Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 100. Pertemuan Dengan Bunda


__ADS_3

Tap Tap Tap Tap


Langkah kaki kedua pria yang senada itu mencuri perhatian para pengunjung di rumah sakit. Terutama para suster dan tenaga kesehatan lainnya.


"Eh...tampan banget sih." lirih salah satunya.


"Huum...dua-duanya tinggi-tinggi dan rapi banget."


"Siapa yah? Aku mau dong salah satunya saja hehehe..."


Dan masih banyak lagi bisikan bisikan yang mengiringi dua sosok pria menuju lorong rumah sakit dan berbelok ke arah ruang rawat.


Dava dan Rafael sama sekali tidak menggubris apa yang mereka dengar samar-samar. Di benak Dava kali ini, hanya ada masalah yang terasa sangat sulit di selesaikan seperti benang kusut yang terus berputar tanpa mau putus.


"Di sini, Dav." tunjuk Rafael dengan cepat saat mendekati arah pintu ruangan rawat yang sudah tampak di jaga beberapa polisi di sana.


Polisi itu tampak memberikan hormat saat melihat siapa yang datang.


"Semua baik-baik saja?" tanya Rafael dengan tegas.


"Siap, aman Komandan!" jawab mereka serentak.


Pintu terbuka, Dava langsung segera melangkah masuk tanpa bisa menunggu lebih sabar lagi. Matanya menatap wajah wanita yang terdiam tanpa menutup mata.

__ADS_1


Benarkah ini adalah bundanya? Dava sungguh tak kuasa menahan tangis melihat kondisi yang sangat memprihatinkan di depannya saat ini. Ia menahan suara tangis, membungkam bibirnya yang bergetar. Kristal bening terus berjatuhan dengan cepatnya di kedua pipi pria itu.


"Kuatkan dirimu, Dav." bisik Rafael seraya mengusap pundak sahabatnya.


Ia tak sanggup melihat ke arah wanita itu, kini Rafael memilih menepuk pelan bahu Dava dan meniggalkannya bersama dengan sang bunda di dalam ruangan rawat itu.


"Si-siapa?" tanya wanita itu dengan linglung.


Dava masih tak sanggup menahan tangisnya. Ia berlari memeluk sang bunda tanpa bisa menahan lagi suara isakannya.


"Bunda...ini Dava. Maafkan Dava selama ini tidak berhasil membawa Bunda keluar dari sana." tangisnya semakin mengeratkan pelukan itu.


Tarisya menggelengkan kepala cepat. "Tidak. Saya tidak mengenalmu. Siapa kamu? Kamu orang jahat yang di suruh mereka. Iya kan?" Tarisya seketika panik ketakutan. Ia menyangka jika Dava adalah salah satu utusan yang di perintah oleh Deni atau pun Iwan untuk membawanya pergi dari pengawasan polisi.


"Bunda, ini anak Bunda. Ini adalah...Jeff." ucap Dava dengan sangat berat mengakui jika dirinya bernama Jeff.


Mata yang kabur tertutup air mata itu seketika membulat mendengar nama yang sangat ia rindukan. "Jeff? Jeff Nicolas? Jeff, kamu benar anak Bunda?" Tarisya tersenyum lebar tanpa perduli dengan air mata yang masih lolos begitu saja.


Tangan keriput itu menangkup wajah sang anak yang terlihat sangat tampan.


Dava terdiam, ia mengangguk pelan. Hatinya begitu sakit menyadari jika ia selama ini bukanlah menjadi sosok yang sebenarnya.


Mata hangatnya terpejam beberapa saat. Ia bergerak merebahkan kepalanya di dada sang Bunda yang tengah berbaring lemas di atas tempat tidur pasien.

__ADS_1


"Ini Jeff, anak pertama Bunda." tuturnya pelan.


Hatinya terasa hangat saat merasakan pelukan dari wanita yang sangat lemah di depannya, namun ada perasaan lain yang terasa begitu keras menghantam bagian hati yang terdalam.


Dava memejamkan mata merasakan irama detak jantung di tubuh sang bunda. Air matanya masih menetes dengan derasnya.


Mengapa Tuhan memberikannya pilihan yang sangat sulit kali ini? Menghadirkan satu wanita yang selama ini ia inginkan kehadirannya, dan menghilangkan ikatannya bersama wanita satu lagi sebagai seorang suami istri.


"Tuhan, bolehkah aku egois sekali ini saja?" Dava tak kuasa menahan tangisannya hingga membuat sang Bunda menyadari jika anaknya sedang menangis pilu.


"Jef..." lirihnya mengusap kepala sang anak.


Tangan keriput yang begitu kurus berusaha kuat memegang wajah sang anak yang berbaring di dadanya agar bisa ia lihat.


Mata buram itu berusaha kuat melihat wajah tampan sang anak. Ia tersenyum sembari menahan tetesan air mata yang ingin jatuh.


"Ibu sangat bahagia bertemu denganmu, Nak. Tapi...dimana Cyntia dan juga...Berson?" tanyanya menatap sekeliling.


Dava terdiam memejamkan matanya, hatinya semakin sakit mendengar nama sang istri di sebut sebagai saudaranya saat ini. Mereka adalah sedarah, tidak mungkin Dava bisa jatuh cinta dengan adiknya sendiri. Ini benar-benar hal gila menurutnya.


"Jeff, bagaimana? Apakah Berson juga selamat sama denganmu?" tanyanya menatap wajah sedih anaknya. Ia ingat bagaimana perpisahan terakhir kali dirinya, suaminya dan kedua anaknya yaitu Berson dan Jeff. Mereka terpisah saat terjadinya kecelakaan yang sangat mengerikkan itu.


"Bunda, apakah orang-orang Jeff memperlakukan Bunda dengan baik sebelum misi kami terbongkar?" Dava memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan pada sang bunda. Ia sama sekali belum sanggup untuk memikirkan hubungannya dengan Sendi dan juga Ruth saat ini.

__ADS_1


"Maafkan Dava, Bunda. Dava ingin sedikit lebih lama mempersiapkan hati ini untuk menerima kenyataan." batinnya menolak keras tentang kenyataan ikatan sedarah antara dirinya dan sang istri.


__ADS_2