
Suara canda tawa terdengar begitu jelas di kediaman Nicolas siang itu. Tepatnya di meja makan tengah berkumpul tanpa kurang satu pun dari anggota keluarga Tuan Wilson.
Hidangan yang sangat lezat dan menggugah selera tentu saja membuat wanita yang baru saja menyandang status ibu itu meneguk kasar salivahnya.
"Bunda...ini makanan banyak sekali. Perutku terasa begitu lapar melihatnya." Ruth berucap dengan mengusap perut rata miliknya yang sudah berbalut kain panjang dua meter di sana.
"Untuk hari ini Bunda ijinkan kau makan banyak, Shandy. Tapi setelah itu kau harus menjaga porsi makanmu kembali. Okey?" Tarisya yang memang saat ini begitu antusias merawat anak perempuannya di masa-masa pemulihan tubuh itu.
"Bunda, biarkan Shandy makan banyak." ucap Dava yang tidak tega mendengarnya.
"Bila perlu itu kain di perutmu lepas saja, kau bergerak pun sudah seperti mumi yang kaku." tunjuknya dengan ekor mata ke arah perut Ruth.
"Hei...Jeff. Itu tidak boleh, Nak. Kau laki-laki tidak akan tahu urusan tentang tubuh wanita usai melahirkan. Iya kan Ayah?" tanyanya pada Tuan Wilson yang jauh lebih berpengalaman dari Dava.
"Jeff benar, Bunda. Kasihan Shandy tersiksa seperti itu. Ayah juga tidak tega melihatnya. Lagi pula cinta bukan di ukur dari seberapa bagus body istri kita usai melahirkan hingga tua, tetapi seberapa tulus wanita itu pada suaminya." Tuan Wilson yang memang tidak sependapat dengan sang istri sedari dulu akhirnya melakukan penyuaraan yang sudah terpendam sekian lama.
Wajah antusias Tarisya mendadak berubah menjadi kecut setelah mendengar penuturan sang suami.
"Ayah...selalu saja mengatakan seperti itu. Sekarang coba lihat, tubuh Bunda enak bukan di pandang?" celetuk Tarisya tak mau kalah.
Semua yang ada di meja makan itu hanya terkekeh melihat perdebatan dua banding satu.
"Sudahlah, aku baik-baik saja. Ini terasa enak di perut meski sangat kencang. Setidaknya perutku tidak terlalu terasa bergoyang karena begitu kendur." jawab Ruth yang ingin menolong sang bunda.
"Tuh kan, Shandy bilang apa? Sudahlah kalian para pria hanya tau membuat perut buncit, tidak tahu membuatnya kembali seperti semula."
"Berarti perut Putri juga bisa Nenek? Mah, nanti gantian yah pake korsetnya." tutur Putri saat kedua tangannya menjepit perut buncit miliknya sendiri di bawah sana yang sudah menjadi dua lipatan dengan dadanya.
"Hahahaha...." suara tawa semuanya kala mendengar penuturan polos si bocah tengil itu.
"Ini bukan untuk anak-anak sepertimu, Naki. Kau masih sangat kecil, memang sudah seperti itu pertumbuhannya. Tidak perlu di kecilkan, nanti kecil sendiri kok. Berbeda dengan Mamah, kan ada dedek Rava yang baru keluar dari perut Mamah, Nak." sahut Ruth menjelaskan dengan penuh kesabaran.
__ADS_1
Saat ini adalah masa pertumbuhan sang anak yang begitu haus akan semua penjelasan yang menurutnya ganjil. Sebagai seorang ibu, Ruth akan sangat berperan penting membimbing perkembangan sang anak.
"Sudah ayo sekarang makan, nanti keburu dingin loh." tutur Tuan Wilson menghentikan perbincangan absurd itu.
"Semua makan dengan tenang, kecuali Ruth. Ia tampak kesulitan untuk menyendok makanannya karena harus memangku sang anak yang tertidur di sana sembari menyedot asupan makanannya dari tubuh sang ibu.
Sebagai pria yang sangat peka, Dava seketika langsung mengerti apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Ayo," pintah Dava seraya menyodorkan sendok ke arah mulut Ruth yang terbungkam karena kaget bukan kepalang.
Semua yang tengah menikmati makan di piring masing-masing pun hanya menatap tanpa berani bersuara. Mereka tidak ingin membuat Dava dan Ruth malu.
"Em...tidak. Ak-" ucapan Ruth segera di potong oleh Dava.
"Buka mulutmu. Kasihan Rava jika harus terbangun karena kau banyak bergerak." tutur Dava penuh pengertian.
Perlahan Ruth membuka mulutnya sesuai dengan perinta pria tampan itu. Tatapan matanya tak berkedip saat memandang sosok pria yang selalu berhasil membuat hatinya meleleh.
Ada senyuman dan tawa di wajah pria itu. "Makanmu ternyata benar-benar banyak, Ruth." celetuknya yang terkekeh melihat berapa banyak makanan yang ia masukkan ke dalam mulut wanita itu.
"Aku kan sudah mengatakan aku benar-benar lapar." jawab Ruth dengan masa bodohnya.
Meski di dalam hati ia sebenarnya sangat malu mendengar ucapan Dava.
Lauk yang begitu lezat di tambah lagi suapan dari pria yang sangat ia cintai, sungguh menjadikan makanan itu tercampur sempurna rasa nikmatnya.
Setelah selesai makan siang, kini semuanya memutuskan untuk menuju kamar mereka masing-masing. Sebelumnya mereka sudah menghabiskan waktu cukup lama di meja makan sembari menunggu Dava menghabiskan makanannya.
"Ayah, mau kemana?" tanya Putri yang berjalan di belakang sang mamah yang menggendong baby Rava.
Mata bulat bocah itu menatap Dava yang sudah melangkah berbelok ke arah lain.
__ADS_1
Dava terhenti dan membalikkan tubuhnya. "Ayo Putri tidur bersama Ayah, biarkan Mamah istirahat dulu sama adek Rava." ajaknya dengan memanggil Putri.
Putri menatap wajah sang mamah. Ruth pun dengan cepat tersenyum lalu mengangguk. Ia tahu jika Dava sangat merindukan sosok Putri. Namun, tidak mungkin jika mereka saat ini tidur bersama, karena status mereka masih belum sah di mata agama.
"Pergilah, Nak. Nanti Mamah bangunin kalo sudah waktunya mandi yah?" pintah Ruth mengusap kepala Putri di bawah sana.
"Mah, Siapa yang jagain Mamah kalau Putri bobok sama Ayah?" tanyanya penuh kecemasan.
Mendengar itu, Ruth dan Dava tertawa bersamaan. "Ayah yang akan jagain Mamah. Setelah Putri tidur nanti Ayah akan awasi Mamah dan adek Rava. Okey?" sahut Dava dengan cepat.
Mendengar itu, barulah Putri mengangguk setuju. Ia berjalan dan meraih tangan sang ayah untuk menuju ke kamarnya. Tak lupa ia melambaikan tangan pada sang mamah seakan ingin pergi berjalan saja.
"Dada...Mamah." serunya.
Di siang menjelang sore ini, kediaman Tuan Wilson kembali hening. Sarah dan Wuri pun memutuskan untuk kembali ke rumah mereka karena akan masuk kerja sore nanti.
Sedangkan di dalam kamar, kini Tuan Wilson tengah berbincang-bincang hangat dengan sang istri. Menikmati waktu-waktu yang tersisa di umur senja mereka.
"Bunda..." tuturnya sembari mengusap punggung sang istri yang di dekapnya.
Tarisya menengadah menatap wajah sang suami. "Ia Ayah..." jawabnya.
"Pemasalahan di keluarga kita sudah selesai, bukan?" tuturnya dengan lembut dan hangat.
Tarisya tersenyum dan mengangguk. "Iya, bahkan itu bukanlah masalah. Hanya ujian, Ayah." jawabnya lagi.
"Ayah sudah bisa bernapas lega. Jika boleh Ayah minta, bisakah besok kita pergi ke Bandung?" tanya Tuan Wilson dengan penuh harap.
Sadar jika permintaannya sangatlah berat dengan keadaan fisiknya yang masih belum terlalu kuat untuk bepergian jauh.
"Ayah...untuk apa? Itu jauh sekali." Benar saja Tarisya pasti akan keberatan mengabulkan permintaannya.
__ADS_1