Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 172. Sedihnya Tangisan Di dalam Mobil


__ADS_3

Suasana hati yang begitu sakit terlihat menguasai wajah ayu wanita bermata cokelat itu. Hatinya hancur melihat sikap pria yang ia idam-idamkan selama ini rapuh.


Pelukan sekuat apa pun saat ini yang ia berikan pada Dava tak mampu membuat keadaan kembali membaik. Semuanya sudah hancur seiring waktu bibir indah itu bersyahadat dan memutuskan untuk berpisah dari sang istri.


"Dav, mengapa? Mengapa kau lakukan ini padaku?" isaknya pilu meneteskan air mata tanpa bisa menahannya lagi.


Semua yang ia ucapkan tak membuat pria tampan itu sadar akan keadaannya saat ini. Dirinya sudah tidak bisa mendengar ataupun melihat apa yang ada di sekelilingnya lagi.


Sungguh menyayat hati bagi siapa pun yang melihatnya. Begitu pula Dina yang merasakan di kedua matanya terasa panas. Ia bisa melihat jelas betapa besar rasa cinta wanita yang selama ini menjadi saingan dalam hatinya itu pada sang suami.


Jelas Ruth sangat mencintai suaminya, namun saat ini semuanya tidak akan bisa membawa cinta mereka ke jalan mana pun kecuali perpisahan.


Entah apa yang terjadi pada hubungan mereka saat ini, cerai hanya dengan perbedaan agama. Benar-benar hubungan yang sangat membingungkan.


"Kak, sebaiknya kita pergi ke rumah membawa Kak Dava saja." ujarnya dengan ragu-ragu.


Ia sangat takut jika sampai perkataannya membuat sang kakak ipar marah padanya. Melihat bagaimana rapuhnya keadaan Ruth saat ini ketika melihat keadaan pria yang ia cintai.

__ADS_1


Ruth menoleh menatap Dina yang baru saja memberikan masukan padanya. Melihat keadaan yang sudah semakin gelap, ia pun menyetujui saran dari adik iparnya.


"Baiklah." jawabnya dengan mengusap air mata di kedua pipinya cepat.


Dengan berat hati, ia mulai memaksakan diri untuk membawa tubuh sang mantan suami berdiri. Terlihat sangat kesulitan, meski tubuhnya tinggi tetapi dengan bobot badan sang suami tampak ia begitu kesulitan mengangkatnya.


"Ayo, Kak." Dengan sigap Dina membantu Ruth.


Keduanya memasukkan tubuh pria tampan itu ke dalam mobil taksi yang masih menunggu mereka sedari tadi.


"Mohon maaf, ini kemana yah, Ibu?" tanya sang supir dengan sopannya.


"Ke alamat kita tadi, Pak." jawab Dina dengan cepat kala melihat ekspresi wajah Ruth yang tak memperdulikan ucapan supir barusan.


Yang ia lihat hanya wajah di pangkuannya kini.


Dina sesekali menoleh ke belakang melihat Ruth di belakang bersama Dava.

__ADS_1


"Kasihan sekali, Kak Ruth. Mereka saling mencintai, tetapi mereka tidak bisa bersatu..." Dina menundukkan kepalanya.


Meratapi nasib pernikahannya sendiri yang sangat menyedihkan. "Sedangkan aku dan Sendi...hanya aku yang mencintai. Tetapi pernikahan kami masih bisa berjalan sampai saat ini. Ya Allah...aku tidak tahu betapa besarnya ujianmu ini. Yang aku tahu aku yakin suatu saat nanti kau akan memberikan kami hambamu ini yang terbaik. Kebahagiaan, itu yang ku percaya dari Mu Ya Rabb."


Sepanjang jalan hanya ada suara isakan tangis dari kursi penumpang di belakang. Dina maupun supir taksi online itu tidak berani bersuara sedikit pun. Mereka bisa melihat betapa sedihnya wanita di belakang yang tengah memeluk sang pujaan sembari menunggunya untuk membuka mata.


"Dav, aku mohon bangun. Aku mohon bangunlah." tangan lentik itu terlihat bergerak mengusap wajah sang prianya.


Tetesan demi tetesan air mata terus berjatuhan di wajah pria yang terkena air mata dari wanita yang berada di depannya.


Sekali lagi Ruth memejamkan mata meneteskan air matanya melihat betapa hancurnya wajah sang pria yang kini ia tatap. Banyaknya tanda biru di wajahnya dan beberapa goresan luka di pipinya membuat hatinya miris melihatnya.


"Aku mencintaimu, Dav. Hatiku semakin sakit melihatmu seperti ini. Mengapa kau sampai melakukan seperti ini? Mengapa? Apa semua yang membuat kita sakit masih belum cukup untukmu?" tuturnya dalam hati penuh dengan curahan hati.


Setetes demi setetes perlahan-lahan mulai menjadi guyuran pada kaca jendela mobil malam itu. Suasana sedih di dalam mobil sepertinya membuat langit pun ikut merasakan kesedihan yang di rasakan sosok Ruth.


Jalanan padat mulai terlihat basah dengan siraman air dari langit, tubuh padat milik wanita yang tengah berbadan dua terus bergetar menahan tangisnya dalam pelukan erat itu.

__ADS_1


__ADS_2