
Semua yang bersedih kini kembali berusaha kuat. Mereka melakukan segala kesibukan demi melupakan semua yang baru saja terjadi.
"Ayah, Shandy dan Putri mengapa belum kembali yah?" Tarisya menatap cemas ke arah pintu rumahnya.
Hari sudah semakin gelap, namun kehadiran sang anak dan cucu masih belum terlihat sampai saat ini.
"Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai, Sya." jawab Tuan Wilson berusaha menenangkan sang istri.
"Assalamualaikum..." tak lama kemudian terdengarlah suara bocah dan juga wanita dewasa yang baru saja sampai di ambang pintu rumah itu.
"Waalaikum salam..." tutur Tarisya dan sang suami.
Senyuman di wajah Ruth dan juga Putri tak pernah surut. Mereka mengembangkan lebih lebar lagi senyuman kala melihat dua orangtua yang menyambut kedatangan mereka.
"Akhirnya kau pulang juga, Sayang. Masuklah sudah hampir malam, tidak baik untuk usia kehamilanmu, Nak." Tarisya menunjukkan perhatiannya dengan sangat tulus.
Ruth tersenyum dan menjawab seolah ia baik-baik saja. "Baik, Bunda. Kami masuk dulu. Ayah..." ujarnya sembari berpamitan dengan sang ayah dan bundanya.
Ruth berjanji mulai hari ini, dirinya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di tangisi lagi. Kepergian Dava seakan sudah membawa semua luka di hatinya. Bukankah perpisahan yang ia inginkan selama ini. Berpisah dari tempat tinggal satu atap.
"Segeralah bawa Mamah kembali, Nak. Sebentar lagi kita akan siap-siap makan malam." tutur Tarisya dengan suara lemahnya pada Putri yang hendak melangkah menyusul sang mamah yang lebih dulu memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Iya Nenek." Putri tersenyum dan menjawab dengan patuh.
Tak berselang lama, akhirnya dua wanita yang baru saja pergi dari rumah itu siang tadi kini sudah kembali datang.
"Assalamualaikum..." ucapnya memberi salam ketika sepasang suami istri nampak tengah berada di dalam rumah.
"Walaikum salam...Eh Sarah? Wuri? Mari silahkan masuk." Sambutan hangat di dapatkan oleh keduanya.
Tampak jelas di wajah mereka begitu besar rada cemas karena kepergian sosok Dava.
"Apa semuanya benar? Apa yang membuat Dava pergi?" Sarah bertanya seakan tidak yakin dengan yang di dengarnya barusan.
Semua yang mendengar pun begitu sedih.
"Semuanya sudah terjadi, Ayah. Ini bukan kesalahan siapa...tapi Dava hanya ingin melupakan masalalunya. Bunda yakin, itu pokok permasalahannya." sahut Tarisya dengan yakin.
"Bunda, Ayah...Ibu." Sendi yang baru saja tiba bersama dengan Dina pun menyapa semua yang ada di rumah itu.
"Bereson, bagaimana? Kalian tidak menemukannya?" Tarisya begitu antusias melihat kedatangan Sendi bersama sang istri.
Sendi menggeleng pelan, beberapa tempat sudah ia datangi, namun masih juga tidak menemukan keberadaan Dava.
__ADS_1
Semuanya yang tengah berbincang di rumah itu tak menyadari jika di dapur sore ini ada tiga wanita yang berbeda masa tengah asyik dengan aktifitas memasaknya.
"Loh sayang, mau di apakan wortelnya?" tanya Ruth yang melihat tangan kecil milik Putri memotong absurd sayuran berwarna orange itu.
"Ini mah, Putri mau bikin bintang yang kayak di youtube gitu...tapi kok susah yah?" celetuknya penuh rasa penasaran.
Mbok Nan yang mendengarnya hanya bisa terkekeh menggelengkan kepalanya.
"Hem...pasti ada saja ulahnya." lirihnya gemas.
Dengan sabarnya Ruth tersenyum lalu mengambil alih sayuran dari tangan sang anak.
"Nih buatnya seperti ini. Jika sudah di bentuk tinggal potong tipis-tipis sudah jadi kan, Sayang?" Melihat hasil karya sang mamah, Putri bertepuk tangan ceria.
"Ye...kita berhasil, Mah. Terimakasih, Mamah." bocah kecil itu memeluk kegirangan sang mamah.
Mereka kembali dengan kegiatan memasak lagi.
Sampai waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam, segala hidangan sederhana namun sangat menggiurkan mulai tersusun di meja makan.
Keluarga yang tengah duduk di ruang keluarga sampai terkejut saat melihat sosok wanita membawa dua mangkuk lauk di tangannya lalu menata di meja makan. Ruth sangat baik-baik saja saat ini. Tentu saja hal itu membuat semua menatap tak percaya pada sosok Ruth di depan sana.
__ADS_1