
Di ruangan yang bernuansa putih, tatapan penuh harap yang perlahan-lahan tampak jelas terlihat tengah menahan kristal bening yang ingin jatuh.
"Selamat siang, Ibu. Mohon maaf saya ingin mengantarkan anda makan siang." sapa seorang wanita dengan seragam khas rumah sakit.
"Terimakasih, Suster." ucap Tarisya dengan suara bergetar menahan sedihnya.
"Bagaimana keadaan anda hari ini? Apa sudah lumayan enak? Nampaknya begitu yah Ibu? Anda sudah lebih nyaman duduk bersandar."
Keduanya tampak berbincang-bincang singkat. Tak lupa sang suster menampilkan senyuman ramahnya pada sang pasien.
"Saya sangat semangat untuk duduk hari ini, Sus. Katanya anak saya akan datang hari ini, Tapi..."Tarisya memandang kosong ke depan lalu berkata kembali. "Sejak pagi saya menunggu mereka, tak kunjung tiba sampai hari ini. Apa mereka menginginkan pertemuan juga sama seperti saya yang sangat menantikan pertemuan itu, Sus?" Tarisya menatap wajah ayu suster di depannya kini.
Tangan lembut itu bergerak mengusap punggung tangan yang sudah keriput. "Ibu, mungkin saat ini mereka sedang sibuk dengan kerjaan mereka. Terlebih yang saya dengar anda berada di ini karena sebuah kasus. Tentu akan banyak masalah yang harus keluarga Ibu hadapi di luar sana. Bersabarlah, Ibu. Saya yakin semua anak pasti akan sangat menanti pertemuannya dengan orangtua mereka."
Menganggukkan kepala lalu tersenyum dan mengusap sedikit air mata yang sudah jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. "Terimakasih yah, Suster. Suster benar, semoga mereka akan datang sebentar lagi. Terimakasih yah, Suster sekali lagi. Saya memang kurang bisa mengerti mereka karena kami sudah cukup lama terpisah."
Tarisya tampak memandang ke depan dengan gurat kesedihan yang mendalam. Pasalnya ia bukan sedih hanya karena waktu yang terlalu lama memisahkan mereka, melainkan bagaimana bentuk wajah anaknya saja ia sangat tidak tahu. Berpisah sejak usia dini tentu membuat Tarisya tidak bisa mengenali anak-anaknya.
"Yang kuat yah, Ibu. Kalau begitu saya pamit dulu. Semoga anak-anak Ibu segera tiba."
"Terimakasih, Suster."
Keduanya kini berpisah setelah suster itu berjalan menuju pintu ruangan rawat Tarisya.
__ADS_1
"Permisi, Pak. Saya lanjut ke tempat lain dulu." Sang suster berpamitan kepada dua polisi yang berjaga di pintu ruangan Tarisya.
"Silahkan." sahut polisi itu tanpa berbasa-basi lagi.
Di sisi yang berbeda, kini Dava baru saja sampai mengantar sang istri.
"Sayang, aku langsung ke kantor lagi. Istirahatlah segera. Okey? Sebentar lagi Putri akan pulang." Dava mengusap rambut panjang sang istri yang tergerai lembut.
Dava berbalik badan usai mengantar sang istri di depan pintu rumahnya. Namun, lagi-lagi langkah itu berhenti saat merasakan genggaman erat di lengannya.
"Dav..." panggil sang istri yang menatapnya dalam.
Dava berbalik menatapnya. "Kenapa, Sayang? Apa ada yang tertinggal?" ucap Dava.
Ruth pun mengangguk cepat. Melihat anggukan itu, Dava heran dan mengerutkan keningnya.
Bibirnya semakin maju kedepan lima senti. "Apa? Ayo katakan, Ruth. Ini sudah sangat terlambat jam kerjanya. Tidak enak dengan karyawan lainnya." Dava melirik jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan hampir memasuki setengah dua siang.
"Ini..." Ruth menujuk bibir ranum yang sudah semakin tampak seperti gunung semeru.
"Bibir? Mau di cium?" Dava bertanya dan tanpa menunggu jawaban lagi ia terkekeh dan langsung mengecupnya singkat.
"Sudah, Sayang. Aku harus pergi dulu. Bye." Ia mengecup bibir, kedua mata, lalu naik kembali pada keningnya. Dan segera pergi dari rumah itu usai memastikan sang istri menutup pintu rumah dengan benar.
__ADS_1
***
Tok Tok Tok
Tangan Dava mengetuk pintu ruangan rawat yang menjadi tempat sang bunda di rawat saat ini. Ia menemui sang bunda setelah perjalanan menuju kantor dan kembali melaju ke arah rumah sakit.
"Jeff, akhirnya kamu datang, Nak. Bunda sudah menunggu sejak pagi tadi..." Tarisya terlihat sangat bahagia saat hampir saja kekecewaan yang ia dapatkan.
Dava berjalan mendekat pada sang bunda hingga akhirnya ia berhenti kala pria yang bersamanya menghentikan langkah itu.
"Dav," panggil Sendi lirih.
Namun Dava menatapnya dan kembali menatap ke arah wanita yang duduk bersandar di depannya.
Ia tidak menggubris panggilan Sendi.
"Bunda, kami datang..." Dava menarik tangan Sendi mendekat pada sang Bunda.
Sendi tampak tercengang mendengar kata 'kami'. "Kami? Apa maksud Dava?" batin Sendi bertanya-tanya sembari menatap punggung tubuh pria yang berjalan lebih depan darinya.
Tarisya memandangi wajah dua pria di depannya secara bergantian. Ia tersenyum dengan wajah yang hampir tidak percaya mendengar penuturan sang anak.
"Jeff, Berson...itu kalian, Nak?" Tarisya mengangkat kedua tangannya merentang dengan lebar siap memeluk dua anak yang sangat tampan saat ini.
__ADS_1
Hatinya terasa berbunga-bunga mendapatkan hal yang sangat ia mimpikan selama ini. Anak-anaknya sudah ada di depan mata.
"Anakku..." ia menangis tersedu-sedu saat dua tubuh kekar itu masuk ke dalam pelukannya.