Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 28. Membesuk Suami


__ADS_3

Sungguh menyedihkan, tempat yang selalu terjamin kebersihan dan tempat yang begitu megah kini berubah. Seorang Dava harus bertahan dalam lingkungan yang tidak begitu nyaman untuk ia tinggali. Namun semua sudah terjadi, bagaimanapun kedudukannya, hukum tetaplah hukum yang harus di lewati segala prosesnya.


Tubuh yang sudah letih bekerja kini harus bertahan untuk menghadapi segala proses penyidikan oleh pihak kepolisian.


Sejak kemarin, dirinya bahkan belum juga membersihkan tubuhnya dan masih memakai pakaian yang sama.


"Aku membawakan makanan untukmu," Ruth menyodorkan rantangan nasi dengan beberapa macam lauk pauk yang sudah ia buka di meja besuk tersebut.


Entah kemana sikap acuh tak acuhnya kali ini. Yang terlihat jelas di kedua manik mata wanita itu hanya tatapan nanar. Ruth tak kuasa melihat sosok Dava yang selalu tampak energik kini tak bisa berbuat apa-apa di depannya.


Dava menatap rantangan yang terbuka satu persatu lalu meneguk salivahnya. Matanya beralih pada wajah yang tampak menahan kesedihan.


Wajah Ruth sudah menunduk enggan menatap sang suami. Netra cokelat yang selalu tajam berubah berkaca-kaca hingga penglihatannya mulai meremang karena genangan air mata.


"Aku tidak apa-apa, Ruth. Aku baik-baik saja." ucap Dava lembut selembut sentuhan genggamannya pada tangan sang istri yang memegang rantang lauk di depan mereka.


Hanya meja yang kini bertugas menjadi pembatas di antara keduanya.


Saat sentuhan lembut itu mampu ia rasakan, Ruth segera mengusap air mata yang baru saja lolos dengan lancangnya di pipi mulus wanita itu.


"Jaga dirimu baik-baik. Jangan keluar tanpa pengawalan dari mereka." Dava memang sudah menyiapkan semua pengawal pilihannya untuk menjaga sang istri dari bahaya di luaran sana sebelum ia masuk ke kantor polisi.


Sejak kejadian malam pernikahan yang hampir melenyapkan keperawanan sang istri, Dava langsung bergerak cepat tanpa Ruth tahu hal itu.


"Pengawalan dari mereka?" Ruth mengernyitkan alisnya menatap bingung. Apa maksud suaminya? mereka siapa yang di maksud Dava? begitu pikir Ruth kala menatap penuh tanya pada wajah tampan di depannya.


Satu malam tidak tidur di rumah membuat Ruth berpikir jika sang suami berbicara ngigau karena banyak pikiran. Bahkan terlihat jelas mata sang suami yang sudah mulai menghitam bak mata panda.


"Aku sudah menyiapkan beberapa penjaga yang terpercaya untuk melindungimu selama aku di sini. Jadi tetaplah di rumah selama aku di sini." terang Dava menatap penuh kehangatan pada sang istri.


Ruth tertegun mendengarnya. Matanya bergerak tak menentu menatap wajah sang suami. Tak pernah ia sangka jika Dava akan sepenuh itu bertanggung jawab atas dirinya. Sampai harus memberikan pengawalan ketat padanya.


 

__ADS_1


"Makanlah, aku yang memasak untukmu." pintah Ruth kemudian setelah genggaman tangan sang suami lepas dari punggung tangan mungil miliknya.


Dava tersenyum lalu berucap, "Terimakasih."


Selama pria itu makan, Ruth hanya diam memperhatikan setiap suapan di mulut sang suami. Rasanya sungguh tidak dapat di percaya pria sebaik Dava bisa melakukan tindakan kriminal seperti itu. Tetapi untuk bertanya, Ruth merasa itu bukanlah wewenangnya ikut campur.


Ia tidak ingin membuat Dava marah dan menjadikan suasana semakin kacau.


"Apa kau baik-baik saja?" Tiba-tiba pertanyaan itu refleks ia ucapkan begitu saja kala matanya masih menatap dalam pria yang sedang makan dengan lahap.


Dava menghentikan suapannya.


Matanya menatap dua mata sang istri.


"Kau tidak perlu memikirkan ini. Aku bisa menyelesaikan ini semua." sahut Dava kemudian melanjutkan lagi makannya.


"Bagaimana Putri?" Dava yang tengah makan teringat dengan sosok bocah yang selalu membuat lelahnya menghilang seketka.


Siapa yang tahu jika di rumah, Mbok Nan susah payah bersamanya menenangkan sang anak hingga demamnya begitu tinggi sejak kepergian sang paman dari rumah.


Sejenak Ruth menunduk. Ia sadar jika berbohong bukanlah bagian dari dirinya, namun jika ia jujur tentu saja Dava akan semakin terbebani di dalam sel.


"Waktu besuk telah selesai. Di mohon untuk tahanan segera kembali ke sel." Suara seorang petugas kepolisian terpaksa menghentikan aksi makan Dava yang masih terlihat menikmati masakan sang istri untuk pertama kalinya.


 


Ruth yang melihat jelas lahapnya makan sang suami merasa tidak tega. "Pak tolong-"


"Ruth, tidak apa-apa. Aku sudah kenyang. Pulanglah, sampaikan salamku dengan Putri dan juga Mbok."


Dava tersenyum sembari menutup rantangan makanan di depannya. "Katakan pada mereka, aku akan segera pulang."


Ruth terhenti kala ingin memohon pada petugas jaga untuk memberikan waktu sedikit lagi pada suaminya.

__ADS_1


"Ingat ucapanku. Jangan kemana-mana sampai aku kembali."


Entah mengapa setiap perhatian Dava selalu membuat Ruth tak bisa menahan rasa sesak di dadanya. Pria baik hati inilah yang sedang berjuang melindungi dirinya. Pria malaikat inilah yang tengah menderita seorang diri, namun apa yang ia lakukan? terus dan terus memperhatikan keluarga kecilnya tanpa penyesalan sedikit pun telah masuk ke dalam keluarga yang penuh dengan masalah.


Bahkan Dava terus tersenyum padanya seolah-olah tidak pernah terjadi apapun padanya. Meski yang sebenarnya, hatinyalah yang terasa hancur karena kecewa pada sang Ayah. Tapi, Ruth sama sekali tidak melihat ada kesedihan di wajah itu.


Ruth menguatkan hatinya untuk memberikan senyuman pada sang suami. "Aku pulang dulu. Jagalah diri baik-baik." Satu kecupan hangat mendarat seketika tangan mungil itu menarik tangan sang suami dan menunduk lalu mencium punggung tangan yang sedang bekerja keras menjaga keluarg kecil mereka.


Dava terkejut melihat perilaku sang istri. Ia memegang sejenak puncak kepala sang istri yang menunduk itu.


"Maafkan aku belum bisa melindungimu sesuai perjanjian. Tapi aku pastikan mereka akan bekerja dengan baik selama aku di sini, Ruth."


"Dava, jangan pikirkan kami. Aku bisa melakukan banyak hal di luar sana. Bumi tidak hanya kita isinya."


Kini keduanya pun terpisah di pintu ruangan besuk.


Ruth yang melangkah bersamaan dengan Dava berlawan arah kini berhenti. Ia menoleh kembali ke belakang.


Di lihatnya punggung tegak sang suami yang perlahan semakin menjauh itu. Tanpa sadar, tetesan air mata kembali jatuh di kedua pipi mulusnya.


"Aku akan menunggumu sampai kapan pun, Dava."  Ucapan yang terlepas begitu saja di dalam hatinya dengan penuh keyakinan.


***


Di tempat yang berbeda hari itu, terdengar suara tawa yang memekakkan telinga.


"Hahaha...bagus. Ini kesempatan emas untukku. Aku sudah yakin, Ruth. Pria itu bukan pria yang tepat untukmu." Sendi menatap puas berita yang terus menyebar sejak pagi di televisi.


Secepat kilat dirinya bergegas menuju parkiran dan melajukan mobil kesayangannya untuk menuju tempat yang akan mengantarkan dirinya pada sang pujaan hati.


Wajah yang tersenyum ceria terus menemani perjalanan yang cukup padat kala itu. Tak ada lagi kesedihan yang terlihat di wajahnya. Begitu juga dengan kemarahan, semua sirna sudah.


Saat ini adalah saat yang pas untuk memikirkan segala tak-tik merebut hati sang mantan. Bukan waktu untuk meluapkan emosi lagi tentunya.

__ADS_1


__ADS_2