Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 179. Nekatnya Dava


__ADS_3

Wajah syok tak bisa lagi terlihat tenang seperti biasanya. Kini Tarisya hanya bisa menatap penuh tanya sang suami. Ia benar-benar tidak tahu apa maksud dan tujuan suaminya berkata seperti ini.


"Ayah...Jeff besar bersama kita. Dia lahir di rahim Bunda. Bagaimana mungkin Ayah mengatakan jika dia bukanlah anak kita?" tanyanya tak pernah menyangka selama ini.


Tuan Wilson yang tampak sangat sulit untuk berbicara berusaha sekuat tenaga menarik napasnya dalam. Ia kembali menatap wajah sang istri dengan susah payah, tak perduli jika keringat di tubuhnya begitu deras mengalir karena usahanya untuk menggerakkan seluruh tubuh.


"Bukan hanya Jeff, Bunda. Shandy juga...dia bukanlah anak kita..." kini ucapannya sudah terdengar jelas di indera pendengaran sang istri.


"Hah? a-apa? hehehe Ayah bercanda apa ini? Ini tidak lucu, Yah? Sungguh ini semua tidak lucu untuk Bunda." Tarisya sampai terduduk lemas di sisi ranjang menatap penuh arti pada sang suami yang masih duduk di kursi rodanya.


"Maafkan Ayah, Sya..." tuturnya lirih penuh dengan rasa sesal.


Sekian tahun ia menderita dengan sang istri, namun baru saat ini ia berani jujur pada wanita di depannya. Bahkan hampir saja mereka tak ada di dunia ini lagi tanpa tahu kebenarannya.


Tarisya menggelengkan terus kepalanya dengan tatapan kosong ke arah lantai di depannya. Ia menundukkan kepalanya saat duduk di sisi tempat tidur miliknya. Rasanya sungguh masih sangat sulit untuk mempercayai kebenaran yang di ucapkan sang suami tentang asal mula sosok anak pertama mereka.


"Dimana makam anak kita, Ayah? Dan Shandy? apa yang terjadi pada anak kita saat itu?" ia tampak begitu sedih mendengar pengakuan sang suami yang menceritakan seluruh awal mula ia membawa Dava ke dalam rumah tangganya.


Meski sangat sulit untuk berbicara, Tuan Wilson tetap berusaha keras untuk menjelaskan semuanya. Ia tidak ingin menunda waktu lagi untuk menyembunyikan semua rahasia besar ini pada sang istri. Sungguh rasa bersalah itu benar-benar ia rasakan saat ini.


"A-anak kita...Ayah makamkan di...di makam dekat rumah sakit, Sya. Maafkan Ayah, Sya." ia menundukkan kepalanya penuh sesal. Tak sanggup lagi akhirnya air mata pun ikut jatuh saat itu juga.


Ia sangat sedih melihat ekspresi syok sang istri, meski luka itu mungkin tidak akan membuat bahaya kejiwaan istrinya. Berbeda halnya jika sang istri tahu saat baru melahirkan mungkin semua kemungkinan terburuk akan terjadi pada mereka.


"Shandy adalah anak dari..."


"Dari siapa, Yah? kemana anak kita yang sebenarnya?" Tarisya akhirnya bernada suara tinggi tanpa ia sadari.


Rasa penasarannya membuat dirinya lupa jika sang suami masih kesulitan untuk berbicara. Ia pun berjalan mendekati suaminya dan menggenggam erat kedua bahu sang suami. Di tatapnya begitu dalam mata tak cerah itu.


"Katakan, Ayah! Dimana anak kita yang sebenarnya?" Tuan Wilson menangis menundukkan wajahnya tanpa berani menatap wajah wanita yang selama ini mendampinginya dengan setia.


Ia bahkan tak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya tentang masalah yang kedua ini. Begitu banyak luka yang ia sembunyikan dari sang istri selama mereka bersama.


***


Malam akhirnya terlewatkan dengan begitu banyak tangis yang terjadi di kediaman Tuan Wilson. Tak ada yang bisa selesai malam itu juga. Semua masalah yang terjadi begitu sangat sulit untuk terpecahkan dengan cepat.


Bahkan pagi ini pun, sosok wanita yang masih setia menunggu sepanjang malam pria yang masih belum sadarkan diri tampak menahan rasa kantuk di matanya.


Kekhawatiran yang teramat besar ia rasakan kala melihat wajah yang penuh dengan memar di sana.


"Ruth," sapa suara lirih seorang pria yang terdengar berat dan serak.

__ADS_1


"Kak, Kakak akhirnya bangun juga." Ruth segera berdiri dan memeriksa kening milik Dava yang masih tertempel dengan alat kompres dengan sempurna.


"Uhuk uhuk uhuk..." Dava terbatuk sembari memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.


Dengan sigap Ruth bangun dari duduknya dan mengambilkan segelas air  putih yang sedari malam sudah di siapkan oleh Mbok Nan.


"Kak, minumlah. Ayo." ia pun membantu Dava untuk bangun dari tidurnya dan menyodorkan gelas pada sang mantan suami.


Sungguh sedih yang Ruth rasakan saat melihat pria yang sangat ia cintai sakit terbaring lemah saat ini.


"Aku merindukanmu, Ruth..." tutur Dava menatap sendu sang mantan istri yang tampak begitu perhatian padanya.


"Kak, maaf...aku- aku mau-" ia berbalik ingin pergi dari kamar namun tangan Dava begitu sigapnya menggenggam lengan sang wanita pujaan hatinya.


"Aku mohon tetaplah di sini..." Tatapan Dava terlihat tampak begitu penuh permohonan.


Kedua pasang mata itu tampak terlihat saling bertatapan begitu dalam. Hanya tatapan namun jelas saling menyatakan rasa rindu yang sangat mendalam.


"Morning, Ayah." seru sosok bocah yang terdengar menggema dari arah pintu.


Ruth dan Dava saling berjauhan dan melepaskan tangan mereka saat melihat sosok bocah kesayangan yang sudah berjalan dengan wajah riangnya.


"Sayang, kamu sudah siap sekolah?" sapa Ruth terlebih dahulu sebelum Putri menghampiri Dava.


Sungguh menggemaskan.


Dava tersenyum melihat tingkah sang anak.


"Hei...jangan cemberut seperti itu, Nak. Ayah baik-baik saja, lagi pula ada Mamah dan yang lainnya yang bisa menjaga Ayah kan?" mata Dava terarah pada sang mantan istri.


Andai semua ucapannya itu bisa terjadi, sungguh ia akan rela menjadi sakit seumur hidupnya.


Wajah sedih Putri pun mendadak cerah kala mendengar penuturan sang ayah. "Hah? Berarti Ayah dan Mamah sudah cintaan lagi dong? asiiik!" ia terlihat mengepalkan kedua tanganya di depan dada dan berloncat sangat gembira.


"Kalau begitu nanti malam kita bisa bobok bareng lagikan, Mah? Ayah? hari ini Putri akan janji bisa juara melukis di kelas. Putri mau kasih nilai bagus Putri buat Ayah biar cepat sembuh." ia bergerak cepat memeluk tubuh Dava dan menggenggam tangan sang mamah lalu menariknya cepat.


Di satukan tangan dua pasangan yang baru saja terpisah itu. Hatinya begitu bahagia pagi ini mendapatkan kabar yang sangat tidak pernah ia duga sebelumnya.


"Mah, Ayah, Putri pergi sekolah dulu yah?" tangan mungilnya mencium kedua pipi sang ayah dan mamah bergantian tanpa mau mendengarkan penjelasan dari keduanya terlebih dahulu.


Entah mengapa Ruth dan Dava mendadak terdiam membisu. Tidak ada yang berani merusak suasana hati bocah kecil mereka pagi itu.


Hanya ada pandangan yang saling bertemu tanpa suara yang berbicara.

__ADS_1


Setelah kepergian Putri kini tertinggal Dava dan Ruth yang berduaan di dalam kamar itu. Keduanya terasa semakin canggung kala tak ada lagi orang selan mereka.


Segera, Ruth mengalihkan pandangannya dan melirik ke arah gelas yang ia lihat tersisa sedikit isinya.


"Kak, aku ingin mengisi air ini dulu." tunjuknya pada gelas kosong.


Tanpa aba-aba tangan lemas Dava berubah menjadi kuat. Ia menarik tubuh yang berperut buncit dan memasukkannya ke dalam pelukannya.


"Kak, apa yang kau lakukan?" Ruth berusaha ingin memberontak meski ia sadar perasaannya jauh lebih menginginkan perlakuan itu sebenarnya.


"Biarkan sejenak, Ruth. Aku mohon." bisik Dava di telinga yang sudah ia cium aroma khas tubuh sang wanitanya itu.


Dava sungguh merindukan aroma ini. Ia bahkan terlihat memejamkan matanya perlahan.


Namun, kesadaran dalam diri Ruth masih jelas menguasai dirinya. Ia tidak boleh meneruskan hawa nafsunya saat ini.


"Kak Jeff, aku mohon hentikan!" berontaknya dengan tenaga yang seadanya.


Lingkaran tangan Dava begitu kuat di tubuhnya. Sesekali pelukan itu terasa begitu intim kala Ruth merasakan ada bagian bawah tubuh Dava yang ia tempelkan sekuat tenaga. Layaknya pria normal, jelas Dava sangat menginginkan hubungan yang jauh lebih dalam dari pada sebatas pelukan saja.


"Ruth, aku mohon ijinkan aku melepas rindu ini...aku mohon, biarkan aku saja yang berdosa, Sayang." Sungguh akal sehat Dava benar-benar sudah tak bisa terkendalikan lagi.


Ia memeluk paksa bahkan tak memperdulikan keadaan sang adik yang sudah kesulitan melepaskan tubuhnya. Seketika ada air mata yang  jatuh di pelupuk mata pria itu, hatinya sedih mendapatkan penolakan dari wanita yang sangat ia cintai.


Dava benar-benar terluka melihat reaksi dari sang adik. Akhirnya dengan perlahan tangannya mulai mengendur dan melepaskan pelukan itu.


Dengan napas yang terengah-engah, Ruth berdiri dari tempat tidur memperbaiki pakaiannya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Namun jelas terlihat ada bekas sentuhan merah di leharnya. Kumis tipis milik Dava terlihat memberikan bekas di leher putih wanita itu.


Ruth segera berlari kecil meninggalkan kamar dimana sang suami berada. Ia tak berani lagi menatap wajah tampan Dava yang berhiaskan corak kebiruan di sana.


"Shandy," sapa sang Bunda yang terkejut melihat anak gadisnya berlari dan hampir saja menabraknya di depan pintu kamar.


Tak ada jawaban dari Ruth, ia berjalan terus melewati sang bunda. Kening Tarisya mengernyit melihat ekspresi sang anak. Ia akhirnya dengan rasa penasarannya berjalan memasuki kamar anak pertama dan mendekat pada Dava.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanyanya masih dengan perhatian lembut.


Dava yang melihat kehadiran sang bunda begitu kaget saat melihat kedua mata yang tampak sembab di sana. "Bunda? Bunda habis menangis?" tanyanya tampak cemas.


"Tidak. Bunda hanya terlalu bergadang saja malam tadi. Bagaimana? Apa kau masih sakit sekali? Jika ya, Bunda akan membawamu ke rumah sakit, Nak." sikap lemah lembut Tarisya membuat siapa saja sangat nyaman menjadi anaknya.


Dava bisa melihat ada gurat kesedihan di kedua mata sang bunda saat berbicara padanya dan menatapnya.


"Apa yang Bunda pikirkan saat ini? Aku rasa ini bukan masalahku dan Ruth..." batin Dava menatap penuh selidik.

__ADS_1


__ADS_2