Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 198. Gadis Kecil Bergingsul Manis


__ADS_3

"Hari rabu, harinya aku...


Siapa tahu si tampan hari ini menemuiku."


"Uh akhirnya yang ku tunggu datang juga. Bersiaplah Kiki, hari ini kau akan menjadi rebutan dua pria tampan itu lagi." Tampak pria dengan gerakan tubuh yang gemulai kini berjalan sembari mengibas-ngibaskan rambut cepaknya mendekati dua pria tampan yang baru saja turun dari mobil yang sama.


"Ehem." sapanya dengan berdehem begitu genit.


"Apa ada yang perlu di sampaikan?" ketus Sendi menyapanya.


Sementara Dava masih enggan menatap pria di depannya kini. Ia masih sibuk memperhatikan ponselnya yang baru saja berdering tanda pesan masuk.


"Em...tidak, Pak. Oh waow Pak Dava sudah kembali lagi bekerja. Apa beberapa hari ini anda sedang tidak enak badan, Pak? Saya sangat khawatir dengan anda." Kiki tampak begitu perhatian ketika menatap wajah tampan Dava.


Sendi yang mendengar tentu saja bisa membaca kemana arah pembicaraan pria itu. Ia pun memutar malas bolamatanya lalu meninggalkan Dava yang masih tak bergeming di sana.


"Kalian bisa lanjutkan. Saya duluan." tuturnya tanpa permisi pada Dava.


"Eih pasti Pak Sendi cemburu deh gara-gara saya lebih perhatian dengan Pak Dava. Hihi aduh kenapa gemes gini sih lihat dua pria yang sama-sama tampan?" ia bergerak kesana kemari seperti cacing kepanasan.


"Loh, Pak Dava!" ia berteriak saat Dava sudah meninggalkannya yang baru saja menatap kepergian sosok Sendi.

__ADS_1


"Dasar menggelikkan." gerutu Dava yang menggelengkan kepala dan berlalu tanpa memperdulikan teriakan karyawannya itu.


Andai saja Kiki tidak memiliki kemampuan yang ahli dalam pekerjaan, mungkin mereka akan memberhentikan pria gemulai itu. Kehadirannya selalu saja membuat para pria sangat resah terutama untuk Dava dan juga Sendi.


Hari ini adalah hari dimana Dava harus kembali mengemban tanggung jawabnya sebagai anak tertua di keluarga Nicolas.


Sekali pun semua rahasia terlah terbongkar, namun keadaan mereka akan tetap seperti sebelumnya. Itulah yang di harapkan oleh Tuan Wilson, anak-anaknya akan tetap bersamanya sampai akhir hayat.


Tentu saja Dava tak mampu menola permintaan orangtuanya yang sangat berharap besar padanya.


Sedangkan di sisi yang berbeda.


"..." suara sendawa dari mulut kecil milik gadis yang tak tahu malu itu.


"Hehehe, maaf Tante. Ibu. Saya kelepasan, habis makanannya enak banget." tuturnya begitu polos dan sangat lucu di mata dua wanita paruh baya ini.


"Kamu suka masakannya? padahal ini masakan Ibu buat sangat sederhana loh." tutur Sarah merasa masakan yang ia hidangkan untuk menu sarapan hari ini adalah masakan seadanya saja.


Wuri tersenyum menatap Anjani, lalu menatap pada Sarah juga.


"Kamu lucu sekali sih, Nak. Kita berdua jadi merasa tidak kesepian lagi loh." tambah Wuri terkekeh melihat Anjani yang sudah tampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi meja makan karena kekenyangan.

__ADS_1


"Benarkah? Apa itu artinya Ibu dan Tante tidak keberatan ada saya di rumah ini?" celetuknya dengan penuh semangat.


Anjani tersenyum lebar hingga kedua gingsul yang ia punya tampak dengan jelas. Wuri dan Sarah terkekeh melihatnya.


"Sejak kapan kami mengatakan keberatan. Tentu saja tidak, Anjani. Oh iya, pagi ini Tante dan Ibu harus segera pergi untuk ke tempat kerja. Dimana alamat rumahmu, biarkan kami mengantarmu pulang agar tidak tersesat lagi. Setelah itu kami akan ke tempat kerja." sahut Sarah mengingat jika gadis ini semalam mengatakan kesasar.


Ucapan Sarah seketika membuat raut ceria di wajah gadis kecil itu mendung. Ia menunduk sedih dan tak mengatakan apa pun. Bukan karena ingin di kasihani, tetapi itulah kenyataan yang sebenarnya, ia begitu sedih mengingat semua masalah yang terjadi di hidupnya.


"Tidak perlu, Tante, Ibu. Anjani bisa pergi dari sini sendiri kok. Maaf, Anjani sebenarnya bukan kesasar melainkan pergi dari rumah." akunya dengan jujur namun masih tetap menundukkan kepala.


"Hah? Pergi dari rumah?" Sarah dan Wuri bersuara bersamaan karena terkejut bukan main.


Anjani yang mendengarnya sama sekali tidak kaget. Ia hanya menganggukkan kepala pelan.


"Astaga, Nak. Apa yang terjadi? Lalu bagaimana bisa kau bertemu dengan Dava? Apa kalian memang saling mengenal? Atau kau salah satu karyawan di kantor?" Sarah bertanya dengan banyak.


Anjani menggeleng. Tak terasa ada air mata yang menetes di kedua matanya saat gadis kecil itu menundukkan kepala.


Kedua wanita paruh baya itu segera melempar pandangan mereka dan bangkit dari duduknya. Mendekati Anjani lalu mengusap kedua bahu gadis itu dengan lembut. Seakan ikut merasakan kesedihan yang Anjani rasakan.


"Sabar, Nak. Katakan jika kau mau menceritakannya pada kami. Kami pasti akan mendengarkan dengan baik." Wuri berucap dengan tulus layaknya ia tengah memberikan perhatiannya pada Dina.

__ADS_1


__ADS_2