil.


Rafael menunduk lemas, ia pun tidak habis pikir dengan jalan takdir dua pria yang sama-sama mencintai adik mereka sendiri.


"Bahkan istriku saat ini...sudah mengandung anakku, Raf. Aku tidak ingin ini semua berakhir menyakitkan."


"Ha-hamil, Dav?" Rafael semakin syok mendengar kabar bahagia yang baru ia dapatkan. Kepalanya terasa berputar-putar kali ini.

__ADS_1


__ADS_2