
Di sini Ruth yang termenung sendiri di dalam kamarnya merasa sangat bosan. Rumah yang terasa begitu sunyi saat sang anak dan suaminya sedang beraktifitas di luar rumah.
Mondar mandir ia melangkah tanpa bisa berdiam.
"Assalamualaiku," seru suara bocah yang tentu saja ia tahu siapa pemilik suara ceria tersebut.
Dengan langkah cepat Ruth berjalan menuju pintu rumahnya. "Putri, akhirnya mereka pulang juga." Ruth tersenyum sebelum tangannya meraih pintu untuk di buka.
Di luar, Putri sudah menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya.
Ceklek. Suara pintu terbuka dengan sambutan wajah cantik milik sang Ibu. Putri tersenyum lebar.
"Mamah," panggilnya dengan menampakkan giginya yang tak beraturan itu.
"Putri, akhirnya kamu pulang, Nak. Mamah kesepian sekali." Ruth memeluk tubuh anaknya dan mencium kening sang bocah.
"Mah, Putri ada sesuatu untuk Mamah." Ruth mengernyit kala mendengar ucapan sang anak.
Ia tersenyum lucu. "Apa, Sayang? Kamu ini ada-ada saja..." ucapnya lalu menoleh pada sosok Mbok Nan yang juga terkekeh melihatnya.
"Ini, selamat hari Ibu untuk Mamah. Putli sayang sekali sama Mamah." Di peluknya tubuh lemas itu dengan erat.
__ADS_1
Tepat pada tanggal 22 Desember, yang merupakan hari Ibu. Dimana hari ini adalah hari peringatan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya. Baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungannya.
Seperti biasa, sekolah paud dan tk akan mengadakan perayaan hari ibu yang di gelar di sekolah. Yang melibatkan anak murid beserta orangtua perempuannya. Namun, Putri tahu jelas jika keadaan sang Mamah saat ini sangat lemah dan sangat mengjhawatirkan.
Oleh sebab itu, ia memilih bungkam atas panggilan sang mamah dari pihak sekolahnya. Beruntung ada Mbok Nan yang bisa menjadi pengganti sang mamah di sekolah.
"Mamah jangan sakit-sakit lagi yah? Putli kan takut. Mamah harus kuat dan panjang umur. Biar bisa lihat Putli jadi pengusaha sukses nanti." Putri mengeratkan pelukannya dan sesekali bibir mungilnya mengecup pipi, kening, dan kedua mata sang mamah yang sudah berkaca-kaca mendengarkan tingginya harapan sang anak kelak.
Meski tubuh keduanya tidak sejajar, namun Ruth berusaha untuk segera berjongkok demi mensejajarkan tubuhnya pada Putri.
"Wah, terimakasih, Nak. Kamu belajar romantis seperti ini dari siapa sih?" Sungguh ia tidak habis pikir saat melihat satu buket bunga lili berpadu dengan bunga mawar berwarna merah muda.
Ruth mencium bunga wangi itu hingga terpejam. Hatinya penuh dengan rasa syukur bisa mendapatkan perhatian dari seorang bocah seperti Putri.
Seketika wajah cerah itu pun mendung saat mengatakan, "Tadi...di sekolah semua teman-teman Putli datang bersama dengan ibunya, Mah. Tapi, Putli tahu kalau Mamah tidak boleh terlalu lelah dulu. Jadi, Putli bawa Mbok Nan saja untuk masuk ke kelas hari ini." terang Putri yang tetap memaksakan senyumannya.
Ia tidak bisa terlalu memaksakan Mamahnya untuk datang ke sekolah hanya demi menerima bunga dan ucapan hari ibu. Masih ada Mbok Nan yang bisa ia berikan ucapan tersebut mewakili sang Mamah.
Ruth yang mendengarkan perkataan sang anak sungguh merasa bersalah. Ia menghentikan senyuman di wajahnya dan menatap sedih pada sosok Putri yang juga menatapnya.
"Sayang, Mamah sungguh tidak apa-apa saat ini. Putri seharusnya bilang biar Mamah datang. Nih...lihat tubuh Mamah sudah kuat bahkan sangat kuat loh." Ruth langsung menggendong tubuh Putri demi menghilangkan rasa sedihnya dan khawatir yang berlebih.
__ADS_1
"Non, jangan terlalu memaksakan diri." sahut Mbok Nan ikut melangkah di belakang Ruth memasuki rumah mereka.
"Mah, tulunin Putli. Nanti Putli jatuh, Mah. Mamah!" Putri terus berteriak sembari terkekeh karena merasa geli yang luar biasa saat Ruth menggeleitiki ketiaknya.
"Mamah, nanti Mamah sakit. Putli takut, Mah." teriaknya terus meronta meminta untuk turun dari gendongan Ruth. Mendengar kekhawatiran sang anak dan juga Mbok Nan, akhirnya Ruth menurunkan tubuh mungil itu ke lantai marmer rumahnya.
"Terimakasih, yah Sayang bunganya. Mamah minta maaf yah tidak bisa menjadi pendamping di kelasmu hari ini. Tahun depan Mamah janji, Mamah yang akan datang langsung mengantar sampai masuk ke kelas. Okey?" Ruth menautkan keningnya pada kening sang anak.
Putri tersenyum bahagia mendengarnya. "Okey, Mamah."
"Ayo kita ganti baju dulu. Baru setelah ini Mamah temani makan." pintah Ruth pada sang anak.
"Mbok, sekarang istirahat saja. Mbok makan siang dulu baru istirahat. Hari ini Putri biar saya yang mengurusnya." Mbok Nan mengangguk meski ada perasaan tidak enak karena harus membiarkan Ruth yang mengerjakan pekerjaan mengurus Putri.
"Baik, Non. Terimakasih, Non." tuturnya menunduk dan berjalan sedikit membungkuk.
Mbok Nan sangat tahu jika hari ini Ruth sangat ingin berduaan menghabiskan waktunya dengan Putri.
"Mah, Ayah belum pulang?" tanya Putri dengan wajah lelahnya.
"Belum, Sayang. Nanti sore baru Ayah pulang. Sekarang kita ganti baju baru makan dan setelah itu kita bobo bareng. Okey?"
__ADS_1
"Tapi, Putli takut kalo bobo baleng. Nanti dedeknya kena senggol kaki Putli, Mah."