
Rumah yang seharusnya di penuhi dengan kehangatan dengan berkumpulnya satu keluarga justru berbalik arah menjadi begitu memilukan.
Sendi dengan terang-terangan menceritakan segala yang sudah terjadi padanya dan sang istri, kini ia tertunduk usai menceritakan kesalah pahamannya dengan Dina.
Tarisya mengerutkan kedua alisnya dengan sedih, "Mengapa bisa Dina jadi salah paham seperti itu, Nak? Dengan Shandy lagi...apa istrimu tida tahu jika kalian adalah adik kakak?" tanyanya dengan lemah lembut.
Tangan keriuputnya tampak mengusap bahu Sendi saat ini.
Jika yang menjadi pengetahuan Tarisya, hanya Dava saja yang berhubungan salah dengan sang adik, kini Sendi pun menjelaskan jika ia juga pernah terlibat dengan cinta sedara jauh sebelum Dava hadir.
"Dulu..." matanya menatap ragu pada sang bunda.
"Kami pernah berpacaran, Bunda." lanjutnya dengan suara pelan.
__ADS_1
"Maksudnya...berpacaran dengan istrimu?" ia berusaha mengatur pikiran agar tidak berburuk sangka dengan sang anak.
"Dengan Ruth, Bunda." Sendi menggelengkan kepala lalu menjawabnya.
Sontak saat itu juga mata Tarisya membulat tak menyangka, mulutnya terbuka lebar karena sangat terkejet. Benarkah dua anak laki-lakinya sama memiliki perasaan pada adik mereka sendiri. Ia sangat syok mendengar pengakuan Sendi kali ini.
"Berson, kau tidak bercanda Nak? Kau berpacaran dengan adikmu sendiri? apa Bunda salah dengar?" tanyanya berharap jika indera pendengarannya kali ini salah menangkapnya.
Tanpa terasa mata yang sudah mengering itu menjatuhkan tetesan kristal bening lagi, sehancur itukah keluarganya saat ini? Bagaimana mungkin dengan dunia yang begitu luas, mengapa harus ada cinta sedarah?
"Berson, Bunda sangat tidak percaya dengan hal ini. Tapi satu, jika itu memang benar. Bunda harap perasaan itu tidak akan kau pelihara selamanya. Karena bagaimana pun, kalian itu adalah adik kakak. Itu sangat di larang oleh agama, Nak." ujarnya meminta dengan perkataan sangat lembut.
Sendi hanya bisa menghela napasnya kasar. Sekalipun sang bunda yang mengatakan itu padanya, hati tidak akan semudah membalikkan telapak tangan untuk membuang nama siapa yang ingin ia buang dan nama siapa yang ingin ia ambil.
__ADS_1
Sendi tersenyum kemudian mengangguk palsu. "Iya, Bunda. Bunda tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja." tuturnya dengan membuat ekspresi wajah yang begitu meyakinkan.
Mungkin dengan kejadian yang sudah cukup lama terjadi padanya, membuat Sendi seolah cukup kuat untuk menutupi apa yang menjadi isi hatinya pada wanita yang bernama Ruth.
"Syukurlah, Nak jika benar seperti itu. Bunda benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi saat ini. Bunda tidak habis pikir mengapa kejadian itu sampai menimbulkan begitu banyak masalah yang sangat fatal.
"Sekarang, kau harus menjaga istrimu dengan baik dan cintai dia sepenuhnya. Biarkan hati itu perlahan dengan sendirinya akan memilih siapa yang akan menjadi masa depannya. Tapi dengan satu cara, kau harus tetap melihat istrimu. Bagaimana pun dialah wanita yang berhak menjadi ratu di hatimu, Nak. Adikmu memang wanita yang sangat cantik, tapi dia adalah adikmu. Selamanya akan tetap seperti itu..." Ia memeluk Sendi dengan erat, dan Sendi pun hanya mampu diam mendengarkan apa yang di katakan sang bunda.
"Iya, Bunda."
"Entah aku sanggup atau tidak menuruti perintahmu, Bunda. Bahkan sampai saat ini hatiku masih tetap memilih Ruth sebagai ratunya. Aku tidak bisa menggantikan nama itu sampai kapan pun...Maafkan aku, Din." Sendi berucap dalam hati seakan tahu jika ucapannya dan hatinya saat ini tengah berlawanan kata.
Tetapi Sendi tidak ingin membuat sang Bunda menjadi sedih karena perkataannya. Sudah cukup masalah Dava dan Ruth yang membuatnya sedih, ia tidak ingin lagi menambahkan dengan masalahnya yang entah sampai kapan akan terus seperti itu.
__ADS_1