Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 67. Hari Putri Daftar Sekolah


__ADS_3

Di atas meja makan, lengkap dengan semua hidangan lezat pagi itu dua mata tajam saling bertatapan. Dava menatap Sendi dengan penuh peringatan, sementara Sendi menatapnya dengan penuh ancaman.


Ruth menatap keduanya dengan pandangan bingung. "Kak, ada apa?" tanya Ruth yang menahan tangannya untuk memberikan lauk itu pada Dava.


"Aku mau yang kau pegang, Ruth." ucap Sendi seolah memberikan isyarat jika ia akan merebut apa yang di berikan Ruth untuknya.


Ruth mengernyit. "Kak, iya aku akan mengambilkannya. Setelah ini yah?" Ruth menggerakkan tangannya dan hampis sendokan lauk itu terletak di atas piring Dava, Sendi langsung berdiri dan merebutnya dari tangan Ruth.


"Ini untukku, Ruth. Kau bisa mengambilkan untuk suamimu berikutnya setelah aku." tutur Sendi enggan mengalah.


Dan Ruth hanya menghela napas kasar, lalu acuh. "Kakak ini selalu saja ingin bertengkar dengan Dava. Kalian seperti anak kecil saja." Ruth mengambilkan untuk sang suami setelah Sendi mengembalikan sendoknya.


Dava memilih bungkam. Seperti biasa meski sangat kesal namun tetap raut wajah tenang yang ia tampakkan.


Di sudut yang lain, Putri menggelembungkan pipi cubynya. Matanya menatap kesal pada Sendi yang duduk di sampingnya.


Dava dan Ruth melihat hal itu. "Putri, ada apa sayang?" Ruth dan Dava serentak bertanya dan hal itu sukses membuat Sendi menoleh ke arah mereka.

__ADS_1


Putri yang melihat ekspresi Sendi tampak menaikkan sebelah alisnya. "Paman ganteng sama Mamah balengan ngomongnya. Belalti kalian jodoh hihihi." celotehnya sembari membungkam mulutnya yang penuh agar tidak mengeluarkan makanan itu.


"Om, biasa aja dong liatnya." ketus Putri yang melihat Sendi melotot tak percaya kepadanya.


"Siapa suruh bikin Paman ganteng cembulu...Putli yang akan balas ke Om pokoknya hem." Putri tersenyum menyeringai menatap Sendi.


Sendi yang menyadari tatapan licik itu sampai membulatkan matanya yang habis pikir. "Astaga apa-apaan anak ini? Jelmaan setan bukan sih? Tingkahnya sudah seperti orang tua benar." batin Sendi tak percaya jika Putri begitu cerdik membawa isi pikirannya.


Keduanya saling menatap penuh arti. "Makanya jangan lemehin Putli yah Om? Sekalang Putli yang akan jadi benteng buat Paman ganteng. Nggak akan Putli bialin Mamah nangis lagi gala-gala Om jahat. Huh."


Ruth, Dava, Mbok Nan saling melempat padangan melihat tatapan yang saling beradu antara Sendi dan Putri.


"Ehem..." deheman Ruth hanya bagai angin lewat untuk keduanya.


"Ya ampun mereka ini benar-benar tidak dengar atau hanya berpura-pura sih? Putri, Kak Berson." Panggil Ruth pada akhirnya membuat keduanya tersentak kaget dan menoleh.


"Iya Mamah,"

__ADS_1


"Iya, Ruth."


Keduanya langsung menjawab. Ruth hanya tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Habiskan sarapannya."


"Oh iya Putri, hari ini biar Paman yang antar untuk daftar sekolah yah?" sahut Dava pada akhirnya setelah lama ia bungkam.


Putri yang mendengarnya langsung melebarkan senyumannya hingga tampak beberapa giginya keropos.


"Yeeee Putli di antal Paman ke sekolah? Mamah juga ikut yah?" ucapnya kegirangan namun tak sedikit pun ia menganggap keberadaan Sendi yang duduk di sebelahnya.


"Iya Sayang, kan Mamah, Paman, sama Om Sendi antar Putri. Nanti setelah itu kami langsung pergi ke kantor bersama." terang Ruth membuat ekspresi bahagia Putri langsung pudar.


"Kok Om juga ikut, Mah? Kan Om bukan kelja sama Mamah sama Paman." ujarnya tidak terima lagi-lagi Pamannya harus bersaing dengan Om Sendi tanpa perlindungannya.


"Sekarang Om Sendi juga kerja satu kantor sama Mamah, Sayang. Kan Om Sendi kakaknya Mamah." Ruth dengan sabarnya terus menjelaskan.


"Hem." Putri bersedekap.

__ADS_1


"Kalo gitu, Putri juga ikut ke kantor deh. Daftar sekolahnya besok-besok aja. Kasian kan Paman kalo Om nanti jahatin Paman lagi nggak ada Putli yang bantuin." Semua tertawa di meja makan kecuali Sendi yang merasa itu adalah sebuah ancaman untuknya.


__ADS_2