
Di mulai dari tarikan napas, akhirnya Anjani pun bercerita semua yang terjadi pada keluarganya.
"Hari ini adalah hari pernikahan Papi saya. Wanita itu, saya sangat tahu siapa dia, Bu. Tante...Dia wanita yang menjadi perlarian kekasih saya dulu." Anjani tertunduk dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Sarah dan Wuri pun saling memandang. Mereka masih berusaha mencerna jalan cerita yang Anjani ucapkan.
"Dulu, saya dan kekasih saya putus karena wanita itu. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri mereka berhubungan layaknya suami istri di salah satu kosan teman kekasih saya. Wanita itu sangat jahat."
"Tetapi Papi tidak pernah mau mendengarkan apa yang saya ucapkan, meski saya memang tidak pernah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya."
"Lalu, apa wanita itu sudah meminta maaf padamu?" suara Wuri berucap karena merasa penasaran.
Anjani menggelengkan kepala lemah. "Bahkan dia sendiri menantang saya. Ia mengatakan jika untuk dulu ia akan merebut kekasih saya, dan saat ini ia akan melakukan hal yang sama pada papi."
__ADS_1
"Astaga! Ada yah wanita seperti itu? Benar-benar menjijikkan." maki Sarah tak habis pikir dengan kisah hidup gadis kecil di depannya ini.
"Sekarang apa langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan, Nak?" tanya Wuri lagi.
Anjani lagi-lagi menggelengkan kepalanya tak mengerti. Ia benar-benar tidak memiliki tujuan saat ini. "Entahlah, harus kemana saat ini. Jika saya pulang ke rumah mungkin wanita itu akan menertawakan saya, Bu. Tante. Dia benar-benar sangat senang melihat saya menyedihkan. Sedangkan hari ini mereka mengadakan acara pernikahan mewah di rumah kami."
"Kamu yang sabar yah, Sayang. Untuk saat ini kau bisa di sini dulu bersama dua wanita tua ini." Sarah tersenyum mengatakan ia dan Wuri adalah sosok wanita tua.
"Iya benar yang di katakan Sarah. Sebaiknya untuk saat ini kau di sini saja. Tapi kalau boleh Tante sarankan, sebaiknya setelah keadaanmu kuat, kembalilah ke rumahmu. Wanita itu bisa berkembang biak dengan baik jika tidak ada yang mengawasinya. Setidaknya, kau bisa tetap mempertahankan hakmu sebagai anak di rumah itu. Jangan perdulikan tentang bagaimana harmonisnya papimu dengan wanita itu. Awasi dia, jangan perlihatkan jika kau lemah di depannya. Itu yang harusnya kau lakukan, bukan pergi meninggalkan rumah, Anjani."
"Iya, Tante benar. Aku seharusnya tidak pergi dari rumah. Tapi...untuk hari ini bolehkan aku di sini dulu, Tante?" Anjani menampakkan wajahnya yang sedih itu.
Wuri dan Sarah mengangguk mengijinkannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua memutuskan meninggalkan Anjani di rumah seorang diri karena mereka harus segera berangkat kerja.
***
Sedangkan di sini, Ruth yang bersama dua wanita tampak makan dengan lahap.
Ia makan dengan di bantu oleh sang bunda.
"Makanmu yang lahap membuat Bunda sangat senang, Sayang." tutur Tarisya tersenyum lega.
"Apa Bunda tidak keberatan mengurus ku yang bukan-"
"Sssst. Jangan pernah mengatakan hal itu. Sampai kapan pun, kalian bertiga adalah anak Bunda dan Ayah. Biarkan semuanya tetap seperti ini, Sayang. Jangan ada yang berubah. Bunda ingin menikmati semua momen bahagia bersama kalian. Bunda mohon..." Di peluknya erat tubuh Ruth yang masih duduk bersandar di ranjang pasien itu.
__ADS_1
"Shandy sayang Bunda." ucap Ruth yang membalas pelukan sang bunda dengan air mata yang sudah banjir di matanya.
Dina yang merasakan kedua matanya terasa perih segera menengadah menahan air matanya.