
Siang itu suasana yang seharusnya menjadi hangat saat menanti kedatangan sepasang pengantin yang baru berbulan madu, berubah menjadi sunyi senyap.
Semua mata tertuju pada sosok Tuan William. Matanya penuh dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan lagi.
"Mereka bukanlah investor yang sesungguhnya kita butuhkan, Jeff. Ayah tahu kedok apa yang mereka gunakan saat ini..." Dava terdiam masih berusaha mendengarkan apa kata-kata yang selanjutnya sang ayah katakan.
"Selama perusahaan kita tenggelam tanpa jejak, mereka tidak tahu menahu. Dan sekarang perusahaan kita kembali muncul, mereka berbondong-bondong datang ingin meraup keuntungan dari perusahaan kita. Heh...Ayah tidak akan membiarkan hal itu. Biarkan perusahaan kita dengan rekan kita yang ada saat ini. Jangan di tambah lagi. Jika ada yang baru beritahu Ayah lebih dulu, atau kalian bisa menyelidiki perusahaan itu terlebih dahulu sebelum menerimanya."
Patuh, Dava segera mengangguk dan menjawabnya. "Baik, Ayah."
"Assalamualaiku..." suara serentak seorang pria dan wanita yang berwajah begitu bahagia terdengar di depan pintu utama.
Sontak semua keluarga yang sudah menunggu pun menatap ke ara sumber suara tersebut. Lengkap dengan senyuman masing-masing di wajah mereka.
Tak ketinggalan ketiga pelayan yang sudah siap mengambil alih barang bawaan mereka.
"Wah akhirnya kalian sampai juga, Berson. Dina." tutur Tarisya yang menyambut hangat keduanya di susul dengan lainnya saling berpelukan bahagia.
Usai saling berpelukan, kini saatnya Sendi dan sang istri berjalan menghampiri sang ayah yang masih berada di kursi rodanya.
"Ayah...apa kabar?" tanya Sendi yang sudah menepuk pundak sang Ayah sembari memeluknya.
"Ayah sangat baik. Kalian membuat rumah ini terasa aneh." senyuman di wajah tua itu terbalaskan dengan senyuman Sendi dan Dina padanya.
"Ayah, kami merindukan kalian." Kini Dina yang berganti memeluk sang mertua erat.
Usai sapaan hangat keluarga besar Nicolas, kini akhirnya mereka bergerak menuju meja makan. Semua sudah berkumpul dan duduk di kursi masing-masing. Piring yang tertelungkup di meja makan di balik perlahan dan mulai terisi dengan nasi dan segala macam lauk pauk yang lezat.
__ADS_1
Di sela makan, Sendi menatap Dava. "Bagaimana keadaan perusahaan? Apa berjalan dengan baik?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Sebagai pria yang sudah terbiasa bekerja keras, membuat Sendi menjadi tidak sabar untuk segera bekerja ke kantor. Selama satu minggu ini menjadi pengangguran membuatnya merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
"Semuanya sangat baik, dan bulan depan kemungkinan kita akan mulai mencari lokasi untuk perusahaan baru." tutur Dava yang sudah membicarakan hal ini sebelumnya pada sang ayah.
Sendi yang mendengarnya seketika menghentikan makannya. "Perusahaan baru? tanyanya dengan wajah terkejut.
"Iya Berson. Perusahaan lama kita Ayah rasa tidak akan cukup jika menampung karyawan perusahaan yang semakin banyak. Maka dari itu Ayah meminta kalian untuk mencari lokasi yang strategis. Usahakan di tengah kota, karena itu akan lebih memudahkan segala fasilitasnya." terang Tuan William.
Tentu saja Sendi yang mendengarkan penjelasan sang ayah sungguh mengakui benar adanya. Jika perusahaan mereka sudah berkembang begitu pesat, hingga satu persatu tenaga kerja mulai bertambah setiap harinya.
"Ayah, apa Shandy juga di butuhkan di perusahaan? Jika iya, mungkin Shandy akan ikut bergabung." tuturnya mencoba mengusulkan di sela-sela makannya.
"Tidak. Ayah ingin kau mengurus anak dan suamimu, Nak. Lihat Jeff sudah bekerja cukup keras, kau tidak perlu lagi membantunya. Bantulah di rumah saja. Layani suamimu dan anak-anakmu." titah sang ayah tegas.
"Benar kata Ayah. Ruth kau berdiamlah di rumah. Dina juga akan sama sepertimu, kalian bisa pergi bermain bersama jika bosan. Kami yang akan bekerja di perusahaan. Dan besok aku akan mulai membantumu, Kak." tutur Sendi menatap wajah Ruth setelah itu beralih pada Dava.
"Itu terdengar bagus." ucap Dava lalu melanjutkan makannya.
Semua tampak menikmati makan siang mereka dengan lahap. Pertanyaan kala sepasang suami istri yang baru saja pulang berbulan madu tak ada yang melontarkan. Pasalnya mereka semua tahu bagaimana keadaan rahim Dina.
Sampai kapan pun wanita itu tidak akan bisa mengandung anak dari sang suami.
"Apa kau tidak lelah, Berson? Kalian bahkan baru saja melewati perjalanan panjang. Istirahatlah, Nak. Mungkin besok lusa kau bisa membantu Jeff di perusahaan. Jangan terlalu memaksakan diri." tutur Tarisya dengan penuh perhatian.
"Iya, Bunda benar. Kau tidak perlu terlalu memaksakan diri seperti itu." ucap Dava ikut menimpali.
__ADS_1
"Tidak, tubuhku terasa sakit semua tidak bekerja. Jika liburku bertambah sehari, bisa-bisa tulangku akan jadi keropos semua." sahut Sendi yang melawak receh.
"Ayah pikir karena terlalu bekerja keras saat bulan madu, tubuhmu menjadi sakit semua hehehe." goda sang Ayah yang sudah terkekeh di sana.
Sendi melirik ke arah sang istri di samping yang sudah menundukkan kepala karena merasa malu yang luar biasa. Tentu saja ini adalah momen termanis yang ia rasakan setelah sekian lama hubungannya dengan Sendi benar-benar menyedihkan.
Akhirnya berkat tiket honeymoon gratis itu, hubungan mereka benar sangat harmonis.
"Ayah, jangan menggoda kami." ucap Sendi menegur sang ayah yang masih mendengarkan suara tawanya di sana.
"Kak, terimakasih yah. Tiket bulan madunya. Kalian benar-benar baik." Sendi beralih menatap Dava dan Ruth yang tengah menikmati makan mereka.
"Em sama-sama. Kami senang melihat hubungan kalian juga membaik. Semoga selamanya kalian tetap seperti ini tanpa ada jarak lagi di antara kalian." ucap Dava yang seakan memiliki firasat sedari dulu tentang hubungan Sendi dan Dina.
Jelas saja ia memiliki firasat, pasalnya kedua pasangan itu tidak mungkin bisa harmonis selama salah satu dari mereka menaruh hati pada wanita lain. Wanita yang memiliki status sebagai adik kandungnya dan istri dari pria lain saa itu.
Beberapa saat berlalu, kini mereka akhirnya menyudahi makan siangnya dan menuju ke ruang keluarga untuk berkumpul kembali.
"Semuanya, kami pamit untuk membersihkan tubuh dulu." ucap Sendi berpamitan.
"Iya, pergilah Nak. Kalian pasti gerah sekali rasanya." sahut sang bunda yang segera merespon.
Kepergian Sendi dan Dina membuat fokus mereka teralihkan pada kedua tangan yang saling bergandengan menaiki anak tangga itu.
Senyuman di wajah para keluarga terasa begitu tentram dan damai melihat kedekatan anak mereka saat ini. Sungguh pemandangan yang sangat langka.
"Akhirnya mereka bisa dekat juga, yah Dav?" tutur Ruth menatap dengan wajah bahagia.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Untung saja kita memberikan tiket itu pada mereka. Ternyata ada sesuatu yang berarti dengan masa nifasmu ini." Dava terkekeh sembari berbisik pada sang istri yang kala itu masih menatap ke arah tangga.