
Sendi berlari keluar dari kantor saat itu juga. Rasa kesalnya pada keluarga sirna seketika saat mendengar semua keluhan sang Ibu. Ia tidak akan setega itu membiarkan Ibunya terlantar kelaparan di jalanan.
"Kalau saja yang seperti ini, Ayah...aku tidak akan menolongnya. Tapi kenapa harus Ibu?" lirihnya saat memasuki taksi untuk menuju sebuah rumah sakit dimana sang ibu berada.
Sendi menatap ramainya kendaraan yang berlalu lalang saat ini. Matanya terpejam beberapa saat sembari menyandarkan kepalanya pada kursi mobil yang membawanya ke tempat tujuan.
Sedangkan di sebuah taman, Dava tampak mendudukkan sang istri pada salah satu kursi panjang. "Diam di sini, okay?" Ruth hanya menatap sang suami tanpa berkata apa pun.
Mata cokelatnya tertuju pada punggung suami yang semakin menjauh meninggalkannya dari taman sejuk itu. "Mau apa sih dia?" Ruth tersenyum kecil melihat Dava melambaikan tangan padanya.
Setelah kepergian Dava, Ruth menundukkan kepalanya. Bermain dengan kedua kaki yang menginjak hamparan rerumputan yang hijau di bawah.
"Apa yang harus ku lakukan saat ini? Kasihan Nyonya Wuri. Tapi...jika aku membantu mereka, aku membantu apa? Tidak mungkin aku mengembalikan semuanya. Dava bilang perusahaan sangat perlu dana untuk memulai semuanya."
Ruth benar-benar bingung. Sesama wanita ia sangat paham apa yang menjadi kelemaha seorang ibu. Yaitu keadaan anak yang memburuk.
"Ini," Sebuah tangan besar menyodorkan ice cream yang sudah terbuka dari bungkusannya.
__ADS_1
Ruth menengadah melihat sosok pria yang sudah berdiri di depannya saat ini. Tangannya ia gerakkan untuk menerima makanan menyegarkan itu. "Terimakasih, Dav." ucapnya membalas senyuman hangat Dava.
Dava pun ikut duduk di samping sang istri. Keduanya tampak menikmati manisnya ice cream yang mereka santap.
"Dav, aku boleh berbicara dan meminta persetujuanmu?" tanya Ruth di sela-sela menikmati ice cream.
"Tanyakan saja. Tapi jika itu tidak tepat jangan salahkan aku jika aku melarangmu, Sayang." tutur Dava yang terus menikmati lelehan ice cream.
Ruth menghentikan aksinya dan menatap ke arah samping. "Dav, biarkan Nyonya Wuri tinggal bersama kita dan juga Dina."
"Jangan bercanda, Ruth." Dava seketika menegang. Ia tidak habis pikir dengan tindakan sang istri.
"Pertama, mereka bukanlah orang-orang yang bisa di percaya untuk berada di rumah mu. Kedua, mereka keluarga musuh yang sebenarnya. Ketiga, tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan apa pun yang di perintahkan suaminya atau ayahku, Ruth. Kau mau kita memelihara musuh dalam selimut?"
Dava menghela napasnya kasar. "Ingat, kita baru saja berusaha memulai semuanya, Ruth. Jangan sampai karena kelembekan hatimu, kita jadi terperdaya." Dava melanjutkan perkataannya.
Ruth termenung sejenak. Benar, apa yang di ucapkan sang suami sangat benar. Tuan Deni dan Tuan Iwan adalah dua sejoli yang sangat licik dan kejam. Bahkan untuk menyembunyikan kasus pembunuhan selama belasan tahun mereka tidak tampak menyadari kesalahan itu.
__ADS_1
Dava pun terdiam beberapa saat, ia berusaha mencari jalan keluar yang terbaik. Karena jika tidak, sang istri pasti akan terus menerus memikirkan hal itu.
Ia menatap wajah sedih sang istri yang sudah menunduk kembali. "Begini saja," Dava mengusap pucuk kepala Ruth dengan penuh kelembutan.
Ruth menatap sang suami di sampingnya. "Kita bantu untuk memberikan tempat tinggal kontrakan saja untuk mereka. Semuanya aku yang akan mengurus, Kau hanya memantau dari kejauhan saja. Selebihnya, itu harus usaha dari mereka sendiri."tutur Dava mencari jalan aman.
Tapi Ruth masih tak bergeming. Ia tidak puas dengan hasil pemikiran sang suami. "Tapi Dav...yang mereka butuhkan saat ini adalah biaya rumah sakit Dina. Itu adalah nyawa, Dav. Aku tidak bisa tenang jika aku bisa membantu orang yang berjuang untuk nyawanya."
"Oke, kalau begitu kita bantu biaya rumah sakit sekarang. Dan semuanya selesai. Bagaimana?" Dava akhirnya pun menyetujui.
Mungkin jika untuk sebatas biaya rumah sakit akan jauh lebih baik mereka bantu. Setidaknya urusan mereka dengan keluarga Deni tidak akan berkepanjangan kedepannya.
Ruth yang puas dengan jalan sang suami langsung menganggukkan kepala cepat dan tersenyum puas.
"Ayo, sudah jangan sedih lagi. Lihat, matahari jadi ikut tidak cerah melihat tuan putrinya sedih." Dava menatap silau mentari yang mulai redup saat itu.
Dava langsung menggandeng tangan sang istri menuju ke mobil dan berlalu ke arah rumah sakit di mana Dina di rawat saat ini.
__ADS_1
"Dav, itu Kak Berson..." Ruth menunjuk sosok lelaki yang tengah di peluk oleh seorang wanita dengan suara tangisan yang menggelegar.