
"Selamat pagi, Tuan... Selamat pagi, Nona."
Suara sapaan untuk Ruth dan Dava terus terdengar di setiap kali mereka bertemu dengan karyawan yang masih belum lama bergabung dengannya.
"Dav," panggil Ruth di saat ketiganya melangkah hendak memasuki lift.
Dava menoleh ke samping istrinya yang ia genggam tangannya. "Ada apa?" tanya Dava tak lupa tatapan mata yang begitu hangat selalu ia berikan untuk sang istri.
"Apa kau yakin mereka semua bisa berkerja sama dengan kita tanpa ada yang berniat..."
"Sssst. Aku sudah memastikan semuanya tentang mereka, Sayang. Jangan khawatir, jika sampai ada yang berani bermain dengan perusahaan ayah mu, ku pastikan akan lenyap." Dava menatap tajam pada sosok Sendi yang terus diam sedari tadi.
Ruth hanya menghela napas kasar melihat dua pria yang bersamanya begitu sulit untuk akur. Yah, semua tentu ia maklumi, karena hubungan cinta segitiga mereka di awal membuat keduanya tidak bisa lengah begitu saja tentunya.
Hari ini adalah hari pertama Sendi mulai bergabung dengan keduanya di perusahaan yang terbilang masih awal untuk kembali berkembang. Semua butuh kerja keras mereka untuk bisa mengembangkan dengan baik.
Bertahun-tahun nama perusahaan telah lenyap di mata para pembisnis, sehingga tidak mudah untuk mereka mendapatkan nama baik di depan para kolega. Berhubung begitu banyanya perusahaan yang di bawah pimpinan penerus yang masih baru-baru, tentu tidak semudah menawarkan produk yang sudah lama dan terpercaya.
Kini mereka memulai dengan memberikan tempat kerja untuk Sendi.
"Itu ruanganmu. Saya sudah persiapkan khusus." tunjuk Dava pada salah satu ruangan yang masih kosong.
Ruth menoleh bersamaan dengan Sendi. Dari luar terlihat ruangan yang bersih namun sudah lengkap untuk segala fasilitas kerja dari kursi, meja, dan beberapa perlengkapan elektronik lainnya.
"Apa aku harus kerja di kantor ini?" tanya Sendi yang mempertimbangkan kerjanya di luar negeri.
Pikirannya saat ini benar-benar labil. Hatinya memberontak ingin menetap di Indonesia bersama sang mantan. Namun, hati nuraninya memberontak ingin membawanya pergi jauh dari Ruth. Semua karena rasa bersalahnya pada wanita itu.
__ADS_1
"Kak..." lirih Ruth tampak memuat wajahnya begitu memelas.
Ruth berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya di lengan Sendi. Mata cokelat itu menatap begitu dalam.
"Ini satu-satunya amanah yang tetap harus kita jaga. Ayah dan Bunda pasti bahagia melihat kita bersatu, Kak. Ayolah...aku tidak akan sanggung jika hanya bersama Dava menjalankan ini semua."
"Astaga...apa harus seperti itu, Ruth?" batin Dava memijat keningnya melihat kedekatan sang istri bersama pria di depannya.
Darah cemburunya mendidih seketika. "Ehem...Sayang, segeralah bekerja. Sendi, jika kau menyadari posisimu sebagai Kakak, tidak seharusnya istriku harus membujukmu dulu untuk bekerja di perusahaan ini." ketus Dava tanpa basa basi langsung menarik kasar tangan Ruth.
"Dav, Dav! Pelan-pelan." teriak Ruth mengikuti langkah sang suami yang sangat cepat.
Kini Sendi hanya seorang diri berdiri di depan ruangan kerja barunya. Namun, matanya masih menatap pergerakan suami istri yang di dalam ruangan terlihat tengah beradu kedekatan.
Hal itu di lakukan demi menghindari hal-hal yang tidak di inginkan terjadi di kantor tersebut.
"Ruth, berhenti bersikap berlebihan seperti itu, Sayang. Kau tahu aku paling tidak ikhlas melihatmu dekat dengan pria lain." ucap Dava yang terdengar tegas namun tetap menahan amarahnya agar tidak kasar.
Ruth menatapnya dengan posisi mepet di meja kerjanya, sedangkan ulah sang suami sudah mengurungnya dengan kedua tangan yang berpegang kuat di sisi meja kerja itu.
"Dav, i-ya...sudah cukup. Kita bicara dengan baik-baik. Jangan seperti ini," Ruth merasa risih saat karyawan maupun Sendi melihat adegan mereka di dalam ruangan dengan jelas.
"Dava...ini contoh yang tidak baik untuk pekerja di sini." Ruth kembali ingin mendorong tubuh sang suami.
"Dav...aku mohon emp-"
__ADS_1
Seolah tuli, Dava bahkan menyesap bibir berwarna pink itu hingga Ruth tak bisa melakukan apa-apa. Tangannya terus memukul dada bidang sang suami.
Namun, Dava masih belum ingin mengakhiri aksinya itu. Matanya beralih menatap pria yang berdiri mematung di luar sana sedari tadi.
Senyuman penuh kemenangan terbit di wajah tampan Dava. Ia sangat suka hal ini. Wajah Sendi yang murka benar-benar terlihat menggemaskan baginya.
"Astaga, aku benar-benar tidak mengerti pikiranmu, Dav." Ruth mengoceh setelah berhasil lepas dari serangan panas suaminya.
"Itu sogokan untukku agar aku tidak marah. Berikutnya, jika hal itu terjadi lagi bersiaplah untuk memberikan sogokan yang lebih." Dava berjalan acuh dengan senyuman yang mengembang di wajahnya menuju meja kerja miliknya.
Ia tak perduli dengan sang istri yang tercengang syok mendengar ucapan tanpa rasa bersalah sang suami.
"Benar-benar ketularan Putri dia." gerutu Ruth menghempaskan tubuhnya di kursi kerja miliknya.
Sendi yang tengah mempelajari beberapa berkas di atas meja kerja miliknya begitu acuh dengan istri yang saat ini tengah mengalami ketegangan di rumah sakit.
Saat malam, ia di temukan oleh sang Ibu di parkiran sudah tak sadarkan diri. Beruntung Wuri meminta kemanan di rumahnya untuk melacak sang anak.
Tak bisa ia pungkiri, sebagai Ibu yang sudah lama bersama dengan Sendi tentu rasa cintanya jauh lebih besar pada sang anak meski bukan darahnya. Sementara sikap Dina yang selalu acuh padanya dan menurut dengan sang ayah, membuat Wuri merasa jika hubungan mereka tidak begitu terasa.
Namun, kecemasan tetaplah kecemasan. Bagaimana pun Dina adalah darah daginya. Anak yang ia kandung selama sembilan bulan dan ia lahirkan kedunia dengan perjuangan yang keras.
"Hiks hiks hiks...Dokter, tolong selamatkan anak dan cucu saya, Dokter. Saya mohon." pintahnya dengan menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Ibu, tolong tenanglah. Kami sedang berusaha. Sekarang biarkan saya menangani pasien dulu. Saat ini tekanan darahnya sedang tinggi. Kami kesulitan untuk melakukan tindakan lanjutan, Ibu." terang sang Dokter yang merasa cemas melihat keadaan pasiennya saat ini.
"Dok, keadaan pasien memburuk!" teriak salah satu suster yang berlari menghampiri Dokter yang ingin masuk namun terus di cegah oleh Wuri
__ADS_1