
Sentuhan hangat dan penuh cinta itu tersalurkan dengan sangat sempurna. Dua benda yang begitu lembut saling berpagutan tanpa ada yang mampu menghentikan.
Ruth melakukannya dengan penuh cinta, sementara Dava yang awalnya masih tak merespon kini perlahan mulai membalas permainan sang istri. Dirinya bukanlah pria tidak normal jika mendapatkan perlakuan seperti itu akan mampu menolak.
Terlebih dari wantia yang sudah menguasai hatinya saat ini.
Di tarik indera perasa itu kemudian memandang dengan jarak yang begitu dekat. "Aku sangat mencintaimu, Dav. Biarkan aku bahagia denganmu kali ini. Berjanjilah."
Mendengar penuturan sang istri, Dava tersenyum lega. Ia pun tampak menghela napasnya kasar. Ternyata sang istri sama sekali tidak marah padanya.
"Terimakasih, sayang. Terimakasih, Ruth. Aku sangat mencintaimu. Aku bahagia bisa tetap bersamamu." Dava memeluk dengan begitu erat.
"Kita pulang?" tanya Dava meminta persetujuan pada sang istri usai kedua tangannya memeluk dan melepaskan pelukan itu beberapa saat pada tubuh sang istri.
Kini Ruth mengangguk setuju.
Keduanya menikmati perjalanan menuju ke rumah tanpa berbicara sepatah kata pun. Bagaimana juga, Ruth masih tak bisa berpikir dengan jernih kala mengetahui siapa pelaku pembunuhan itu.
Di sini tidak ada yang tahu jika seorang wanita tengah meneteskan air mata.
Mata indahnya menatap hampa langit-langit kamar tersebut. Rasa frustasi membuatnya tak bisa bersemangat untuk melakukan apa pun.
"Mengapa aku harus berada di situasi serba salah ini, Dev?" Di tatapnya wajah tampan yang terpampang pada figura foto yang ada di kamar tersebut.
Alana begitu sedih saat mengingat banyaknya kenangan mereka berdua di kamar ini semasa kecil hinggal tumbuh menjadi seorang pemimpin perusahaan.
Rumah yang sedari dulu terasa ramai ketika mereka berdua bersama, kini menjadi seperti tak bernyawa. Sangat sunyi, kepulangan Alana ternyata tidak di sambut dengan baik oleh pria yang ia harapkan.
Bayangan percakapannya dengan seorang wanita kembali teringat di benaknya kala dua netra berwarna abu-abu itu terpejam.
"Alana, jika kau ingin berterimakasih dan tau berterimakasih, bujuk Dava. Bujuk dia untuk menikah denganmu. Apa kau tidak kasihan dengan Uncle harus mendekam di penjara seperti itu?" Suara wanita itu terdengar bergetar penuh permohonan.
Alana menunduk. "Tapi Aunty...Dev tidak mungkin mencintai dua wanita. Dia sudah menikah, Aunty."
__ADS_1
"Jangan pikirkan tentang cinta, Alana. Pikirkan Uncle mu saat ini. Apa kamu mau wanita itu menghukum hingga Uncle mu membusuk di penjara? Alana, selama ini sudah cukup Aunty dan Uncle membuatmu hidup dengan nyaman. Kini saatnya tunjukkan baktimu dengan kami. Lakukan apa pun yang harus kamu lakukan."
Langkah kaki dengan nada heels yang berpacu dengan marmer mewah itu di tatapanya semakin menjauh. Alana bahkan tidak bisa sepercaya diri itu untuk melakukan hal yang menurutnya sangat rendahan.
"Dev...jika boneka ku ini terluka, apa yang akan kau lakukan dengan bonekamu?" Suara mungil seorang bocah begitu terdengar menggemaskan.
"Alana, aku akan berusaha menjadikan bonekaku seorang dokter. Aku akan menyembuhkan luka bonekamu tentunya." Dave kecil terlihat sangat dewasa dan penyayang hingga bocah wanita di depannya selalu tersenyum padanya dan begitu sangat menyayanginya.
"Berarti jika aku yang terluka, kau juga akan melakukan hal yang sama seperti dengan bonekamu, Dev?" tanyanya sembari tersenyum lebar.
Namun senyuman wajah Alana kecil seketika terhenti kala melihat gelengan kepala pria di depannya. "Tidak. Alana, aku tidak akan membiarkanmu terluka. Aku akan selalu bersamamu, right?"
Alana begitu senang mendengarnya, ia pun menghambur memeluk saudara angkatnya itu.
Yah. Alana Saraswati hanyalah anak angkat di keluarga Sandronata. Namun entah mengapa dirinya begitu di sayangi dengan satu keluarga itu. Begitu pun dengan sosok Dave yang sangat melindunginya, hingga akhirnya di usia mereka yang sudah mencapai 19 tahun harus terpisah karena Alana mengikuti impiannya untuk sekolah di luar negeri.
"Arghh!! Kenapa harus begini, Dev? Aku benci ini semua!" Alana berteriak frustasi di dalam kamar Dava.
Wajah putihnya tampak memerah bak kepiting, urat di tengah keningnya pun mengeras.
Setelah perjalanan singkat, wanita itu kini telah sampai di depan gedung perusahaan Nata Hensana. Perusahaan yang berusia belum cukup lama berdiri namun berkembang begitu cepat.
"Permisi, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" sapa sang receptionis dengan sopannya.
"Saya ingin bertemu dengan Dev. I'm sorry. Dava." Alana menyebutkan nama Dava yang di kenal dengan seperti itu.
"Maaf, Nona. Tuan Dava sudah beberapa hari ini tidak ke kantor. Apakah anda tidak membuat janji dengannya?" tanya receptionis lagi.
"Astaga...apa perlu saya membuat janji bertemu dengan kakak saya sendiri?" Alana menggerutu kesal lalu pergi tanpa berkata-kata lagi.
"Adiknya? Sejak kapan pak Dava memiliki adik seperti itu?" batinnya menatap kepergian Alana.
***
Kembali lagi dengan suasana di rumah.
__ADS_1
Putri yang sudah menantikan kepulangan Ruth dan Dava berlari begitu senangnya menyambut mereka.
"Paman...Mamah!" teriaknya menghambur dan di sambut oleh Dava antusias.
"Dav, apa kamu tidak ke kantor?" Ruth menatap penuh tanya sang suami yang sudah beberapa hari ini tidak pergi sama sekali ke kantor.
"Tidak. Apa kamu keberatan jika kita selalu bersama?" tanyanya membuat kening Ruth mengernyit heran.
"Aku sudah tidak bekerja di perusahaan itu. Bahkan semua hak atas namaku sudah ku berikan pada keluarga. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Apa kau tidak keberatan, Ruth?"
Ruth tercengang. "Ma-maksud kamu...kamu ingin hidup sendiri tanpa bayangan mereka begitu?" Ruth benar-benar tidak percaya dengan apa yang di ucapkan sang suami barusan.
Matanya berkaca-kaca, bibirnya tersenyum begitu bahagia mendengarnya. "Dav, apa aku istri yang jahat jika menyukai berita sedih ini?" tanyanya tak kuasa menahan haru.
Dava yang tengah menggendong Putri mendapat pelukan dari sang istri mendadak. Ia tersenyum dan membalas pelukan sang istri dengan sebelah tangannya.
Ketiganya begitu bahagia terlihat di halaman rumah sementara di luar gerbang tampak mobil yang tengah menurunkan kaca mobil. Mata tajamnya kini meredup, Sendi benar-benar tak memiliki kesempatan lagi sepertinya untuk memperjuangan cintanya dan mengambil kembali Ruthnya.
"Aku mencintaimu, Ruth. Tapi mungkin kau lebih bahagia dengan suamimu. Aku tidak akan datang untuk membuatmu menangis lagi, Ruth. Cintaku abadi untukmu cinta pertamaku. Aku sangat mencintaimu, Ruth. Sangat."
Sendi memilih pergi dari kediaman itu, matanya tak henti-hentinya ia usap. Dirinya sadar setelah mengetahui perilaku buruk ayahnya dari sang ibu. Namun, Wuri belum sempat menceritakan seluruhnya, Sendi sudah tidak ingin mendengar apapun lagi.
Ia malu, sangat malu mengetahui segala niat buruk ayahnya yang merencanakan kecelakaan tersebut dan mengambil alih perusahaan almarhum.
Untuk membesuk sang ayah pun, Sendi tidak sudi. "Ayah benar-benar keterlalun. Setega itu dia dengan Ruth? Bahkan selama ini masih tidak berhenti untuk menyiksanya."
Segala penderitaan yang di alami wanita yang ia cintai, membuatnya tak sampai hati jika terus mengikuti rasa egonya untuk memiliki Ruth kembali. Kini Sendi memutuskan untuk mundur dari perjuangan cintanya.
"Terimakasih, Pak." Sendi mengatakannya setelah sang supir memberikan koper miliknya dengan baik.
"Tuan, hati-hati. Semoga segera kembali secepatnya." tutur sang supir yang hendak masuk ke dalam mobil setelah memastikan sang Tuan muda aman di bandara.
"Baik, Pak."
Sendi menatap ramainya pengunjung bandara hari itu. "Hemmm." Helaan napasnya kini menjadi detik-detik terakhir ia menginjakkan kakinya di negara tercintanya.
__ADS_1
Wajahnya yang pilu berusaha sekuat tenaga untuk ia buat tersenyum. Ia tidak ingin kehidupan barunya terisi dengan kesedihan lagi kali ini.